Malam…



Cangkir keramik itu mengepulkan uap panas karena udara di sekelilingnya yang sudah sedemikian dinginnya. Aku menghirup aroma yang keluar dari cangkir itu, menikmatinya mengalir menuju reseptor saraf rasa, menginterpretasikannya sebagai kopi susu hangat. Aku menyeruput cairan manis bercampur pahit dan gurih itu, mengalirkannya ke kerongkongan, dan membuat badan ini sedikit lebih rileks dengan nikotin yang dikandungnya.

Malam itu aku terduduk bersamanya diatas kursi dan meja batu di sebuah taman kecil diatas sebuah bukit. Bukit itu bukan bukit yang besar, namun tempatnya pas untuk menikmati seluruh cekungan Bandung dengan segala kerlap-kerlip lampunya. Bukan, bukan di Dago tempatnya, namun sebuah tempat agak terpencil di kaki Bukittunggul.

Dia melahap pisang goreng yang disajikan dengan sedikit parutan keju dan gula kelapa. Aku tersenyum memperhatikannya. “Apa sih..??!!” aku tertangkap sedang memperhatikannya. Dia tersenyum padaku.

“Gak, hanya kelihatannya kamu menikmati sekali pisang gorengnya…” kataku.

“Iya, enak nih.. mau..??” dia menyodorkan sepotong pisangnya padaku dengan sendok. Lalu aku melahap potongan pisang goreng itu, memang nikmat dalam suasana dingin seperti ini.

Malam ini cerah, bulan pun sedang tidak menampakkan wajahnya, kegelapan yang melingkupi kami, malah menjadikan malam ini semakin cerah. Langit hitam di atas sana sudah bertaburkan sejuta bintang, beberapa membentuk konstelasi dengan berbagai rupa. Garis nebula pun terlihat samar terbentang dari utara hingga selatan langit. Hmmm, benar-benar malam yang sempurna.

“Eh, itu Antares kan…??” Dia tiba-tiba menunjuk pada sebuah bintang kemerahan yang terletak tepat di leher, tepatnya kepala yang menyatu dengan dada, dari kalajengking raksasa yang merentangkan kedua capitnya dan menunjukkan buntutnya yang berbisa.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Favoritku belum keluar… Orion si pemburu dengan sabuknya yang terkenal, 3 bintang kembar…” kataku.

“Tentunya, sekarang kemarau… jangan bilang kita akan duduk disini sampai dini hari hanya untuk melihat Orion..??” tanyanya.

“Hahahahaha, tidak, santai… aku akan mengantarmu pulang sebelum dini hari…” aku menjawab. “Lagipula, aku punya favorit lain kok… Cygnus si Angsa…” lanjutku sambil menunjuk arah utara. Terlihat disana angsa dengan leher yang panjang dan merentangkan sayapnya yang lebar, terbang bebas menuju angkasa.

“Memang kamu saja yang punya favorit..?? aku juga punya kok.. Virgo sang perawan…” sahutnya menunjuk sebelah barat. Terlihat seorang gadis cantik tersenyum di barat sana, di kepalanya Saturnus bersinar.

“Hahahaha, kamu gak mau kalah ya..??” kataku. Dia membalasnya dengan mengerenyitkan hidung dan bibirnya padaku.

“Terima kasih sudah mengajakku ke tempat ini…” Dia tersenyum padaku.

“Sama-sama, waktu itu aku sudah berjanji padamu untuk membawamu terbang mendekati langit, dan meninggalkan daratan barang sebentar…” jawabku.

“Hahahaha, bisa saja kamu..” dia tertawa. “Ummm, kadangkala aku pun merasakan ingin meninggalkan daratan dan menyediakan waktu bagi impianku untuk terbang ke langit. Lebih baik terbang mencari impian, daripada menangis saat bersedih. Karena saat kita terbang, kita bisa melihat sebuah titik dari sudut pandang yang berbeda, lain dari sehari-hari yang kita lihat, hingga kadang membuat kita sadar, seharusnya tidak ada alasan untuk kita bersedih” dia melanjutkan.

“Aku pun demikian, saat terbang, akupun bisa melihat duniaku lebih luas dibandingkan yang aku bayangkan sehari-hari. Aku bisa melihat kejadian-kejadian yang tidak biasa aku temukan saat aku berada di daratan…” aku menimpali.

“Tapi jika kita terbang, terkadang tidak hanya menemukan hal yang baik dan bahagia. Kadang kita menemukan hal-hal di sekeliling kita yang tidak berjalan sebagaimana mestinya…” dia melanjutkan.

“Ya, memang, tapi tak ada salahnya kan kita terbang barang sebentar, meninggalkan rutinitas yang kita hadapi sehari-hari…??” aku bertanya.

Dia berhenti berbicara dan melemparkan pandangannya pada cekungan Bandung yang berkelap-kelip dengan gemerlap lampu kotanya. Beberapa cahaya bergerak melalui garis lurus, antrian kendaraan. Langit malam itu memang sempurna, tanpa awan, jendela cakrawala terbentang luas di hadapan kami berdua.

Tiba-tiba dia bangkit dari kursi batu yang dia duduki, berjalan menuju ujung bukit, berdiri disana, tetap memperhatikan Bandung. Aku mengikutinya.

“Hei, kenapa kamu…??” tanyaku.

“Gak apa-apa…” dia tersenyum. Kedua tangannya masuk ke dalam saku sweaternya. Aku berdiri di sampingnya, kami berdua berdiri di ujung bukit itu, di hadapan kami menganga tebing, menyibak, membuka pemandangan malam itu yang dipenuhi gemerlap lampu kota.

Tiba-tiba dia tersenyum sendiri.

“Kamu tahu…?? Sebelum kamu mengajakku kemari, aku sempat berfikir untuk marah padamu di tempat ini…” diam sejenak. “Tapi entah kenapa hatiku berkata lain, hatiku berkata supaya aku tidak marah padamu” dia berkata.

“Ya, aku terlalu emosional, terlalu melihat sesuatu atas dasar pertimbangan hatiku, padahal jika logika aku gunakan, mungkin aku tidak akan memiliki keinginan untuk marah” katanya.

“Tidak ada salahnya melihat sesuatu dengan hati, daripada kamu tidak punya hati, berarti tidak bisa merasa. Aku juga salah, terkadang terlalu melihat kamu dari logikaku. Kadang logika berlebihan membuatku menjadi orang bebal, aku tidak bisa merasa lagi” balasku.

Lalu diam, ya, kami diam memandangi sekeliling kami, takjub akan malam indah ini. Ada kata-kata yang dapat diucapkan dengan diam. Diam bukan berarti berhenti berkata-kata, namun terkadang dengan diam, kita lebih mengerti dan meresapi kata-kata yang tidak keluar secara verbal.

“Haaaaah…” aku menghembuskan nafas, terlihat uap mengepul keluar dari mulutku.

“Huuuuuf…” dia tidak mau kalah. Kami berdua tersenyum, tertawa.

Diam lagi.

“Eh, ada pelangi di mata kamu…” ujarku.

Diam lagi.

“Bhuahahahahahahah..!!! kayak lagu Jamrud aja yang Pelangi di Matamu…” katanya terbahak-bahak.

“Hahahahahaha…” aku mengusap-usap rambut sebahunya yang dikuncir kuda, lalu merangkulnya dalam pelukanku. Dia membalas memeluk pinggangku. Malam itu kami terbang menuju angkasa meninggalkan daratan untuk sementara waktu.

 

Bandung, 23 November 2009

4 thoughts on “Malam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s