Seonggok Jagung – WS Rendra

Seonggok jagung di kamar,
takkan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya hanya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan…

Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya,

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupannya !

Aku bertanya
Apakah gunanya pendidikan,
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota,
menjadi sekrup-sekrup di Schlumberger, Freeport, dan sebagainya,
kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang
belajar teknik, kedokteran, filsafat, sastra,
atau apa saja,
ketika ia pulang ke rumahnya, lalu berkata :

“Di sini aku merasa asing dan sepi !!”

WS Rendra
P.S. Selamat Jalan Rendra…

Aku bertanya :

apakah gunanya pendidikan,

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing,

di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang

menjadi layang-layang di ibukota,

menjadi sekrup-sekrup di Schlumberger, Freeport, dan sebagainya,

kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang

belajar teknik, kedokteran, filsafat, sastra,

atau apa saja,

ketika ia pulang ke rumahnya, lalu berkata :

“Di sini aku merasa asing dan sepi !!”

One thought on “Seonggok Jagung – WS Rendra

  1. Pembunuhan di Temanggung dan “Pengamat-pengamat Intelijen”
    By Sidney Jones, peneliti merangkap mata-mata Amerika boleh tinggal bebas di Indonesia.

    WS Rendra bukan dibunuh intelijen Indonesia tetapi beberapa penduduk sipil yang lain sudah sering. Saya sebenarnya tidak suka berkomentar dalam blog tetapi saya kira ini saatnya memberi satu dua catatan terpenting termasuk mengenai Hendropriyono, Baringgih, Wawan Purwanto dan Agus Purwadianto, “pengamat-pengamat intelijen”.

    Diklaim bahwa Noordin M. Top sudah tewas dalam serangan kejak tidak berkemanusiaan atas satu rumah penduduk tidak berdosa di sebuah desa di Temanggung dimana tersangka gembong teroris itu diduga menginap. Satu bungkusan menyerupai bungkusan orang mati diangkut keluar rumah itu. Suatu sandiwara atau yang dikata oleh salah satu komentar di blog disini sebagai mirip film The Mission Impossible, atau tepatnya saya kira, The Dark Justice?

    Benarkah bungkusan itu terkandung tubuh tak bernyawa Noordin M. Top? Atau disebut oleh komentar tersebut sebagai tokoh rekaan?

    Untuk menentukan perlu uji DNA dan tidak mudah. Uji DNA terbanyak hanya bisa menentukan bahwa memang seseorang berasal dari ras bule seperti saya sendiri atau dari ras Melayu seperti anda orang Indonesia atau orang Malaysia, atau dari ras Asia seperti anda orang Tionghoa, atau dari ras hitam/negro misalnya dari Papua, NTT atau Afrika dan yang lain, tidak bisa menentukan pasti. Dalam baru tahap itu saja perlu sampel geligi atau komponen tubuh lain dari seseorang, atau melihat hal-hal lain adri anggota keluarga sedarah misalnya seorang anak resmi Noordin.

    Polri kemungkinan menghadirkan ibu atau anaknya, sebab ibunya kemungkinan sudah meninggal tetapi anaknya juga mungkin tidak bersedia. Kalau ada yang bersedia itu bahkan diduga sekadar rekayasa. Permainan terus-menerus ini memicu skeptis kuat di mata masyarakat Indonesia. Mereka terlanjur memahami Jakarta sering membohong publik seperti itu. Polisi pastinya akan berakhir dengan mengklaim telah diuji DNA dan bahwa bungkusan itu memang milik Noordin M. Top.

    Pembohongan begini sudah pernah dibuat dalam kasus serangan atas sebuah rumah di Malang dahulu yang diduga ada Dr. Azahari menginap. Intelijen asing tahu pembohogan ini dan hingga hari ini mereka pura-pura sepakat itu memang salah satunya adalah tubuh mati Dr. Azahari.

    Kalau anda perhati cara penyerangan di Temanggung juga sama dengan dahulu di Malang. Maka kemungkinan akan dilakukan klaim sama bahwa “benar” itu jenazah Noordin M. Top seperti “benar” bahwa dahulu jenazah Dr. Azahari, dengan mengaju “teori tak terbantah” telah diuji DNA.

    Lembaga-lembaga HAM dunia bisa kembali tidak percaya kepada Jakarta seperti masa Orba dahulu, karena presiden saat ini telah membiar individu-individu di kepolisian membohongi publik merekayasa berbagai kejadian pembunuhan.

    Sering karena tekanan Washington, Jakarta sangat ceroboh dan main tangkap pemuda-pemuda tidak bersangkut samasekali terorisme nasional maupun internasional dan melancari pembunuhan sadis kemudian mengklaim yang dibunuh itu adalah teroris-teroris.

