Pengaruh Buruk Televisi pada Anak-anak

Anak-anak adalah korban yang pertama, bagi masyarakat kaya ataupun miskin. Banyak kaum ibu yang mempunyai anak, melalui pembantu, ”menitipkan” anak mereka di depan televisi. Anak-anak cenderung diam dan asyik memelototi televisi, sehingga bisa ditinggalkan sendirian.

Televisi sebagai babysitter tampaknya tidak masalah. Namun berbagai penelitian dan fakta menyebutkan, ”meletakkan” anak-anak, apalagi dalam usia dini sangat berbahaya dari segi fisik maupun psikologis. Aplagi, menonton televisi tidak cukup hanya satu-dua jam, bahkan hingga enam jam. Anak di bawah 2 tahun (dalam sebuah catatan penelitian sebuah akademi dokter anak di Amerika) yang dibiarkan orang tuanya menonton televisi akan menyerap pengaruh merugikan. Terutama pada perkembangan otak, emosional, sosial, dan kemampuan kognitif anak. Menonton TV terlalu dini bisa mengakibatkan proses wiring, proses penyambungan sel-sel safaf di otak menjadi tidak sempurna1.

Ketika lahir, seorang bayi memiliki 10 milyar sel otak. Namun sel-sel itu belum tersambung dan masih berdiri sendiri-sendiri. Agar berfungsi, sel-sel otak tersebut harus saling terkait (wiring). Maksimalisasi proses tersebut diepengaruhi oleh pengalaman simulasi seperti gerakan, nyanyian, obrolan, serta gizi yang baik. Sementara bayi atau anak-anak yang berada di depan televisi tidak akan memiliki pengalaman-pengalaman empirik yang cukup untuk membantu proses wiring. Apalagi televisi memberikan stimulan virtual dengan bersamaan dan cepat.

Gambar-gambar dalam TV – terdiri dari potongan-potongan gambar yang bergerak dan berubah cepat, zoom in dan zoom out yang intensif, dan kilas lampu yang sangat cepat, ditambah sistem kemunculan gambar yang tidak kontinu dan linear – menjadikan pola kerja otak anak-anak akan dieksploitasi sedemikian rupa. Dunia televisi, dengan loncatan waktunya, akan mengganggu daya konsentrasi anak.

Pada anak-anak yang lebih besar, pengaruh terlalu banyak menonton televisi akan berakibat pada kelambanan berbicara. Ini terjadi karena menonton TV tidak menggugah anak untuk berfikir. Apa yang disajikan TV sudah lengkap dengan gambar dan suara. Menyerahkan anak pada televisi bukanlah tindakkan yang bijaksana. Apalagi jika tindakkan itu hanyalah bentuk pengalihan agar orang dewasa terhindar dan terbebas dari beban menemani anak.

Sudah banyak penelitian menyebutkan semakin seorang anak mengkonsumsi televisi, semakin sama nilai yang dianutnya dengan tayangan-tayangan televisi tadi. Anak yang sering menonton kekerasan akan bersifat lebih agresif dan emosional. Anak yang sering menonton tayangan yang hanya memiliki esensi untuk mengikuti mode tanpa mengindahkan nilai-nilai di masyarakat akan berifat lebih egois dan tak mau tahu.

Televisi memang menawarkan serangkaian informasi dan hiburan, namun tidak semuanya bermanfaat. Karena itu, batasi menonton televisi untuk anak-anak. Bagi anak dan remaja, semestinya ada pendampingan saat menonton televisi dan jangan memfungsikan televisi sebagai babysitter.

Pustaka : ”Matikan TV-Mu! – Teror media televisi di Indonesia

matikan-tvmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s