Gempa Jawa Barat, September 2009 – Sebuah catatan survey bangunan

Setelah mengikuti beberapa forum mengenai kerusakan akibat gempa 2 September lalu (terutama di daerah Bandung Selatan, Pangalengan), saya baru tahu kerusakan bangunan yang besar di daerah-daerah ternyata kebanyakan akibat konstruksinya sendiri yang masih kurang memenuhi kaidah bangunan untuk pemukiman. Hal ini disebabkan karena minimnya pengetahuan dan informasi yang diperoleh oleh masyarakat mengenai cara  membangun rumah sederhana tahan gempa. Gempa itu memang tidak bisa dihindari, namun dampak kerusakan yang diakibatkan dari gempa bisa diminimalisir dengan perancangan struktur yang baik.

Sudah kita ketahui bersama kalo Indonesia ini merupakan negara subur dan kaya akan sumber daya alam. Namun, biasanya kompensasi yang diterima dari suburnya alam Indonesia ini diimbangi dengan bahaya bencana alam yang tinggi juga. Indonesia merupakan tempat pertemuan 4 lempeng besar dunia, Asia, Australia, Philipina, dan Pasifik. Hal ini yang menyebabkan Indonesia merupakan wilayah rawan gempa.

Konsep rumah tahan gempa sudah pernah di tulisan saya sebelumnya di Rumah Sederhana Tahan Gempa. Kebetulan, saya ditugaskan untuk memverifikasi data dari Pemda Jawa Barat. Saya dan beberapa teman saya melakukan survey di kab. Bandung. Beberapa Kecamatan yang kami periksa, kebanyakan di daerah Soreang, Pangalengan dan Ciwidey.

Fakta di lapangan yang saya temukan bahwa kerusakan bangunan rumah tinggal adalah banyak rumah yang hanya berupa rumah tembok. Dalam artian, rumah tanpa adanya kolom/rangka/tiang. Inilah kesalahan vital yang banyak terjadi di Indonesia dalam membangun rumah sederhana, terutama di daerah-daerah. Tanpa adanya kolom ini, bangunan rumah bagaikan susunan tumpukan bata yang ditempel oleh mortar. Digoyang dikit, hancur leburlah itu rumah. Saya menemukan banyak rumah yang masih berdiri, tapi jika kita pegang atau kita dorong dindingnya, maka goyanglah itu rumah.

Sebenarnya banyak rumah yang tidak layak huni untuk beban gempa di Indonesia. inilah, mungkin di daerah2 masih kurang penyuluhan, kurang informasi mengenai cara membangun rumah tinggal yang baik.

Ada satu hal yang menarik yang saya alami di lapangan. Rumah Panggung kayu lebih kuat dibandingkan rumah tembok. Sebagian besar, bahkan hampir semua rumah yang kami catat mengalami kerusakan akibat gempa adalah rumah tembok. Sedangkan rumah panggung kayu masih berdiri dengan kokoh (kecuali mungkin di daerah Pangalengan. Ada cerita tersendiri dari Pangalengan).

Kenapa bisa demikian..??

Pertama, rumah kayu relatif lebih ringan dibandingkan dengan rumah tembok. Sedangkan gaya gempa adalah fungsi dari massa bangunan (F=m.a). Rumah bata akan menerima beban relatif lebih besar daripada rumah kayu.

Kedua, Rumah kayu biasanya memiliki sambungan yang baik antar elemen strukturnya. Sedangkan rumah biasa (bata) biasanya memiliki sambungan antar balok dan kolom kurang baik, bahkan seperti yang saya bilang, rumah tanpa kolom, tanpa perkuatan struktur, hanya pasangan bata saja.

Ketiga, Sifat kayu relatif lebih elastis dibandingkan dengan bata dan campuran mortar. Bata dan campuran mortar lebih getas, sehingga begitu dapat beban, responnya langsung pecah, tidak seperti kayu yang masih bisa goyang2 dulu.

Wah, sebenernya budaya Indonesia juga sudah mengajarkan kita bangunan tahan gempa yah..??

Ada hal lain lagi yang saya temukan di lapangan. masalah kali ini adalah masalah data. Ternyata data awal (dari pemda) yang saya peroleh dengan data aktual yang saya dapat di lapangan adalah berbeda. Kebanyakan data yang ada di pemda itu jumlah bangunan yang rusak lebih banyak. Saya tidak bilang bahwa data tersebut di mark up atau apalah itu namanya. Tapi mungkin saja saat survey awal dengan verifikasi yang saya lakukan keadaannya sudah berbeda. Alasan pertama, mungkin banyak bangunan yang sudah diperbaiki sehingga jumlahnya berkurang saat saya verifikasi. Kedua, mungkin kriteria kerusakan (rusak berat, sedang, dan ringan) antara yang saya gunakan dengan surveyor sebelum saya adalah berbeda.

Hal lain yang saya dapatkan adalah ternyata masyarakat di beberapa desa sudah jenuh. Jenuh dengan yang namanya orang asing yang datang ke desa mereka. Karena ada anggapan di masyarakat kalo ada orang luar survey diasosiasikan dengan pemberi bantuan, sementara bantuan belum turun2 ke tangan mereka. Aduh, jadi serba salah juga sebenarnya saya survey kemaren ke desa2, karena asosiasi masyarakat pada kita yang survey pun adalah pemberi bantuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s