    Tentang Hendropriyono, Baringgih, Wawan Purwanto dan Agus Purwadianto. Ini saya kira cukup menarik. Begitu sering muncul di media mereka kemudian disebut sebagai pengamat intelijen (an sich). Padahal sebetulnya mereka suka sekali mencampur aduk opini serampang dengan fakta susuka mereka. Orang tentu senang dan bahkan bangga disebut sebagai pengamat intelijen kalau memang berkomentar berdasar kumpulan fakta yang ditarik kesimpulannya dengan obyektif.

    Hendropriyono sering membuat pernyataan seperti itu dan menyalah sekte Islam terkuat di Arab Saudi, the Wahabi, kelompok aliran Islam berpengaruh yang banyak dianut disana termasuk keluarga kerajaan. Hendro menilai terorisme di Indonesia telah “kawin” dengan gerakan perjuangan Ihwanul Muslimin dari Mesir yang dahulu memberondong hinga mati Presiden Mesir Sadat. Hendro terjebak. Baringgih sangat memalukan mengklaim pengamat intelijen. Baringgih membuat komentar mencuri pernyataan sama oleh Hendro. Baringgih menyalah umat Muslim. Baringgih beragama dari agama kelompok agak minoritas di negeri ini.

    Wawan dan Agus naïf dan malangnya justru yakin betul bahwa yang dibungkus itu tubuh Noordin M. Top.

    Banyak pengamat intelijen di Indonesia, sebuah negara yang masyarakatnya sengaja dan secara subtanstantif memang sengaja dibuat tidak berpendidikan tinggi oleh individu-individu mafia penguasa disni hingga hari ini, membuat kesimpulan ngawur hanya berdasar sumber polisi yang dia percaya tanpa investigasi sendiri. Ini bertentangan dengan riset ilmiah dan intelijen yang baik dan benar yaitu semangat riset research and intelligence quest Barat.

    Kedua sajana tersebut samasekali tidak kritis dan bahkan selalu ikut larut dalam kerja kerangka permainan rekayasa kekuasaan dan tidak tahu pula berbagai agenda jahat bertentangan dengan publik Indonesia dan demokrasi yang justru bermuatan bisnis as usual khas Indonesia seperti yang sering disebut sebagai “UUD” ujung-ujungnya duit rencana pembuatan KTP single elektronik dan penggunaan anggaran luar negeri dan dalam negeri untuk memperkaya jajaran pejabat keamanan atas nama operasi ini dan itu, hingga disini Washington tahu permainan ini tapi masih membiar, dan juga agenda politik tersembunyi yang lain seperti menghindari tugas dan tanggung jawab membangun Indonesia, dengan berbagai pembelokan melawan tuntutan demokrasi yang benar yang tercermin dalam pemilu-pemilu yang benar-benar jurdil.

    Di Indonesia kini bermunculan pengamat intelijen baru seperti virus H1N1. Sebetulnya saya menyesal karena banyak dari mereka hanya binaan dan mudah dimanfaatkan individu-individu dalam kepolisian, militer dan pemerintah. Mereka ada kerja sambilan sebagai pengajar di lembaga militer atau pertahanan dan pemerintah. Mereka takut membuat pernyataan yang sesungguhnya yang tidak sama dengan bos mereka. Mereka ikut membentuk pembohongan publik, yang mengungtung agenda tersembunyi itu dalam masyarakat yang tidak mampu berpikir kritis akibat pendidikan mereka yang dibuat rendah dan tradisi budaya tidak berpikir, mudah melupa dan sangat pemaaf. Sebetulnya situasi semaam ini bisa berubah tergantung pada terutama sekali partai-partai “oposisi” dan partai-partai baru pecundang itu yang apakah berniat mensejahtera rakyat berdasar standar universal atau sekadar mengklaim akan berusaha mensejahtera rakyat. Ini saya kira sebuah kemunduran besar Indonesia di tengah puji-puji basa-basi dan sering palsu dari kami Barat. Ingat siapa sangka Suharto akan jatuh waktu itu walaupun sebelum itu dia juga dipuji-puji Barat. Presiden saat ini semula memulai perubahan dan demokrasi dengan sangat baik, tetapi dia tidak memiliki sumber daya manusia yang pro rakyat hingga berakhir dalam akomodasi tunduk pada permainan individu-individu baru menjabat, yang bermain untuk keuntungan individu. Ini pastinya tidak terjadi kalau saja presiden cermat melihat mereka dan segera memberhenti, tetapi presiden tamkapnya tidak tegas kearah itu dan lebih suka bercuci tangan. Kemudian bagaimana dengan tubuh terbungkus itu apakah milik Noordin M. Top? Pembaca yang budiman disini harusnya sudah bisa tarik kesimpulan dan tidak menerima permainan terus-terusan ini. ****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s