9 matahari

Memang bukan novel keluaran baru, tapi saya baru baca, hehehehe..

Berawal dari ajakan seorang kawan yang sama2 tukang beli buku ke Togamas, saya berangkat ke Togamas bareng dia, saya beli The Magiciannya Michael Scott, dan dia beli 9 Matahari…

Singkat cerita, karena satu dan lain hal, akhirnya Kawan saya ini ngasi buku ini ke saya, heheheh, nuhun ah Gish.. =) alasannya si Doi kurang menyukai gaya bahasanya yang katanya rada “menggurui”

9matahari_cover

Novelnya tentang seorang Matari, mahasiswi ibukota yang mempunyai cita2 tinggi akan pendidikan. Dia yakin bahwa pendidikan bisa merubah dunianya. Terlahir dari keluarga kurang mampu, akhirnya dia berhutang untuk kuliahnya di Bandung.

Terjadi intrik antara ayahnya dan dirinya. Ayahnya menganggap bahwa kuliah itu hanya menghambur-hamburkan uang tanpa ada hasilnya. sedangkan Matari, menganggap bahwa pendidikan itu investasi, merupakan pintu gerbang untuk kehidupan yang lebih baik, meskipun memang membutuhkan waktu yang lama untuk menuai hasilnya.

Novel ini memang kental membahas tentang mahalnya biaya untuk pendidikan, terutama kuliah. Bagaimana besarnya investasi untuk kuliah, bagaimana sulitnya mencari uang untuk menutupi biaya sehari-hari dia di perantauan. Bagaimana dia bekerja serabutan sambil kuliah untuk menutupi biaya kuliah dan hutangnya yang mencapai puluhan juta.

Karena memang, mungkin bagi sebagian dari kita, pendidikan masih merupakan barang mewah (kita harus banyak2 bersyukur akan masih beruntungnya kita yang masih bisa kuliah tanpa bingung mikirin biaya). Minimnya informasi mengenai beasiswa pun terkadang hanya memiliki akses terbatas ke kalangan ekonomi rendah di negeri kita ini. Padahal pendidikan itu adalah jaminan UUD bagi rakyat Indonesia bukan..??

apakah memang ada yang salah dengan sistem pendidikan kita..?? yah, saya gak banyak tau, nanti dibilang sotoy, atau malah ditangkep kayak bu Prita, atut ah.. hehehe…

Yah, lanjut lagi. Gaya penceritaanya lebih seperti catatan harian, memaparkan, sedikit dialog. Tapi, dengan membaca novel ini, saya semakin teringatkan lagi, akan beruntungnya kita yang masih bisa kuliah dibiayai orang tua, gak perlu repot2 mikirin duit kuliah, duit bulanan.. dan saya pun menyadari, bahwa harusnya kita bisa lebih bersyukur.. Karena masih banyak kawan-kawan kita, sahabat2 kita di kampus kita sendiri yang masih bingung besok akan makan apa. kadang uang bulanan pun kurang, akhirnya pinjam ke kawan lain di kampus..

Yah, Novel ini juga menceritakan kehidupan hedonisme yang  lekat/indentik dengan yang namanya kehidupan anak muda, khususnya di Bandung, karena latar novel ini di Bandung. Yap, mungkin hanya sekedar mengingatkan, bahwa disadari atau tidak, gaya hidup orang2 sekarang memang sudah banyak yang konsumtif dan bergaya ala kaum kapitalis.. bukan pancasilais.. hehehe..

Jangan juga takut menghadapi sesuatu, karena masih ada sahabat yang bisa membantu kita, yah, kita masih punya teman untuk menghadapi kesulitan sesulit apapun. Bercerita juga tentang persahabatan.

Yang jelas, cita cita bangsa Indonesia, kata2 UUD 45 untuk “...mencerdaskan kehidupan bangsa...” nampaknya masih jauh jika dilihat dari novel ini, pendidikan masih menjadi barang mewah di Indonesia.

Ah, udahan ah, hehehe, sori kalo reviewnya ngacak dan rada kurang jelas..

but anyway, makasi buat Neng Gisha, udah ngasi buku ini sebagai kado ultah saya kemaren, meski dengan jeda 3 bulan, wkwkwkwkwwk.. =p

3 thoughts on “9 matahari

  1. aku juga suka ri… huehhehe…
    meskipun penderitaanya agak lebai (menurut aku), tapi bener2 jadi pengingat kita buat terus kuliah yang bener.

    betapa beruntungnya kita ri,,,
    huehhehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s