Pengaruh Buruk Televisi

Meskipun lebih baik daripada anak-anak dalam proses penangkapan abstraksi yang ditayangkan televisi, tetap saja remaja berada dalam kondisi psikologis yang kritis dalam dirinya. Media televisi dengan berbagai kepentingan dan keuntungannya justru memanfaatkan situasi ini.

Proses identifikasi diri yang memenuhi seluruh gerak dan impulsi remaja justru dimanfaatkan atau dijinakkan oleh media televisi untuk menciptakan ketergantungan. Remaja Indonesia dipaksa untuk tidak menjadi dirinya, melainkan menjadi menurut kehendak kepentingan. Berbagai agenda kepentingan yang disodorkan padanya adalah untuk menciptakan ketergantungan.

Hal ini akan menjadikan kaum remaja menjadi pribadi-pribadi yang lentur, tidak memiliki pengalaman empirik untuk melakukan empati sosialnya. Pengaruh yang terbesar akan menjadikan remaja menjadi pribadi-pribadi yang pasif, tidak memiliki keberanian berekspresi, karena televisi telah memenuhi segala kebutuhan impulsi secara virtual.

Bayangkan saja, para remaja yang berjam-jam bisa menjadi ekspresif dan jagoan baik dalam lomba F1 atau kompetisi sepak bola dalam permainan virtual, tetapi sama sekali menjadi remaja yang jinak di arena dunia yang riil.

Kenyataan sosial di sekitarnya telah dikompres oleh media televisi dengan mereduksi kekayaan kemungkinan dan nilai yang terkandungnya. Remaja dengan demikian akan ketergantungan, kehilangan daya imajinasi, dan fantasinya. Apa yang diangankannya bukanlah imajinasi dan fantasi dalam arti sebenarnya, namun lebih dalam upaya mendapatkannya secara mudah, sebagaimana dia dilatih dan dibiasakan mendapatkannya secara virtual.

Berbagai tayangan sinetron dengan tema remaja berkecenderungan mengeksploitasi kehidupan remaja dalam satu sudut pandang semata. Kalaupun muncul plot cerita, terjadi simplifikasi, penyederhanaan kasus-kasus tipologis dan mengabaikan sisi psikologis dan sosiologisnya. Akibatnya remaja tidak memiliki kesempatan mempelajari hakikat hidup yang sebenarnya, selain hanya melihat yang serba artifisial. Berbagai kebetulan dan kemudahan dalam cerita memberikannya kenyataan virtual dalam kesehariannya. Dan ketika kenyataan hidup sebenarnya yang lebih keras datang, remaja kita mudah putus asa, kecewa, dan patah arang.

Demikian pula dalam pola pembentukan tipe idealitas, media televisi bisa menjadi pelaku atau sekedar agen perantara bagi munculnya konsepsi-konsepsi tertentu. Contohnya, perempuan yang cantik adalah perempuan yang langsing, kulit putih, rambut hitam panjang lurus diurai, dan sejenisnya.

Pengaruh yang kentara, remaja tak lebih hanya akan tetarik pada persoalan-persoalan DIRInya, dan kurang peka akan perilaku dan kehidupan sosialnya. Maka tak aneh bila remaja zaman sekarang terlihat lebih egois, lebih acuh, dan tak peduli terhadap keadaan sosial disekitarnya. Demikian pula dalam pembentukan pola idealitas, semua tayang televisi merupakan PEMBENARAN, sehingga remaja tidak bebas memilih dan membentuk idealisme dirinya masing-masing, hidupnya terkekang, tidak bebas.

Pustaka : ”Matikan TV-Mu! – Teror media televisi di Indonesia

matikan-tvmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s