Sepenggal kisah di Pesisir Pantai Selatan…

Malam sudah melingkupi langit, sisa-sisa cahaya matahari tenggelam masih terlihat di ufuk barat sana. Air laut mulai merangkak naik ke daratan, saatnya pasang. Malam ini termasuk malam tengah bulan islam, tak heran jika bisa terlihat sebuah lingkaran putih di langit yang kelam, bulan. Bukan bulan purnama yang bulat penuh, namun hampir penuh dengan sedikit cekungan yang tidak sempurna pada bulatannya. Ombak berderu menghempas garis pantai selatan Jawa Barat, berusaha mencapai daratan, namun kemudian kembali ke lautan, menghasilkan buih-buih air laut sepanjang garis pantai. Ombak-ombak kecil berlari kecil meniti pasir-pasir putih pantai, menerpa-nerpa dua pasang kaki yang sedang berjalan menyusuri garis pantai.

Kerlip cahaya perahu-perahu nelayan yang sedang bersiap menangkap ikan di samudra hindia sana bergerak-gerak kecil bagaikan kunang-kunang kecil yang terombang-ambing di tengah lautan. Di sebelah kanan dua pasang kaki itu deretan gubuk-gubuk penduduk pesisir pantai selatan Jawa Barat yang masih terbilang perawan memancarkan cahaya remang-remang dari lampu dengan daya yang kecil. Penerangan utama yang juga menerangi kelamnya malam berasal dari bulan yang belum penuh, menggantung dalam kegelapan di atas sana.

Kedua pasang kaki itu bergerak seirama, berjalan, terhempas-hempas oleh ombak kecil. Satu pasang kaki milik seorang laki-laki, dan satu pasang lagi milik seorang perempuan. Jejak kaki yang mereka tinggalkan di atas pasir itu memanjang di belakang mereka, kemudian hilang kembali ditelan ombak. Kedua orang itu sedang berbincang sambil mereka berjalan berdampingan.

“Haaaaaah…” laki-laki itu merentangkan kedua tangannya, menghirup udara pesisir, menikmati hembusan semilir angin yang menerpa wajahnya.

“Kalo dipikir, kita ini hidup di tempat yang indah ya…” diam sejenak,

“Tapi banyak orang yang belum bisa memelihara tempat indah ini… atau bahkan banyak orang yang belum tau kalo tempat dia tinggal adalah tempat yang paling indah…” laki-laki itu berbicara.

“Hmmm, iya, tempat ini salah satu tempat yang buat aku takjub waktu aku melihat untuk pertama kalinya…” si perempuan menjawab.

“Dan tempat ini juga yang membuatku takjub dengan orang yang ada di sampingku saat ini…” laki-laki tadi membatin.

Di depan mereka ada buah kelapa yang berguling terhempas-hempas ombak. Laki-laki itu berlari kecil, kemudian memungutnya.

“Aku pernah mendengar cerita dari guruku tentang buah kelapa… Buah kelapa itu buah yang sangat baik dan rendah hati. Dari mulai kulitnya, sabut kelapa bisa jadi ijuk yang berguna buat manusia, batoknya yang keras bisa menjadi hiasan, mangkuk, bahkan dibakar untuk dijadikan arang. Saat masih muda, daging buahnya bisa kita makan, air kelapanya yang mengandung banyak cairan isotonic bisa kita minum, belum selesai sampai situ, meskipun sudah dimakan usia, kelapa tua, kulitnya bisa kita serut, kita peras, hingga keluar santan. Meskipun sudah diserut, sudah diperas, diambil sarinya, dia tidak menyesal, karena dia masih bisa berguna untuk diolah kembali menjadi kue-kue kelapa yang diolah ibu-ibu rumah tangga. Aku ingin seperti buah kelapa ini, semua bagian tubuhnya berguna buat orang lain…”

