Kunang-kunang..

Jalan itu menurun dan licin, aku hampir terpeleset berkali-kali karenanya. Tadi malam hujan, tidak besar, namun cukup untuk membuat jalan tanah yang aku pijak ini semakin tidak bersahabat. Tangannya menggenggam erat tanganku, dia memang phobia terhadap ketinggian. Bahkan jalan menurun ini saja dia takut untuk menuruninya.

“Pelan-pelan dong..” katanya.

“Ih, kamu manja..” kataku.

Wajahnya berubah masam.

“Ih, rese..!! udah, lepasin aja lah..!!” katanya, tapi masih erat menggenggam tanganku.

“Bener..?? lepasin nih..?!!” kataku dengan nada agak menggoda.

“Ih, beneran nih orang rese..!!” geramnya sambil menjitak kepalaku.

“Hihihihi, kamu kalah..” aku makin memanasinya.

“Biarin, Bweeeee..!!” serunya sambil menjulurkan lidahnya.

Kami adalah dua orang terakhir yang menuruni Jayagiri setelah rombongan di depan kami berjalan agak jauh dari kami. Gara-gara orang inilah akhirnya aku berada di belakang rombongan. Tapi biarlah, aku bisa membuli-bulinya. hahahaha..

Sudah cukup lama aku mengenal orang ini. Sejak aku masuk tingkat 3 di bangku kuliah, dan dia baru masuk di tingkat 2. Ya, kami berbeda 1 tingkat di bangku kuliah.

Dia bukan orang yang suka naik gunung, hiking, camping, dan kegiatan alam lainnya. Dia biasa jalan-jalan, tapi di kota, di mal, di toko buku, cafe, dan lain-lain. Tapi untuk kali ini aku culik dia camping bersama beberapa kawan kami di kampus, itupun setelah aku mengajukan permohonan dengan sangat kepada kedua orang tuanya. Maklum, anak cewe satu-satunya di keluarga, anak bungsu pula, jadinya agak manja dan ortunya agak protektif.

Aku yang senang dengan kegiatan di alam terbuka bertemu dengan orang yang senangnya duduk-duduk di café, baca buku, nonton bioskop, ke toko buku, dan jalan-jalan tapi di mal. Hahaha, gak nyambung kadang emang. Tapi biarlah, toh aku suka caranya berfikir, aku juga menerima dia dengan segala sikap dia. Dia pun sama, cuek dengan hal-hal bodoh dan aneh yang sering aku lakukan.

“Kok kamu mau sih aku jak camping..??” tanyaku heran dengan tingkah dia yang canggung dia selama camping.

“Biarin.. aku juga kan pengen nyoba, pengen ngerasain beginian.. hihi, ternyata seru juga..” jawabnya sambil nyengir.

“Istirahat dulu yuk..”ajakku, dan aku menuntunnya duduk di bawah sebuah pohon besar di samping jalan utama turun itu.

“Haaah, lebih pegel turun ternyata yah daripada naik kemaren..” katanya sambil duduk di bawah menyender pada batang pohon besar itu.

“Iya, soalnya kamu takut jatoh, kaki kamu lebih tegang, karena nahan badan kamu, pasti pegel-pegel. Nah, pegel benernya baru kerasa besok kok, nyantei.. hehehehe..” jawabku sekenanya.

Sore yang manis itu matahari memancarkan cahaya kuning hangatnya menembus sela-sela dedaunan diatas pohon sana. Matahari mulai condong ke barat, hampir maghrib.

Tiba-tiba dia berseru, “Eh.. ada kunang-kunang..!!”

Seekor kunang-kunang terbang melayang dihadapannya sambil menggodanya dengan kelap-kelip badannya. Sudah lama nampaknya dia tidak melihat kunang-kunang. Kunang-kunang itu terbang berputar-putar mengitari kepalanya, dan Dia hanya senyum-senyum sendiri menikmatinya.

“Hiii, dasar aneh..” kataku.

“Biarin.. bweee.. hehehehehe…” balasnya.

“Sini.. ikut aku yok..” kataku sambil meraih tangannya, menariknya dari posisinya duduk, kemudian menuntunnya keluar dari jalan utama, masuk ke jalan setapak dengan semak-semak tinggi dan pohon paku yang rapat. Kami menerobos semak-semak paku, aku di depan menuntunnya.

“Mau kemana sih..??” tanyanya penasaran.

