Monolog Malam Hari

Malam itu, sepulang mengantarkan Dia ke rumahnya, aku pulang dengan motor bebek peninggalan ayahku. Butut memang, tidak seperti motor-motor gagah yang banyak sekarang ini. Namun aku menikmati dan bersyukur mendapatkan motor bebek butut jaman dahulu ini. Tidak bisa diajak ngebut memang, namun mengendarainya adalah sebuah kepuasan tersendiri karena dapat dengan santai menikmati setiap perjalanan yang aku lakukan dengan menunggang tungganganku ini.

Malam itu malam minggu, sekitar pukul 10 malam. Aku melewati jalan yang biasa aku lalui jika aku pulang dari kampus ke rumah. Jalan itu tidak ramai, namun tidak juga sepi. Bukan jalan perkotaan akses menuju rumahku ini memang, namun bukan juga jalan menuju hutan yang gelap dan angker. Malam itu, bintang masih bersinar setelah minggu lalu aku dan Dia melihat bintang di sebuah bukit. Masih musim kemarau memang, sehingga langit malam membuka tabir kelabunya, menampakkan angkasa yang penuh dengan kerlap-kerlip gemintang.

Aku tiba di sebuah pertigaan, aku mengambil jalan ke kiri. Namun, tiba-tiba aku menginjak rem seraya terkejut. Seorang kakek dan nenek sedang menyebrang jalan, aku tidak melihat mereka sebelumnya. Si Kakek memeluk pundak si Nenek sambil menyebrang jalan. Aku pun meminta maaf pada mereka, karena hampir saja aku menabrak mereka barusan. Mereka tersenyum.

“Harusnya kami yang berterima kasih karena kamu sudah mau cape-cape menginjak rem saat kami menyebrang. Biasanya kami menyebrang di jalan ini jarang ada motor yang mau memberi kami jalan barang sebentar supaya kami menyebrang..” si Kakek berkata. Aku tersenyum mendengar ucapannya.

“Mari Kek, Nek..” aku tersenyum pada mereka dan melanjutkan perjalananku.

Jalan di depanku lurus dan kosong, tidak terlihat lampu kendaraan, hanya beberapa lampu jalan terlihat menerangi jalan, menciptakan suasana kemuning yang suram. Aku melirik Kakek dan Nenek tadi dari spion bulat yang tertanam di stang motorku. Mereka berjalan berlawanan dengan arahku, si Kakek memeluk pundak Nenek, dan si Nenek memeluk pinggang si Kakek itu. Aku kembali tersenyum melihat adegan tersebut.

Ya, aku tersenyum melihat tingkah Kakek dan Nenek tersebut. Aku melihat cinta dan kesetiaan pada keduanya. Ya, aku baru melihat yang namanya cinta sejati. Seharusnya cinta itu adalah rasa setia yang ada saat pasangan kita sudah beranjak tidak tampan atau cantik lagi, namun rasa setia dan sayang  itu masih ada. Cinta itu ada saat kesulitan datang, namun yang satu selalu ada untuk satunya lagi. Saat dunia disekeliling kita sudah memudar karena termakan usia, kita masih menyanyangi pasangan kita dengan tulus.

Pembuktian cinta itu akan selalu ada meskipun usia sudah berbicara. Aku masih melihat keromantisan bak sepasang muda-mudi yang dimabuk cinta pada Kakek dan Nenek tadi. Aku melihat cinta dan kebahagian pada mata keduanya.

Aku tersenyum kembali. Cinta itu bukan saat kita memberikan bunga, atau memberikan hadiah saat pasangan kita berulang tahun. Cinta itu ada saat kita memberikan rasa pada saat pasangan kita kehilangan asa. Cinta itu bukan saat kita berpegangan tangan dan bergandengan dengan pasangan kita. Cinta itu ada saat kita dan pasangan kita berbagi rasa senang maupun sedih. Perlakuan fisik hanya sekedar ekses dari rasa cinta. Namun yang terpenting adalah saat kita memaknai apa yang kita lakukan dan apa yang kita perbuat bersama, kepada, atau untuk pasangan kita.

Aku kembali tersenyum seperti orang gila yang sedang mengendarai motor. Aku melajukan motorku dengan santai melirik kembali pada Kakek dan Nenek itu yang sedang berjalan menikmati malam yang bertabur bintang. Si Kakek merapatkan pelukannya pada pundak si Nenek, melindunginya dari dinginnya malam itu, seolah sweater rajut yang dikenakan si Nenek kurang bisa membuat dirinya hangat. Aku kembali bermonolog menikmati malam diatas motorku.

Bandung, 19 Desember 2009

One thought on “Monolog Malam Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s