Perempuan itu tersenyum mendengar perkataan lelaki yang dari tadi berjalan di sampingnya itu. Dia tahu, laki-laki ini adalah orang baik, orang yang punya mimpi bahwa suatu saat dunia ini akan menjadi dunia yang penuh dengan kebaikan, meskipun sekarang mereka hidup di dunia yang orang-orangnya sudah sulit membedakan antara benar dan salah. Dia duduk di atas pasir, menekuk lututnya, kemudian memeluk lututnya, memperhatikan laki-laki yang ada di hadapannya melemparkan buah kelapa yang tadi dia temukan ke lautan sana. Kelapa itu terombang ambing mengikuti gerakan gelombang laut, semakin lama semakin menjauhi pantai.

Laki-laki itu berlari kecil mendekati si perempuan, dia duduk di samping perempuan itu yang masih memeluk lututnya. Laki-laki itu duduk selonjor kaki dan menaruh tangannya di belakang badan, sehingga kedua tangannya menahan badannya yang miring ke arah belakang badannya.

Laki-laki itu melihat ke atas langit yang sudah gelap, dia melihat bulan tak sempurna itu di tengah kegelapan langit, sangat kontras. “Malam ini akan jadi malam yang cerah…”

Perempuan itu diam, dia hanya mengiyakan tanpa bersuara, dia terlalu menikmati alunan deburan ombak yang menghantam pantai. Dia merasa ringkuh, ada rasa lain saat laki-laki itu duduk di sampingnya. Ada aura lain yang membuat sel-sel di tubuhnya bekerja lebih giat, membuat aliran darah ke jantungnya semakin kencang, ya, jantungnya berdegup kencang. Dia belum mengenal lelaki itu terlalu lama, namun sudah banyak cerita yang mereka habiskan bersama, disitu juga intensitas dirinya bersama dengan lelaki itu semakin sering. Tak jarang mereka duduk-duduk seperti saat ini, bercerita tentang keluarga, dirinya, lelaki itu, sahabat-sahabat mereka, bahkan berbicara tentang analogi-analogi dari falsafah hidup, karena tidak jarang mereka berbicara bagaikan layaknya seorang filsuf dari negeri romawi.

Hingga dia menyadari ada ketertarikan sendiri dari laki-laki ini dalam perspektifnya. Perempuan itu jatuh cinta.

“Ah, bukan, entahlah, seperti cinta, namun berbeda rasanya, berbeda kehangatannya…” batinnya.

Laki laki itu masih menatap langit bersama bulannya. “Kenapa ya, matahari identik dengan laki-laki, bulan identik dengan perempuan…??” katanya.

“Mmmmh, matahari itu identik dengan kekuatan cahayanya, panasnya, dan seolah melambangkan keberanian dari cahayanya. Kalau bulan, dia anggun, dia membuat orang kagum bukan dengan kekuatan cahayanya, namun keindahan cahayanya, tidak sakit kalau kita melihat dirinya…” perempuan itu menjawab.

“Jadi kalau begitu, perempuan itu tidak kuat…??” laki-laki itu menimpali.

“Bukan berarti perempuan itu lemah… bahkan dalam beberapa hal perempuan itu lebih berani, lihat saja, bulan berani bercahaya dalam kegelapan, menerangi orang-orang yang takut akan kegelapan, matahari memang kuat juga hingga cahayanya menerangi seluruh penjuru dunia… Laki-laki dan perempuan sama-sama kuat, tapi penempatan dari kekuatan mereka ini berbeda. Laki-laki relative lebih berani untuk berkelahi contohnya, perempuan berani untuk melahirkan, karena belum tentu jika laki-laki disuruh melahirkan, dia berani… Semua itu ada perannya masing-masing di dunia ini. Satu hal yang perlu dijalani agar hidup ini seimbang ya harus sesuai dengan perannya masing-masing. Jika malam diambil alih matahari, bisa ribut orang satu bumi, semuanya harus mengerti perannya di dunia ini. Jadi, dia dan komponen lainnya bisa saling mengerti dan menjalankan kehidupan ini dengan baik…” perempuan itu berbicara.

