Aku tidak memerlukan alasan untuk jatuh cinta
Kamu ada dengan jawabannya
Aku jatuh cinta dengan sederhana
Kamu ada dengan segalanya
Aku cinta kamu =)
Aku tidak memerlukan alasan untuk jatuh cinta
Kamu ada dengan jawabannya
Aku jatuh cinta dengan sederhana
Kamu ada dengan segalanya
Aku cinta kamu =)
Posted in Kata2... | Tags: aku cinta kamu
Cangkir keramik itu mengepulkan uap panas karena udara di sekelilingnya yang sudah sedemikian dinginnya. Aku menghirup aroma yang keluar dari cangkir itu, menikmatinya mengalir menuju reseptor saraf rasa, menginterpretasikannya sebagai kopi susu hangat. Aku menyeruput cairan manis bercampur pahit dan gurih itu, mengalirkannya ke kerongkongan, dan membuat badan ini sedikit lebih rileks dengan nikotin yang dikandungnya.
Malam itu aku terduduk bersamanya diatas kursi dan meja batu di sebuah taman kecil diatas sebuah bukit. Bukit itu bukan bukit yang besar, namun tempatnya pas untuk menikmati seluruh cekungan Bandung dengan segala kerlap-kerlip lampunya. Bukan, bukan di Dago tempatnya, namun sebuah tempat agak terpencil di kaki Bukittunggul.
Dia melahap pisang goreng yang disajikan dengan sedikit parutan keju dan gula kelapa. Aku tersenyum memperhatikannya. “Apa sih..??!!” aku tertangkap sedang memperhatikannya. Dia tersenyum padaku.
“Gak, hanya kelihatannya kamu menikmati sekali pisang gorengnya…” kataku.
“Iya, enak nih.. mau..??” dia menyodorkan sepotong pisangnya padaku dengan sendok. Lalu aku melahap potongan pisang goreng itu, memang nikmat dalam suasana dingin seperti ini.
Malam ini cerah, bulan pun sedang tidak menampakkan wajahnya, kegelapan yang melingkupi kami, malah menjadikan malam ini semakin cerah. Langit hitam di atas sana sudah bertaburkan sejuta bintang, beberapa membentuk konstelasi dengan berbagai rupa. Garis nebula pun terlihat samar terbentang dari utara hingga selatan langit. Hmmm, benar-benar malam yang sempurna.
“Eh, itu Antares kan…??” Dia tiba-tiba menunjuk pada sebuah bintang kemerahan yang terletak tepat di leher, tepatnya kepala yang menyatu dengan dada, dari kalajengking raksasa yang merentangkan kedua capitnya dan menunjukkan buntutnya yang berbisa.
Aku mengangguk mengiyakan.
“Favoritku belum keluar… Orion si pemburu dengan sabuknya yang terkenal, 3 bintang kembar…” kataku.
“Tentunya, sekarang kemarau… jangan bilang kita akan duduk disini sampai dini hari hanya untuk melihat Orion..??” tanyanya.
“Hahahahaha, tidak, santai… aku akan mengantarmu pulang sebelum dini hari…” aku menjawab. “Lagipula, aku punya favorit lain kok… Cygnus si Angsa…” lanjutku sambil menunjuk arah utara. Terlihat disana angsa dengan leher yang panjang dan merentangkan sayapnya yang lebar, terbang bebas menuju angkasa.
“Memang kamu saja yang punya favorit..?? aku juga punya kok.. Virgo sang perawan…” sahutnya menunjuk sebelah barat. Terlihat seorang gadis cantik tersenyum di barat sana, di kepalanya Saturnus bersinar.
“Hahahaha, kamu gak mau kalah ya..??” kataku. Dia membalasnya dengan mengerenyitkan hidung dan bibirnya padaku.
“Terima kasih sudah mengajakku ke tempat ini…” Dia tersenyum padaku.
“Sama-sama, waktu itu aku sudah berjanji padamu untuk membawamu terbang mendekati langit, dan meninggalkan daratan barang sebentar…” jawabku.
