Filmku oh Filmlku…

Terinspirasi sama kata2 temen saya yang mau nonton bioskop bareng saya bilang “Nonton apa ajalah, asal jangan film Indonesia…”

Mmmmh, kenapa yah dia bisa sampe bilang kayak gitu…?? sampe kita, orang Indonesia pun ada yang gak mau nonton produksi kita sendiri…??

Kalo ngeliat kenyataan di lapangan sih mungkin emang bener apa yang dia bilang. Coba aja sekarang liat di SCTV, RCTI, INDOSIAR, atau apalah stasiun televisi lainnya. Acaranya perasaan itu2 doang, sinetron lah, apalah, film2 dan acara2 yang aneh2 kayak Playboy kabel dan sejenisnya (yang menguak privacy orang lain), Mata-mata, apalah… Tambah lagi acara gossip yang gak berenti2nya menguak aib dan privacy orang lain. Inget, orang juga punya privacy dong…

Itu di tv, nah di bioskop, kejadiannya gitu2 juga. Film Indonesia serasa jalan di tempat. Sejak ditriger oleh filmnya Dian Sastro dan Nicholas Saputra itu yang Ada ada dengan cinta, makin banyak film2 yang menguak tentang cerita cinta anak muda. Mending kalo ceritanya yang asik2 dan berbeda, nah ini perasaan gitu2 doang, dan terkadang dalam satu masa tayang di bioskop, ada 2 film Indonesia yang kayak begituan. Ada lagi, film horor, sejak ditriger oleh Jelangkung, makin banyak aja hantu2 bergentayangan di bioskop. Suster ngesot lah, lantai 13 lah, terowongan Cassablanca lah, Susuk Pocong lah, apa lah…

Hmmm, mungkin film2 heroes Amerika bisa jadi bahan study banding juga. Coba sekarang perhatikan, kenapa kostum Spiderman, Superman, Capten Amerika, dkk warnanya Biru ama merah…?? mereka (si pembuatnya) masih punya rasa patriotisme yang tinggi sama Amerika, sampai kostum heroes mereka pun warannya sama kayak warna bendera Amerika. Coba deh, pernah nonton Spiderman3 kan…?? yang adegan Spiderman jumpa pers yang di depan umum itu. Dia loncat ke panggung dari gedung yang backgroundnya bendera Amerika lagi berkibar. Mmmmh, pinter banget tuh sutradaranya… Heroes yang berkibar bersama bendera kebangsaanya sendiri.

Itu masalah jenis filmnya. Sekarang kita bahas sisi konsumennya. Sekarang udah jarang film2 atau acara di TV yang gak memperhatikan konsumennya. Sinetron2 malah jadi konsumsi anak2 SD dan TK. Padahal kan adik2 kita masih dikatakan belum boleh mengkonsumsi jenis film dengan alur yang kayak sinetron. Mereka masih perlu film yang bagus untuk ditiru oleh mereka. Karena kecenderungan anak2 adalah mengikuti dan mencoba apa yang indera mereka rasakan, melihat, mendengar, mencium, merasa, dll. Nah, kalo yang ditiru adik2 kita itu jenis2 sinteron Indonesia (yang notabene udah pada tau lah kayak gimana sinetron Indonesia) makin lah bakal tercipta generasi Indonesia sinetron (hahaha, emang ada…??).

Konsumsi lagu anak2 Indonesia pun udah masuk ke golongan dewasa. Jablay lah, apalah lagunya. Kalo jaman saya kecil dulu masih ada Sherina, Joshua, Trio Kwek2, Agnes Monica (yang sekarang wooow, hehehehe), saha lah, lupa… Emang udah gak ada yah Insan pertelevisian di Indonesia, terutama pengusaha perfilman yang memikirkan konsumennya yang terdiri dari berbagai tingkatan umur…??? atau mereka cuman nyari duit doang kali yah, dan membawa budaya konsumtif dan kapitalis pada budaya Indonesia… kasian adik2 kita dan kita juga yang hanya jadi korban dari proyek perfilman Indonesia… jadi konsumen buta… setuju atau enggak, film2 Indonesia sekarang udah mengajarkan budaya kapitalis modern ke bangsa Indonesia. Meciptakan kita konsumtif, dan pola berfikir yang sempit.

Ada rasa pengen mendukung majunya perfilman Indonesia, tapi kok si film Indonesianya sendiri gak mendukung buat dia untuk didukung semua orang yang ada di Indonesia yah…??? film yang hanya diperuntukkan untuk golongan tertentu di Indonesia yang saat ini lagi beredar…, gak melihat keanekaragaman dan kekompleksan masyarakat Indonesia. Dengan melihat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang belum bisa lepas dari televisi, maka jika dibiarkan terus gini, justru dari keanekaragaman bangsa kita yang jadi aset bangsa akan perlahan menjadi terintegrasi ke arah penyeragaman pola berfikir yang di dapat dari tontonan sehari2 di televisi. Jadi, kata lainnya terjadi simplifikasi pola berfikir masyarakat yang terinspirasi sama acara2 film di TV, dan bisa aja salah satu penyebab generasi instan Indonesia.

Hmmmm, itu sih terserah pendapat kawan2. hehehehehehh =)

One thought on “Filmku oh Filmlku…

  1. semoga suatu hari semua akan membaik…dan anak2 dapat menonton dengan bebas lagi…dan ortu2nya juga bisa menikmati tontonan bermutu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s