“Oh iya, berbicara masalah peran, ternyata kalau dipikir-pikir manusia ini bisa memainkan banyak peran di dunia ini ya…?? Tergantung dia dalam situasi seperti apa…” laki-laki itu kembali berbicara.

“Ada orang yang memainkan peran untuk mendapatkan pengakuan dari orang, mendapatkan pujian dari orang di sekitarnya. Padahal bukan itu yang dicari dari peran. Kita ini hidup dalam sistem social, dan kita ini, tiap orang punya perannya masing-masing. Kita memainkan peran adalah untuk menjalankan sistem itu kan…?? Yah, sistem yang lebih globalnya, sistem kehidupan manusia deh… hehehe…” perempuan itu berkomentar.

Laki-laki itu kembali tersenyum mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut perempuan yang ada di sampingnya. Dia tahu, dia sedang jatuh hati pada orang yang ada di sampingnya. Ada rasa yang berbeda yang dia rasakan saat berjalan bersama perempuan ini. Dia pun tahu malam ini akan menjadi malam dimana dia akan mengungkapkan segalanya yang dia rasakan selama bersama perempuan yang disampingnya ini. Dia berharap keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang tidak merugikan siapapun.

“Bicara tentang hidup, kita ini beruntung masih bisa dikelilingi orang-orang yang kita sayangi, orang-orang yang bisa kita ajak berbicara dari hati ke hati…” laki-laki itu mulai bingung berbicara apa.

“Maksudnya…??” perempuan itu bertanya.

“Gimana yah…?? Selain seseorang memerankan peranan individu, dia pun kadang butuh berperan bersama orang lain dalam suatu adegan kehidupan… Kadang ada adegan dimana orang tidak bisa berperan sendiri-sendiri, dia butuh lawan main dalam memainkan adegan itu…” laki-laki itu berkata.

Perempuan itu diam seribu bahasa, dia mulai mengetahui arah pembicaraan mereka selanjutnya. Karena saat seperti inilah biasanya perempuan diam, mendengarkan. Pandangannya melihat ke arah lautan, menembus kegelapan yang semakin pekat.

“Yang aku maksudkan dalam pernyataanku tadi adalah aku sendiri… Aku butuh orang yang bisa diajak untuk memainkan sebuah adegan yang ingin aku perankan…” laki-laki itu melanjutkan perkataanya.

“Tapi ada sesuatu hal yang membuatku bingung untuk mencari orang itu. Aku belum yakin orang itu ada saat ini, meskipun sebelumnya aku mengira bahwa aku menemukan orang itu…”

Perempuan itu merasakan angin yang berhembus menerpa wajahnya, perasaan yang dari dulu dia rasakan akan terbuka sedikit demi sedikit, namun dia pun masih berfikir akan perasaanya itu, dia perlu kompromikan dahulu dengan perasaanya yang lain. Ada sesuatu yang mengaduk-aduk isi hatinya saat ini.

Dia menyadari bahwa dia jatuh hati dengan lelaki ini, namun ada satu hal yang membuat dia belum bisa menerima bahwa lelaki ini yang dia cari selama ini.

“Lalu aku menyadari kalau orang yang dulu aku cari untuk menemaniku berperan dalam adegan itu akan lebih baik jika menemaniku dalam adegan lain saja…”

Perempuan itu semakin tidak mengerti apa yang dimaksud lelaki ini. Dia merasakan kebingungan dalam pembicaraan laki-laki itu, dan kebingungan juga dia rasakan saat ini.

“Aku menyukaimu…”

Ada sunyi yang mengambil alih. Lalu suara deburan ombak terdengar memecahkan kesunyian. Saat itulah semua rasa tercurahkan, hanya dengan dua kata, namun bisa menginterpretasikan perasaan keduanya.