“Hahahaha, bisa saja kamu..” dia tertawa. “Ummm, kadangkala aku pun merasakan ingin meninggalkan daratan dan menyediakan waktu bagi impianku untuk terbang ke langit. Lebih baik terbang mencari impian, daripada menangis saat bersedih. Karena saat kita terbang, kita bisa melihat sebuah titik dari sudut pandang yang berbeda, lain dari sehari-hari yang kita lihat, hingga kadang membuat kita sadar, seharusnya tidak ada alasan untuk kita bersedih” dia melanjutkan.
“Aku pun demikian, saat terbang, akupun bisa melihat duniaku lebih luas dibandingkan yang aku bayangkan sehari-hari. Aku bisa melihat kejadian-kejadian yang tidak biasa aku temukan saat aku berada di daratan…” aku menimpali.
“Tapi jika kita terbang, terkadang tidak hanya menemukan hal yang baik dan bahagia. Kadang kita menemukan hal-hal di sekeliling kita yang tidak berjalan sebagaimana mestinya…” dia melanjutkan.
“Ya, memang, tapi tak ada salahnya kan kita terbang barang sebentar, meninggalkan rutinitas yang kita hadapi sehari-hari…??” aku bertanya.
Dia berhenti berbicara dan melemparkan pandangannya pada cekungan Bandung yang berkelap-kelip dengan gemerlap lampu kotanya. Beberapa cahaya bergerak melalui garis lurus, antrian kendaraan. Langit malam itu memang sempurna, tanpa awan, jendela cakrawala terbentang luas di hadapan kami berdua.
Tiba-tiba dia bangkit dari kursi batu yang dia duduki, berjalan menuju ujung bukit, berdiri disana, tetap memperhatikan Bandung. Aku mengikutinya.
“Hei, kenapa kamu…??” tanyaku.
“Gak apa-apa…” dia tersenyum. Kedua tangannya masuk ke dalam saku sweaternya. Aku berdiri di sampingnya, kami berdua berdiri di ujung bukit itu, di hadapan kami menganga tebing, menyibak, membuka pemandangan malam itu yang dipenuhi gemerlap lampu kota.
Tiba-tiba dia tersenyum sendiri.
“Kamu tahu…?? Sebelum kamu mengajakku kemari, aku sempat berfikir untuk marah padamu di tempat ini…” diam sejenak. “Tapi entah kenapa hatiku berkata lain, hatiku berkata supaya aku tidak marah padamu” dia berkata.
“Ya, aku terlalu emosional, terlalu melihat sesuatu atas dasar pertimbangan hatiku, padahal jika logika aku gunakan, mungkin aku tidak akan memiliki keinginan untuk marah” katanya.
“Tidak ada salahnya melihat sesuatu dengan hati, daripada kamu tidak punya hati, berarti tidak bisa merasa. Aku juga salah, terkadang terlalu melihat kamu dari logikaku. Kadang logika berlebihan membuatku menjadi orang bebal, aku tidak bisa merasa lagi” balasku.
Lalu diam, ya, kami diam memandangi sekeliling kami, takjub akan malam indah ini. Ada kata-kata yang dapat diucapkan dengan diam. Diam bukan berarti berhenti berkata-kata, namun terkadang dengan diam, kita lebih mengerti dan meresapi kata-kata yang tidak keluar secara verbal.
“Haaaaah…” aku menghembuskan nafas, terlihat uap mengepul keluar dari mulutku.
“Huuuuuf…” dia tidak mau kalah. Kami berdua tersenyum, tertawa.
Diam lagi.
“Eh, ada pelangi di mata kamu…” ujarku.
Diam lagi.
“Bhuahahahahahahah..!!! kayak lagu Jamrud aja yang Pelangi di Matamu…” katanya terbahak-bahak.
“Hahahahahaha…” aku mengusap-usap rambut sebahunya yang dikuncir kuda, lalu merangkulnya dalam pelukanku. Dia membalas memeluk pinggangku. Malam itu kami terbang menuju angkasa meninggalkan daratan untuk sementara waktu.
