Ilmu dan Kehidupan

Teringatkan kembali oleh seorang Khatib shalat jumat di masjid dekat rumah saya barusan. “Dampak gempa bisa diminimalisir dengan pembangunan rumah tahan gempa yang baik..” kurang lebih begitu. Intinya bahwa sudah tidak bisa dihindari kalau Indonesia itu negara dengan potensi gempa yang tinggi sekali. Masalahnya adalah orang2 di Indonesia ini masih belum pandai untuk mengambil hikmah/pelajaran dari kejadian-kejadian yang sudah terjadi.

Khatib tadi mengambil contoh negara Jepang yang bisa mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian alam yang biasa dialami. Jepang membangun rumah tahan gempa, mencerdaskan masyarakatnya untuk aware terhadap gempa, dan lain-lain. Kenapa bisa..?? karena penerapan ilmu pengetahuan jawabannya.

Ya, Jepang sudah mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuannya untuk kehidupannya. Sebuah pelajaran lagi yang orang Indonesia harus ambil. penerapan ilmu pengetauan dan rekayasa. Ya, dampak dari gempa itu bisa di rekayasa dengan ilmu-ilmu yang ada. Contohnya itu tadi, membuat bangunan sederhana tahan gempa.

Sebenarnya, code-code, aturan-aturan untuk membangun bangunan itu sudah ada diperaturan konstruksi Indonesia, untuk rumah sederhana, hingga gedung bertingkat. Hanya yang menjadi masalah itu adalah penerapan aturan, rules-rules, pada saat pembangunan berlangsung.

Orang Indonesia itu sangat tidak DISIPLIN. Aturan udah ada, udah disediakan, tapi tetap saja dilanggar. Karena terkadang suka muncul anekdot “Peraturan ada untuk dilanggar..”. Sebenernya agak-agak goblok orang yang berfikiran seperti itu. Itulah, disiplinnya orang Indonesia itu gak ada.

Aturan pemasangan tulangan dalam gedung itu sudah ada, tapi, yah, namanya orang Indonesia dengan ketidakdisiplinannya itu terkadang mengurangi jumlah tulangan, mengecilkan dimensi kolom, wah, banyaklah error-error yang terjadi di lapangan. Ada asap, pasti sebelumnya ada apinya. Ada akibat, pasti ada akibatnya. Kenapa banyak bangunan yang runtuh saat gempa..?? yah itulah, sebenarnya ilmu rekayasa itu sudah ada, hanya tidak diterapkan pada masyarakat.

Jika kita mau rendah hati dan bercermin pada negara Jepang yang negaranya sudah “Earthquake oriented”, maka bukan tidak mungkin gedung2, rumah2 yang rusak akibat gempa bisa diminimalisir, korban jiwa bisa dihindari. Kita masih belum bisa mengambil pelajaran dari kejadian2 yang sudah kita alami. Kita bisa kok kayak negara Jepang yang kalau diguncang gempa besar, korban jiwanya bisa = 0.

Ayolah, ilmu itu diciptakan untuk kehidupan manusia yang lebih baik bukan..?? janganlah ilmu dikalahkan dengan birokrasi, janganlah ilmu itu kalah dengan anekdot-anekdot dan anggapan2 tidak berdasar di masyarakat, janganlah sepelekan ilmu.

Allah juga menurunkan ayat Al-Quran dalam surat Al-Alaq pertama itu adalah “Iqra..!!!” – “Baca dengan nama Tuhanmu..!!” Allah pun menyuruh kita untuk selalu membaca, untuk selalu belajar, untuk selalu berilmu. Ilmu itu kedudukannya tinggi di hadapan Allah. Ilmu itu salah satu parameter derajat seseorang. Masalahnya, adalah penerapan ilmu itu.

Nampaknya Indonesia harus mulai mengambil hikmah dan pelajaran. Sudah bukan jamannya birokrasi dan koneksi, saatnya ilmu yang berbicara. Mari kita perbanyak ilmu dan ciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik. Aplikasikan ilmu kita yang udah kita dapet di bangku sekolah, bangku kuliah, dan dimanapun itu.

Kadang orang2 berilmu di kita ini masih belum terlalu dihargai, sehingga wajar banyak orang2 berilmu bekerja untuk bekerja di perusahaan asing,  orang2 berilmu masih dianggap sotoy oleh orang yang lebih senior dan tua darinya.

Kapan Indonesia bisa maju Boi..??!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s