Perempuan itu masih terdiam, menunggu kelanjutan dari kata-kata laki-laki yang ada di sampingnya. Dia pun masih bingung dengan kata-kata yang akan dia ungkapkan pada laki-laki itu. Karena perasaanya mengatakan lain. Dia mencoba mencari kata-kata yang baik, bukan untuk membuat dirinya dan laki-laki itu merasa dirugikan.

“Tapi, ternyata aku menyadari…” kata-kata laki-laki itu terputus.

“Aku menyadari bahwa kamu lebih berharga daripada hanya untuk dicintai…”.

“Sekali lagi, aku bilang aku menyukaimu dengan segala perasaanku, seorang laki-laki terhadap perempuan…”  Putus lagi.

“Tapi aku menyadari bahwa kamu akan lebih berharga bukan untuk itu… Aku menyadari kamu akan lebih berharga untuk menjadi sahabatku…” Ombak kembali pecah di pantai itu.

Perempuan itu tertunduk pada lututnya, entah harus berkata apa. Dadanya sesak, panas, matanya berair, selanjutnya, satu butir air mata jatuh dari matanya yang tertutup, tersembunyi oleh kedua tangannya yang masih memeluk lututnya. Tapi dia sadar ada kata-kata yang juga harus ia sampaikan pada laki-laki itu. Lalu, perempuan itu menegakan kepalanya, memandang lekat mata laki-laki itu, lalu, mata keduanya bertemu.

“Aku juga menyukaimu dari dalam hatiku…”. Hanya itu yang keluar dari mulut perempuan itu. Sunyi kembali, hanya suara ombak yang terdengar.

Laki-laki itu menyadari perempuan disampingnya lebih berharga, bahkan sangat berharga. Bukan untuk dia cintai sebagai sepasang kekasih, tapi untuk dia cintai sebagai sepasang sahabat. Terkadang sahabat akan lebih berharga dari seorang kekasih. Dan laki-laki itu tidak mau kehilangan perempuan disampingnya sebagai seorang sahabat. Sudah terlalu banyak rasa tercurah dengannya, sudah terlalu banyak kejadian yang mereka alami, dan rasanya peranan mereka akan baik dalam konteks sahabat, bukan kekasih.

“Tapi, jika itu pilihanmu, aku menerimanya…” perempuan itu tersenyum, namun air matanya semakin deras membanjiri pipinya.

“Hei… kamu jangan mengeluarkan air mata karena aku…, aku tidak pantas untuk ditangisi…” laki-laki itu tersenyum pada perempuan itu, mencoba menghibur. Laki-laki itu mengusap pipi perempuan itu yang dibanjiri dengan air mata. Perempuan itu tersenyum

“Aku menangis tidak  karenamu…, aku menangis, karena aku seorang perempuan…”

Laki-laki itu membalas senyumnya, dia mengerti apa yang dimaksud perempuan itu. Dia mengusap kepala perempuan yang ada disampingnya itu. Perempuan itu memiringkan kepalanya, bersandar di pundak laki-laki itu. Kepalanya masih diusap oleh laki –laki itu.

“Terima kasih untuk semuanya…” perempuan itu berkata sayup-sayup. Dia kembali tersenyum. Malam itu ada sebuah rasa yang akhirnya tersingkap dari keduanya. Kejujuran dari keduanya telah memulai adegan yang nantinya akan mereka perankan berdua.

6 thoughts on “Sepenggal kisah di Pesisir Pantai Selatan…

  1. ry..link blog eik dung!!!lamanicha.blogspot.com ya?ya?ya? urang oge katipu…. sugan teh kisah hidup pribadi taunya….fantasi semata.

  2. cie cie… lamaaa ga ketemu dan ngobrol nih Ry… jadi hampir lupa kamu teh sentimentil…

    nggak apa2 banyak cewe suka cowok sensitif ko…

    alin link ya blog yah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s