Bandung, 23 November 2009
Aku berlari menutupi kepalaku dengan sweater hitamku. Hujan semakin deras, aku berteduh di sebuah halte bus di pinggir jalan. Beberapa bagian sweater dan tas ranselku sudah basah, aku mengelap kacamataku yang basah dengan kaos putih yang aku kenakan. Beberapa orang terlihat duduk di bangku tunggu halte. Aku duduk di bagian bangku yang masih kosong, di samping seorang anak SD yang mengenakan jaket parasit berwarna biru tua dan menggendong ransel yang kebesaran untuk badan seukurannya. Kedua tangannya memegang ujung bangku, seraya menggayun-ayunkan kedua kakinya yang menggelantung di bawah bangku.
Aku membenarkan posisi kacamataku, melepaskan ranselku dari punggung, dan menyimpannya di pangkuangku. Anak itu masih menganyun-ayunkan kedua kakinya, kepalanya agak menengadah memperhatikan hujan di luar halte sana, matanya menunjukkan dia sedang melamun. Aku hanya diam, menunggu hujan yang mengguyur semakin deras. 10 menit berlalu, aku masih duduk diam terpaku melihat bulir-bulir hujan yang jatuh.
Tiba-tiba anak SD itu berkata. “Kak, kenapa kalo sedang hujan, paling enak itu berteduh, duduk, dan melamun sambil menatap hujan yang turun ya..??”.
Aku tidak langsung bereaksi, aku hanya melihatnya yang masih dalam posisi melamun seperti sebelumnya, namun matanya tidak lagi sedang melamun. “Kenapa ya Kak..??” tanyanya sekali lagi.
Aku melihat ke luar sana, ke arah hujan. Bulir-bulirnya menghantam jalan aspal, menyangkut di daun-daun pepohonan yang ada di seberang jalan sana, kemudian mengalir ke tempat yang lebih rendah dari tempatnya jatuh. Aku agak menengadahkan kepalaku, melihat butir-butirnya yang menggaris, meninggalkan jejak garis-garis hujan, dan membuat dunia sekelilingku kabur.
“Karena hujan itu anugerah…” aku berkata.
Anak itu mengalihkan pandangannya padaku yang kini sedang memperhatikan hujan yang turun di luar halte sana. Dia tersenyum lebar padaku, memperlihatkan gigi-giginya yang kecil. Lalu pandangannya kembali pada hujan yang turun.
“Kalo hujan itu anugerah, kenapa banyak berita yang mengatakan banjir dan longsor dimana-mana saat hujan turun…??” dia bertanya lagi padaku dengan tatapannya tetap pada hujan.
“Emmmmmh…” aku berfikir, namun sulit untuk menjawabnya.
“Karena Tuhan sedang berbicara pada kita kan Kak…??” dia menjawab pertanyaannya sendiri.
“Karena Tuhan berbicara dengan bahasa-Nya sendiri, karena Tuhan ingin kita tahu bahwa sebenarnya Tuhan berbicara dimana saja, kapan saja, namun kadang kita tidak sadar dengan kata-kata yang Tuhan sediakan di sekeliling kita..” dia melanjutkan kalimatnya.
“Bahasa Tuhan itu universal, iya, hujan ini salah satu bahasa-Nya De… karena itu mungkin kita bisa tertegun, melamun saat melihat bahasa-Nya. Saat berteduh dari hujan, kadang tidak ada hal yang bisa kita lakukan. Karena itu akhirnya kita melihat bahasa Tuhan satu ini. Biasanya kita terlalu sibuk dengan hal di sekeliling kita, hingga kita lupa ternyata Tuhan punya bahasa dimana-mana yang dapat kita baca. Kita udah terlalu sombong De, dengan tidak membaca bahasa-Nya…” aku menambahkan.
“Bahasa Tuhan itu indah ya Kak..?” dia berkata.
Aku hanya tersenyum menatap hujan, menikmati hembusan angin dingin yang bertiup melewati formasi hujan.
“Gak hanya hujan, matahari, pemandangan, dan langit yang jadi bahasa Tuhan. Saya, Kamu, dan orang-orang lainnya pun bahasa Tuhan De… Tuhan bisa berbicara kapanpun dimanapun” kataku.
