Saya Rindu dengan jejak-jejak itu..

Ya, saya rindu dan kangen dengan jejak-jejak itu.. bukan kangen akan seorang wanita.. saya rindu dengan jejak-jejak kaki di pegunungan.. tempat berpijak saat asa mulai terputus, saat semangat sudah memudar, dan saat dunia mulai terasa memuakkan dan membuat pikiran menjadi penat..

Gunung itu memiliki bahasanya sendiri, pepohonan pun mengajarkan berbagai hal dalam setiap langkah yang kita ayunkan.. rerumputan melambai-lambai, seolah kita pemimpin yang memimpin kaki kita sendiri untuk mencapai sebuah tujuan. Segenap alam seolah mendengar harapan dan impian kita. Dimana segala sesuatunya seolah dapat kita capai dengan langkah-langkah yang kita ciptakan. perlahan namun pasti.

Alam itu berbicara dengan angin yang berhembus, air yang mengalir, pepohonan yang melambai.. adakah kamu mendengar suaranya..?? bulir-bulir embun itu menunjukkan kesegaran, menunjukkan kejernihan dan kejujuran. Tumbuhan itu mengajarkan untuk selalu memberi dan rendah diri. Air itu berbicara mengenai kepastian, dan gunung itu berbicara ketegasan. Terlalu banyak yang bisa dijadikan guru dalam setiap langkahnya.

Saya rindu dengan belaian halus kabut-kabut yang tertiup menerpa wajah.. Saya rindu dengan suara daun yang tertiup angin, suara air yang mengalir, suara semak-semak, suara pegunungan..

saya muak dengan suara-suara kotor perkotaan yang penuh dengan kontaminasi pikiran busuk. Saya rindu dengan keramahan alam, saya rindu dimanjakan pegunungan..

Soekarno pun pernah berkata :

“Tidak akan pernah habis stok pemimpin sebuah negeri, jika masih ada anak bangsanya yang mencintai dan mendaki gunung…”

Kenapa..?? karena gunung itu simbol sebuah harapan, dan harapan/cita-cita memerlukan sebuah proses, sebuah langkah, sebuah progres, sehingga kita bisa mencapai puncaknya. Namun yang terpenting dari itu semua adalah jejak-jejak yang kita susun, yang kita atur, dan yang kita jalani.

Saya cinta gunung, karena saya benci dengan hal-hal busuk yang berbau bangkai yang banyak ditemui di perkotaan, segala yang dihirup di sekelilingnya adalah racun. yang ada hanya batang-batang beton dan hembusan angin busuk. perkataan pun keluar dari lidah-lidah yang bercabang.

Saya cinta gunung, karena saya menemukan kesederhanaan, kesejukan, dan kedamaian disana. Saya menemukan sebuah kepolosan dan kejujuran hidup. tidak ada yang ditutup-tutupi, dan udara yang kita hirup pun bukan udah busuk, tapi udara segar dan kaya dengan kehidupan.

Yah, saya jatuh cinta pada gunung, dan saya rindu teramat sangat pada setiap langkahnya..

3 thoughts on “Saya Rindu dengan jejak-jejak itu..

  1. Saya sangat suka dengan Puncak Yang Tinggi Dan Keindah Bisa Kita Amati Dari sana, dan udaranya yg sangat meyenangkan, tapi saya akan membuat kota tidak lg busuk, dn akan hampir samanya dengan Puncak” Tersebut, dengan cara saling menyadari, dan menghargai. apapun bentuknya, jd kita bisa menikmati semua itu di setiap langkah hidup kita.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s