Hujan

Aku berlari menutupi kepalaku dengan sweater hitamku. Hujan semakin deras, aku berteduh di sebuah halte bus di pinggir jalan. Beberapa bagian sweater dan tas ranselku sudah basah, aku mengelap kacamataku yang basah dengan kaos putih yang aku kenakan. Beberapa orang terlihat duduk di bangku tunggu halte. Aku duduk di bagian bangku yang masih kosong, di samping seorang anak SD yang mengenakan jaket parasit berwarna biru tua dan menggendong ransel yang kebesaran untuk badan seukurannya. Kedua tangannya memegang ujung bangku, seraya menggayun-ayunkan kedua kakinya yang menggelantung di bawah bangku.

Aku membenarkan posisi kacamataku, melepaskan ranselku dari punggung, dan menyimpannya di pangkuangku. Anak itu masih menganyun-ayunkan kedua kakinya, kepalanya agak menengadah memperhatikan hujan di luar halte sana, matanya menunjukkan dia sedang melamun. Aku hanya diam, menunggu hujan yang mengguyur semakin deras. 10 menit berlalu, aku masih duduk diam terpaku melihat bulir-bulir hujan yang jatuh.

Tiba-tiba anak SD itu berkata. “Kak, kenapa kalo sedang hujan, paling enak itu berteduh, duduk, dan melamun sambil menatap hujan yang turun ya..??”.

Aku tidak langsung bereaksi, aku hanya melihatnya yang masih dalam posisi melamun seperti sebelumnya, namun matanya tidak lagi sedang melamun. “Kenapa ya Kak..??” tanyanya sekali lagi.

Aku melihat ke luar sana, ke arah hujan. Bulir-bulirnya menghantam jalan aspal, menyangkut di daun-daun pepohonan yang ada di seberang jalan sana, kemudian mengalir ke tempat yang lebih rendah dari tempatnya jatuh. Aku agak menengadahkan kepalaku, melihat butir-butirnya yang menggaris, meninggalkan jejak garis-garis hujan, dan membuat dunia sekelilingku kabur.

“Karena hujan itu anugerah…” aku berkata.

Anak itu mengalihkan pandangannya padaku yang kini sedang memperhatikan hujan yang turun di luar halte sana. Dia tersenyum lebar padaku, memperlihatkan gigi-giginya yang kecil. Lalu pandangannya kembali pada hujan yang turun.

“Kalo hujan itu anugerah, kenapa banyak berita yang mengatakan banjir dan longsor dimana-mana saat hujan turun…??” dia bertanya lagi padaku dengan tatapannya tetap pada hujan.

“Emmmmmh…” aku berfikir, namun sulit untuk menjawabnya.

“Karena Tuhan sedang berbicara pada kita kan Kak…??” dia menjawab pertanyaannya sendiri.

“Karena Tuhan berbicara dengan bahasa-Nya sendiri, karena Tuhan ingin kita tahu bahwa sebenarnya Tuhan berbicara dimana saja, kapan saja, namun kadang kita tidak sadar dengan kata-kata yang Tuhan sediakan di sekeliling kita..” dia melanjutkan kalimatnya.

“Bahasa Tuhan itu universal, iya, hujan ini salah satu bahasa-Nya De… karena itu mungkin kita bisa tertegun, melamun saat melihat bahasa-Nya. Saat berteduh dari hujan, kadang tidak ada hal yang bisa kita lakukan. Karena itu akhirnya kita melihat bahasa Tuhan satu ini. Biasanya kita terlalu sibuk dengan hal di sekeliling kita, hingga kita lupa ternyata Tuhan punya bahasa dimana-mana yang dapat kita baca. Kita udah terlalu sombong De, dengan tidak membaca bahasa-Nya…” aku menambahkan.

“Bahasa Tuhan itu indah ya Kak..?” dia berkata.

Aku hanya tersenyum menatap hujan, menikmati hembusan angin dingin yang bertiup melewati formasi hujan.

“Gak hanya hujan, matahari, pemandangan, dan langit yang jadi bahasa Tuhan. Saya, Kamu, dan orang-orang lainnya pun bahasa Tuhan De… Tuhan bisa  berbicara kapanpun dimanapun” kataku.

“Berarti dunia itu indah ya Kak..??” tanyanya lagi.

Aku mengangguk.

Hujan mulai agak reda, garis-garis cahaya matahari sudah mulai terlihat kembali, namun gerimis masih belum mau reda. Awan hitam perlahan pudar, berganti awan putih, dunia yang tadinya kabur mulai terbuka kembali.

“Kamu pulang ke mana De..??” tanyaku

“Aku sedang menunggu kakakku, tadi pagi kami janji untuk pulang bersama, bertemu di halte ini, nampaknya dia pun masih berteduh, menunggu hujan reda..” jawabnya.

Aku kembali tersenyum mendengar jawabannya.

Tak lama, dari seberang jalan, terlihat seorang perempuan seusiaku melambaikan tangannya ke anak SD di sampingku. Rambutnya hitam lurus sebahu, dibiarkannya terurai tak diikat. Dia mengenakan kaos krem berlapiskan jaket coklat dan blue jeans. Tangan kirinya memegang payung lipat, dan tangan kanannya melambai.

Anak SD tadi bangkit dari duduknya lalu memasang caphucon jaketnya.

“Terima kasih ya Kak, sudah menemani saya ngobrol..” katanya sambil tersenyum lepas padaku.

Aku tersenyum.

Dia bergegas, namun aku tahan.

“Eh De, mau nyebrang..?? sini, biar kakak bantu..” kataku sambil menggandeng tangannya dan bergegas menuju zebra-cross dekat halte tersebut.

Perempuan yang diseberangku tadi menghampiri kami seraya tersenyum.

“Sori, tadi kehujanan, jadi Kakak berteduh dulu…” katanya pada anak SD yang sedang kugandeng, lalu tersenyum padaku.

“Terima kasih, udah bantu adik saya untuk nyebrang jalan…” katanya padaku sambil sedikit menundukan kepala dan badannya, berterima kasih padaku.

Aku membalasnya dengan senyuman lagi sambil melepas gandenganku pada anak itu. Mereka berdua berjalan bergandengan memunggungiku, ditemani garis-garis matahari yang menembus barisan awan. Bercak-bercak gerimis masih turun.

Anak itu membalikkan badan lalu tersenyum serta melambaikan tangannya padaku, tangan satunya menggandeng tangan kakaknya. Aku balas melambaikan tangan dan membalas senyumnya.

Haaaaaaah, dunia ini memang indah dan penuh senyuman, jika kita menyisihkan sedikit waktu untuk menikmati dan memperhatikannya. Sore itu berakhir dengan hangat setelah sebelumnya dunia terkaburkan oleh hujan. Sinar hangat matahari terpantulkan dan terbiaskan oleh genangan air dan sisa-sisa air yang menempel dimana-mana, menciptakan sensasi gemerlapan yang hangat. Lalu lintas di jalan mulai padat.

Aku kembali berjalan, menggendong tas ranselku, dan membetulkan posisi sweaterku, berjalan berlawanan dengan arah anak itu dan kakaknya. Aku harap, aku dapat bertemu lagi dengannya suatu saat. Perbincangan sore yang hangat di tengah derasnya hujan.

 

Bandung, 21 November 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s