“Berarti dunia itu indah ya Kak..??” tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
Hujan mulai agak reda, garis-garis cahaya matahari sudah mulai terlihat kembali, namun gerimis masih belum mau reda. Awan hitam perlahan pudar, berganti awan putih, dunia yang tadinya kabur mulai terbuka kembali.
“Kamu pulang ke mana De..??” tanyaku
“Aku sedang menunggu kakakku, tadi pagi kami janji untuk pulang bersama, bertemu di halte ini, nampaknya dia pun masih berteduh, menunggu hujan reda..” jawabnya.
Aku kembali tersenyum mendengar jawabannya.
Tak lama, dari seberang jalan, terlihat seorang perempuan seusiaku melambaikan tangannya ke anak SD di sampingku. Rambutnya hitam lurus sebahu, dibiarkannya terurai tak diikat. Dia mengenakan kaos krem berlapiskan jaket coklat dan blue jeans. Tangan kirinya memegang payung lipat, dan tangan kanannya melambai.
Anak SD tadi bangkit dari duduknya lalu memasang caphucon jaketnya.
“Terima kasih ya Kak, sudah menemani saya ngobrol..” katanya sambil tersenyum lepas padaku.
Aku tersenyum.
Dia bergegas, namun aku tahan.
“Eh De, mau nyebrang..?? sini, biar kakak bantu..” kataku sambil menggandeng tangannya dan bergegas menuju zebra-cross dekat halte tersebut.
Perempuan yang diseberangku tadi menghampiri kami seraya tersenyum.
“Sori, tadi kehujanan, jadi Kakak berteduh dulu…” katanya pada anak SD yang sedang kugandeng, lalu tersenyum padaku.
“Terima kasih, udah bantu adik saya untuk nyebrang jalan…” katanya padaku sambil sedikit menundukan kepala dan badannya, berterima kasih padaku.
Aku membalasnya dengan senyuman lagi sambil melepas gandenganku pada anak itu. Mereka berdua berjalan bergandengan memunggungiku, ditemani garis-garis matahari yang menembus barisan awan. Bercak-bercak gerimis masih turun.
Anak itu membalikkan badan lalu tersenyum serta melambaikan tangannya padaku, tangan satunya menggandeng tangan kakaknya. Aku balas melambaikan tangan dan membalas senyumnya.
Haaaaaaah, dunia ini memang indah dan penuh senyuman, jika kita menyisihkan sedikit waktu untuk menikmati dan memperhatikannya. Sore itu berakhir dengan hangat setelah sebelumnya dunia terkaburkan oleh hujan. Sinar hangat matahari terpantulkan dan terbiaskan oleh genangan air dan sisa-sisa air yang menempel dimana-mana, menciptakan sensasi gemerlapan yang hangat. Lalu lintas di jalan mulai padat.
Aku kembali berjalan, menggendong tas ranselku, dan membetulkan posisi sweaterku, berjalan berlawanan dengan arah anak itu dan kakaknya. Aku harap, aku dapat bertemu lagi dengannya suatu saat. Perbincangan sore yang hangat di tengah derasnya hujan.
Bandung, 21 November 2009
OSKM ITB 2005 (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa ITB 2005)
Integrasi dan Pembelajaran…
Posted in Kisah... | Tags: mahasiswa, ospek, pendidikan
Jika Kami bersama, nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta, hening akan terpecah..
Aku, dia dan mereka memang gila memang beda,,
Tak perlu berpura-pura,, memang begini adanya..
Dan kami di sini,,, akan terus bernyanyi…
Dan jika kami bersama nyalakan tanda bahaya..
Musik akan menghentak.. anda akan tersentak!!
Dan kami tahu anda bosan dijejali rasa yang sama
Kami adalah kamu,, muda, beda dan berbahaya..
Lepaskan semua belenggu yang melingkari hidupmu
berdiri tegak menantang di sana di garis depan..
aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang..
untuk mereka yang selalu tersingkirkan..
ketika tiada beban lagi untuk berlari,.
Ketika tiada orang yang akan peduli
Aku dan dia selalu menunggumu di sini..
angkat sekali lagi..
Dan kami di sini,,, akan terus bernyanyi.,..
Dan jika Jika Kami bersama nyalakan tanda bahaya..
musik akan menghentak.. anda akan tersentak!!
