Manusia…

Ketika langit membara, segalanya terakumulasi dalam satu
Meninggalkan malam-malam tanpa bintang dan siang tanpa awan
Pepohonan menjerit meminta ampun kepada besi-besi yang telah menggerogoti tubuhnya
Merah, biru, kelabu, warna-warni sehari-hari
Saat jingga menerpa kelabu, semuanya hanya bisa menangis, menunggu cerianya simfoni alam raya yang lama tak terdengar
Gemersik dedaunan menggelitik telinga, hembusan angin menerpa wajah seakan tiada hentinya kesejukan, suara burung terdengar silih berganti bernyanyi riang menanti hari yang begitu cemerlang

Kelabu datang, bintang pun enggan menghampiri, ketika semuanya tenggelam dalam keserakahan. Mentari tidak sehangat dulu, mentari kini marah
Bumi pun lebih sering mengucurkan air matanya yang tak dapat ditampung akar-akar yang menjalar menembus perut bumi
Sang Bayu pun kini berlari menghindari kepala-kepala munafik yang semakin banyak
Tak pernah dia tersenyum pada kita
Burung-burung pun telah bosan menghadapi kerakusan, lebih baik mereka mencari tempat bernyayi yang lebih baik
Gemersik daun telah menjadi suara mesin-mesin yang mengeluarkan awan beracun

Kemana naluri alamiah manusia, ketika semuanya berubah menjadi lebih buruk…
Nalurinya hanya digunakan untuk perut dan hasrat yang menggebu dari nafsu yang memburu
Terkutuklah manusia dengan segala keserakahannya…!!!
Ketika hati kecil tidak sejalan dengan logika dan ketika logika diputarbalikkan oleh kebohongan-kebohongan universal, bahkan ketika manusia berfikir tanpa logika dan merasa tanpa hati…

Musnahlah wahai Manusia…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s