Sistem di negara kita belum mendukung rakyatnya untuk menjadi bangsa yang maju

Sistem di negara kita belum mendukung rakyatnya untuk menjadi bangsa yang maju

Apa yang Kamu pikirkan setelah mendengar kata diatas..?? Salah satu dosen saja pernah bilang seperti itu di akhir kuliahnya dulu. Awalnya saya bingung apa yang dimaksud sama si dosen ini. Tapi setelah dipikir-pikir lagi kok si pernyataan dosen ini semakin terasa kebenarannya saat ini. Gak tau juga sih, tapi saya pribadi makin merasakah hidup di tengah-tengah yang masyarakatnya makin sulit untuk diatur, karena peraturan, norma, rambu-rambu sosial (seakan) sudah makin dilupakan. Peraturan, norma itu ada hanya untuk dilanggar, bukan dituruti dan dipatuhi.

Kok, seolah masyarakat belum tercerdaskan dengan hal seperti itu..?? kenapa..?? pendidikan kah..?? mungkin.. lalu, kenapa pendidikan..?? bukannya di UUD 1945 di bagian pembukaan, salah satu tujuan negara ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya..?? tapi kok kek gini..?? sekolah mahal, buku pelajaran mahal, buku referensi mahal, tunjangan untuk guru masih minim, padahal guru adalah ujung tombak dari sistem pendidikan.

Yah, saya ngasi contoh yang kecil2 aja. Kita ambil contoh diatas. Katanya bangsa kita ingin cerdas kan..?? aduh, tapi yang saya rasakan sekolah makin mahal (apalagi sekarang ada yang istilahnya SBI), kuliah pun makin mahal (karena PTN udah mulai jadi BHMN = swastanisasi). Saya sebagai salah satu orang yang hobinya baca buku pun merasakan kalo buku-buku di Indonesia itu (termasuk) mahal. Padahal yang namanya ilmu, yang namanya pengetahuan itu sumbernya adalah buku, tapi kok dimahalin yah..?? ah, entahlah. Kesannya pendidikan itu masih eksklusif, tidak merakyat.. apa perlu sampe UUD itu dirubah aja, biar tujuannya tidak mencerdaskan kehidupan bangsa..??

Kasus lain (obrolan siang tadi sama kakak kelas saya di bangku kuliah, sebut saja namanya Rangga). Indonesia itu banyak orang-orang pinter, udah banyak profesor, contoh saja di bidang saya kuliah, teknik sipil, salah satu dosen saya yang ahli gempa bumi baru diangkat menjadi profesor baru-baru ini. Yah, beliau udah dewa banget lah sama yang namanya gempa, bangunan, assasement, dan lain-lainnya. Nah, lalu..?? apakah karya2nya, ide2nya, pikiran2nya untuk membuat orang2 sadar akan bangunan tahan gempa ini tersalurkan pada orang2 yang (katakan) ingin bangun rumah tahan gempa..??

belum tentu, kenapa..?? karena sistem di kita itu segalanya pasti ujung2nya penguasa, ujung2nya politik, dan pemerintahan. Memang segala sesuatunya berasal dari kebijakan pemerintah. tapi kalo orang2 yang duduk di pemerintahannya itu membawa kepentingan lain yang tidak satu ide politik dengan dia, ide2 ilmiah seperti yang dimiliki (katakan sebagai contoh) dosen saya itu tidak akan terpublikasikan dengan baik dan sampai pada pencerdasan masyarakat.

Contoh lain. udah banyak kan sekarang yang namanya penemuan2 mutakhir, macem kompor briket dari arang kayu sama sampah2 daun. Itu penemuan yang hebat menurut saya, macem2 zero waste. kita pake bahan bakar dari bahan yang udah tidak terpakai, namun masih relatif ramah lingkungan dan hemat energi. Tapi kenapa tidak terlalu dikembangkan yah…?? tidak disebarluaskan dan digunakan untuk banyak orang.?? apakah karena kesalahan sistem publikasi, distribusi, informasi, dan sebagainya..?? saya juga tidak tahu.