Aku, dia dan mereka memang gila memang beda,,
aku adalah kamu,, kita muda dan berbahaya..
Dan kami di sini,,, akan terus bernyanyi…
Dan jika Jika kami bersama nyalakan tanda bahaya..
musik akan menghentak.. anda akan tersentak
dan kami tahu anda bosan dijejali rasa yang sama
Kami adalah kamu,, muda beda dan berbahaya..
Dan jika Jika kami bersama nyalakan tanda bahaya..
musik akan menghentak.. anda akan tersentak!!
dan kami tahu anda bosan dijejali rasa yang sama
Kami adalah kamu,, muda beda dan berbahaya..
Ayo, saatnya yang muda yang bicara…!!! kita ciptakan dunia lebih baik dengan cara yang baik..!!!
Posted in music
Sadarkah manusia ketika kemarau membawa petaka dan hujan membawa bencana…??
Apakah manusia dapat melihat ketika bumi melepaskan kulitnya yang telah rapuh termakan rakusnya tangan-tangan mereka…??
Terbukakah pikiran manusia ketika terjadi ketidakwajaran di alam ini yang membuat kehidupan pun menjadi tidak seimbang..??.
Sensitifkah manusia akan perubahan atmosfer dunia yang semakin panas dan merubah cara pandang manusia…??
Lihatlah ketika tangan-tangan rakus manusia tak berdaya tertelan air, api, tanah, dan udara…
Apakah mereka tetap tidak mau jujur…??
Terlalu egois mungkin untuk sekedar mengatakan YA kepada kebenaran…
Terlalu apatis hanya untuk sekedar melihat keadaan sosial di lingkungannya…
Terlalu terlena oleh gemerlap bintang-bintang dunia yang sangat silau dan menyamarkan kehidupan masyarakat…
Adakah rasa peduli ketika tangan-tangan lapar itu menggapai maut hanya untuk sekedar mencari makan…??
Adakah tindakan yang kita ambil ketika burung-burung manyar itu telah mengincar mangsanya yang telah mendekati ajalnya…??
Masih adakah HATI di dalam dada setiap manusia…???
Masih adakah OTAK di dalam kepala manusia yang konon katanya tak ada bandingannya…???
Masih adakah JASAD yang kuat dalam diri manusia menahan badai kehidupan…???
Masih mampukah manusia bertahan dengan HATI, OTAK, dan JASAD…??
ketidakseimbangan ketiganya yang sedang terjadi…
kemanakah kau gunakan otak itu, apakah hati kau gunakan, dan apakah jasad bergerak atas kerjasama dari otak dan hati…??
Tadi pagi sekitar jam 9an berangkat ke kampus naik motor. Biasanya saya lewat Gerlong, tapi tadi pengen nyari suasana baru, akhirnya saya nyoba rute lain lewat Polban, tembus Sarijadi, Marnath, Pasteur, Kampus. Ada kejadian menarik dan mengundang maut sebenarnya yang saya alami di depan gerbang belakang Polban.
Saya bermotor dengan kecepatan sedang agak cepat, sekitar 30-40an km/jam. menjelang gerbang belakang Polban, dari arah berlawanan ada angkot Polban-Gerlong. Nah, di belakang angkot itu ada motor yang mau nyusul itu angkot. Seperti biasa, dan bisa ditebak, si motor maksa nyusul angkot itu, padahal dari arah berlawanan ada motor saya. Saya kita si motor akan menunggu saya dan dia berpapasan dulu, baru nyusul angkot. Ternyata eh ternyata, si motor tetep maksa buat nyusul itu angkot, dan berhadapan langsung dengan motor saya yang sedang melaju dengan kecepatan sedang agak cepat, 40 km/jam.
Skema Kejadian
Yah, sudah bisa ditebak hasilnya, tabrakan… tapi gak sampe jatoh2an.. hanya tabrakan stang motor saja. tapi sebenernya kalo saya boleh bilang, goblok bener kejadian kayak beginian.. dan pasti pernah dialami oleh semua pengendara kendaraan bermotor di seluruh Indonesia khususnya. Kok bisa..?? padahal udah jelas dari arah berlawanan ada kendaraan lain yang sedang melaju, tapi tetep aja maksa nyusul. Kok tolol..?? dan lebih anehnya lagi, si pengendara motor itu adalah mahasiswa Teknik Sipil PolBan.. Bisa saya kenali dari jaket hijaunya (jaket himpunan Mahasiswa Teknik Sipil PolBan).