“Udah, ikut aja..” kataku masih sambil berjalan menuntunnya.

Semak paku semakin rapat, dan tangan kiriku semakin sibuk menyibak semak itu. Ya, jalan yang benar berarti, semakin rapat semaknya, dan aku tersenyum sendiri. Sementara itu, bumi semakin diliputi kegelapan, matahari sudah setengah lingkaran tenggelam di ufuk barat sana, suara jangkrik pun sudah mulai terdengar sayup-sayup entah darimana asalnya. Aku terus menuntunnya menerobos semak paku itu untuk menemukan sebuah tempat yang aku tujukan untuknya.

Tiba-tiba berakhirlah semak paku itu, dan berujung pada sebuah lapangan rumput yang tidak terlalu besar, mungkin sebesar lapangan futsal, namun disitulah yang membuat Dia takjub mematung melihat apa yang ada di hadapannya sekarang. Aku tersenyum. Angin lembah menjelang malam yang dingin pun bertiup.

“Hehehe, keren kan..??” kataku padanya.

Dia masih belum bisa berkata, dia hanya mematung menyaksikan ratusan kunang-kunang terbang berkelap-kelip melayang diatas lapangan terbuka tadi. Lapangan itu dikelilingi semak paku yang rapat, sehingga menjadikannya seperti arena tertutup, lautan kunang-kunang yang terbang berkelap-kelip diatas lapangan tadi. Aku membawanya ke tempat kunang-kunang berkumpul, dekat dengan sarangnya.

“Ya Tuhan..!!” Dia berseru sambil tertawa kegirangan.

“Kamu kok bisa sih..??” tanyanya.

“Bisa apa..??” tanyaku balik.

“Ah, udah lah, hehehe, makasi banyak yah..” katanya sambil jinjit dan mengusap-usap rambutku. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Aku duduk diatas gundukan rumput yang agak tebal sambil memeluk lutut memperhatikan ratusan kunang-kunang di lapangan itu. Dia ikut duduk di sampingku dan menepuk pundakku. Kami duduk dalam diam melihat keajaiban yang ada di depan kami. Aku kembali tersenyum. Angin lembah kembali bertiup, kali ini lebih dingin, Aku bergidik kedinginan.

“Kamu jangan ketawa yah…” katanya memecah sunyi.

“?? Ketawa kenapa..??” tanyaku heran.

“Pokonya jangan ketawa, titik” serunya sambil melepaskan carrier yang dipangkunya di punggung, lalu berdiri, diam sebentar memperhatikan sekelilingnya, dan melihat ke arahku.

Dia berlari menuju tengah lapangan dengan merentangkan kedua tangannya, berputar-putar di tengah lapangan yang diselimuti ratusan kunang-kunang itu. Matanya tertutup saat berlari, angin menerpa wajahnya yang tersenyum lebar. Dia memiringkan badannya, menirukan gerakan pesawat yang sedang berbelok.

Bukan tertawa, tapi aku mematung melihat tingkahnya, hahaha, dasar bocah..

Dia memperlambat gerakannya dan diakhiri dengan menjatuhkan dirinya diatas rumput di tengah lapangan. Dia berbaring terlentang dengan ratusan kunang-kunang melayang diatasnya, dia tersenyum.

Aku menghampirinya, dan menelentangkan tubuhku di sampingnya, kami melihat ke angkasa. Bintang-bintang sudah mulai muncul, langit pun sudah mulai hitam, namun agak berawan. Kami memperhatikan bintang-bintang itu diantara ratusan kunang-kunang yang melayang diatas kami. Rasanya kami terbang ke angkasa bersama ratusan kunang-kunang itu.

“Orion..” kataku menunjuk ke arah agak timur pada tiga bintang kembar yang berjajar membentuk garis lurus di angkasa. Alnitak, Alnilam, dan Mintaka. Bulan Januari memang sedang masuk musim penghujan, sehingga Orion muncul di timur setelah matahari tenggelam, dan mencapai puncak langit sekitar pukul 9 atau 10 malam.

“Makasih udah ajak aku kemari yah, udah ajak aku camping..” Dia berkata dengan tatapan matanya masih menembus angkasa. Aku memperhatikan wajahnya yang tersenyum cerah. Aku mengusap-usap kasar rambutnya.

“Sama-sama…” dan kami pun tersenyum ditemani sang Pemburu di langit.

4 thoughts on “Kunang-kunang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s