Ayolah kawan.. masa kita mahasiswa yang mengaku menyandang kata “maha” di depan kata “siswa” masih berkelakuan ke begitu..?? apa artinya “maha” di depan kata “siswa”..?? jangan lah sampai jadi “Mehe-siswa” yang kelakuannya “mehe-mehe” dan “rehe“. Kapan kita mau jadi bangsa yang tertib berlalu-lintas…?? kapan kita mau berubah..?? kapan kita mau disiplin..??
Maaf, bukan maksud mendiskreditkan sebuah golongan atau komunitas, tapi hanya ingin menulis sebuah pemikiran untuk dievaluasi bersama, karena saya pun terkadang masih tidak disiplin kalo berlalu lintas.. untuk itulah, mari kita bareng2 jadi orang yang disiplin dimanapun kita berada, khusunya di jalan.
Posted in Kisah..., Unek2... | Tags: lalu lintas, mahasiswa
Kapan aku bisa berjalan dengan tenang kembali setelah kembali dari perjalanan yang tak pernah berakhir ini…??
Kapan aku bisa menikmati denyut jantung semesta yang membisikkan kedamaian..??
Angin yang bertiup sekarang terlalu beracun untuk dihirup, merusakkan jiwa dan raga, membuatnya kronis dan tak bisa memilih antara yang baik dan yang benar.
Ketika aku ingin terbang, aku bingung darimana aku harus memulai.
Ketika aku ingin berlari menerjang tirai kelabu itu, aku hanya bisa terpaku disini.
Lalu, aku teringat akan masa kecilku..
pernah aku menciptakan dunia impianku, duniaku dengan segala keidealannya, namun dia hilang seiring dengan kedewasaanku yang abusurd dan relatif..
Terlalu banyak asumsi dan pandangan di sekelilingku..
Kini aku tahu kebuntuan jalanku..
Aku memiliki otak dan logika, namun aku tidak menggunakan hatiku untuk berjalan, dan logikaku untuk bertindak..
hati yang selalu bisa memaknai kehidupan..
aku kehilangan dirinya, kehilangan hati yang selama ini bisa membuatku merasakan kedamaian dan memaknai kehidupan..
Ya, aku tidak memiliki hati sekarang..
Aku tidak bisa memaknai kehidupan, dan aku tidak bisa merasakan apa-apa, kebal dengan segala gelombang kehidupan..
Logika pun sudah sulit untuk diajak berkompromi, memikirkan sesuatu, merancang sesuatu..
semua itu dikaburkan oleh udara-udara beracun yang setiap hari aku hirup..
Kemana aku akan pergi setelah ini untuk mencari logika dan hatiku..??
Aku mencari-cari, namun tak kunjung datang hari itu..
Aku hanya bisa berdiri disini, sendiri.. ditengah kegelapan pikiranku..
Anak-anak adalah korban yang pertama, bagi masyarakat kaya ataupun miskin. Banyak kaum ibu yang mempunyai anak, melalui pembantu, ”menitipkan” anak mereka di depan televisi. Anak-anak cenderung diam dan asyik memelototi televisi, sehingga bisa ditinggalkan sendirian.
Televisi sebagai babysitter tampaknya tidak masalah. Namun berbagai penelitian dan fakta menyebutkan, ”meletakkan” anak-anak, apalagi dalam usia dini sangat berbahaya dari segi fisik maupun psikologis. Aplagi, menonton televisi tidak cukup hanya satu-dua jam, bahkan hingga enam jam. Anak di bawah 2 tahun (dalam sebuah catatan penelitian sebuah akademi dokter anak di Amerika) yang dibiarkan orang tuanya menonton televisi akan menyerap pengaruh merugikan. Terutama pada perkembangan otak, emosional, sosial, dan kemampuan kognitif anak. Menonton TV terlalu dini bisa mengakibatkan proses wiring, proses penyambungan sel-sel safaf di otak menjadi tidak sempurna1.
Ketika lahir, seorang bayi memiliki 10 milyar sel otak. Namun sel-sel itu belum tersambung dan masih berdiri sendiri-sendiri. Agar berfungsi, sel-sel otak tersebut harus saling terkait (wiring). Maksimalisasi proses tersebut diepengaruhi oleh pengalaman simulasi seperti gerakan, nyanyian, obrolan, serta gizi yang baik. Sementara bayi atau anak-anak yang berada di depan televisi tidak akan memiliki pengalaman-pengalaman empirik yang cukup untuk membantu proses wiring. Apalagi televisi memberikan stimulan virtual dengan bersamaan dan cepat.
Gambar-gambar dalam TV – terdiri dari potongan-potongan gambar yang bergerak dan berubah cepat, zoom in dan zoom out yang intensif, dan kilas lampu yang sangat cepat, ditambah sistem kemunculan gambar yang tidak kontinu dan linear – menjadikan pola kerja otak anak-anak akan dieksploitasi sedemikian rupa. Dunia televisi, dengan loncatan waktunya, akan mengganggu daya konsentrasi anak.
Pada anak-anak yang lebih besar, pengaruh terlalu banyak menonton televisi akan berakibat pada kelambanan berbicara. Ini terjadi karena menonton TV tidak menggugah anak untuk berfikir. Apa yang disajikan TV sudah lengkap dengan gambar dan suara. Menyerahkan anak pada televisi bukanlah tindakkan yang bijaksana. Apalagi jika tindakkan itu hanyalah bentuk pengalihan agar orang dewasa terhindar dan terbebas dari beban menemani anak.
Sudah banyak penelitian menyebutkan semakin seorang anak mengkonsumsi televisi, semakin sama nilai yang dianutnya dengan tayangan-tayangan televisi tadi. Anak yang sering menonton kekerasan akan bersifat lebih agresif dan emosional. Anak yang sering menonton tayangan yang hanya memiliki esensi untuk mengikuti mode tanpa mengindahkan nilai-nilai di masyarakat akan berifat lebih egois dan tak mau tahu.
Televisi memang menawarkan serangkaian informasi dan hiburan, namun tidak semuanya bermanfaat. Karena itu, batasi menonton televisi untuk anak-anak. Bagi anak dan remaja, semestinya ada pendampingan saat menonton televisi dan jangan memfungsikan televisi sebagai babysitter.
Pustaka : ”Matikan TV-Mu! – Teror media televisi di Indonesia”

Posted in Buku, Tulis-tulis... | Tags: anak-anak, jiwa, psikologis, Televisi
Satu lagu bagus lagi kalo menurut sayah.. gak seberapa sih, tapi lucu aja ngeliat liriknya.. saya dapet videonya dari Youtube.. nikmatin aja.. ada bonusnya pula.. bintang video clipnya Dian Sastro, hehehehe.. si Neng Geulis..
Indonesia Memang hebat
by Kadri Jimmo The Prinzes of Rhythm
Bila kau pergi menjauh berpaling dariku
Dan niscaya hidupmu akan merugi
Karna aku ini baik dan selalu beruntung
Coba saja lihat garis tanganku
Katanya kau siap setia
Katanya kau mau berkorban
Dan katanya aku calon pemimpin
Setepat di sini
Karna aku terbaik untukmu
Hapuslah air matamu
Karna itu palsu
Namun maaf telah ku berikan
Bila kau mau bersabar
Yakinlah padaku
Masa depan ada di tanganku
Katanya bangsa kita hebat
Katanya negri kita kaya
Dan katanya presiden kita bijak
Cobalah hargai pemimpinmu
Cintai aku
Karna aku pun calon presiden
Calon presiden..
Katanya bangsa kita hebat (Indonesia memang hebat)
Katanya negri kita kaya (Indonesia memang kaya)
Katanya bangsa kita hebat
Katanya negri kita kaya
Dan katanya presiden kita bijak
Cobalah hargai pemimpinmu
Cintailah aku
Karna aku pun calon presiden…
Calon presiden…