Dan mau disadari atau tidak, sebenernya sudah banyak hal hebat yang bisa ditemui di Indonesia, namun tetap, ternyata sistem di negara kita tidak, atau belum bisa membuat bangsa ini menjadi bangsa yang maju. Iyalah, wong Indonesia aja belum bisa lepas dari Amerika..!!! kita ini didikte Amerika Boi..!! buka mata lebih lebar..!!

Hehehehe, tulisan diatas hanya sekedar pikiran aneh saya, maap kalo ada yang tidak setuju.. atau silakan yang punya pendapat beda..

5 thoughts on “Sistem di negara kita belum mendukung rakyatnya untuk menjadi bangsa yang maju

  1. Ikut komen dikit y Ry..

    “Peraturan, norma itu ada hanya untuk dilanggar, bukan dituruti dan dipatuhi.”
    Peraturan punya fungsi. Fungsi yang mungkin ada orang yg g bisa nerimanya (dengan argumen yg subjektif tentunya), contoh: PKL yg mangkal sembarangan, tp ngeles denganalesan buat cari makan. Tp idealnya peraturan itu ada yg mengontrol, baik pembentukan regulasinya, maupun penegakannya. Untuk dua hal tersebut, tentu kita tau siapa yg memiliki porsi paling besar. Anggota dewan yang “terhormat” sama polisi. Jadi menurut saya, dua komponen itu yg harus bener dulu. Jgn disalahkan ke masyarakat. Karena toh klo emang bener, masyarakat juga ngikutin. Jangan dibiasakan bilang, balik lagi ke masyarakatny. Klo gt, y sudah, g perlu lagi ada sistem itu.

    Buku mahal? Coba kamu kesini Ry. Buku, mahal banget. Ya, mungkin g bisa dibandingin sih. Cuma sy pikir itu g bisa dijadikan batasan. Kenapa? Kn kita punya yg namanya perpustakaan. Knp g dimanfaatkan? Bukan cm sm kita yg baca buku, tapi juga sama pemerintah atau siapapun yg meyediakan perpustakaan. D kampus misalnya, y coba disediakan buku2 yang lengkap dan cukup buat dipinjem, atau paling ngga dibaca di tempat. Buku-buku yg disuplai ke perpus, di subsidi. Jadi, penerbit senang, pembaca senang. Ini belum termasuk masalah operasional perpus.

    BHMN (atau BHP?), sebenernya sy takut nulisnya karena sy g begitu tau detil isinya, kecuali yg sering2 dibilang orang didemo-demo sm pembelaan dari rektorat. Menurut saya, klo BHMN itu memakai asas keadilan (yang kaya bayar lebih buat subsidi yg g mampu) itu sy sepakat. Tapi klo berupa komersialisasi, itu yg g boleh. Karena memang itu jadi g sejalan sama semangat pendidikan untuk semua warga negara.

    Dan terakhir, sistem pemerintahan dan kenegaraan ujung2nya pasti politik. Yang jadi masalah, apakah goalnya untuk masyarakat atau untuk kekuasaan. Politik jadi busuk, karena cuma ngincer kekuasaan dan maenin rakyatnya doang.

    Cheers,
    QJat

  2. 1. kurangnya supremasi hukum

    2. yang paragraf 2 jat, saya masih gak ngeh sama si preambule UUD 45 itu.. “..mencerdaskan kehidupan bangsa..”

    3. BHMN/BHP/apalah itu namanya sih katanya ada jatah minimum 20% mahasiswanya disubsidi dari uang masuk mahasiswa lainnya, dengan kata lain si 20%nya ini gak bayar kuliah (dari kalangan kurang mampu). contohnya si Neng 2008 itu gak usah bayar 4 tahun kuliah

    4. Nah, yang paragraf terakhir kamu itu normatif banget Jat..

    5. Masalah harga buku, Gramed kemahalan, mending beli di Togamas.. hahahaha..!! =p

  3. Supremasi kayanya terdengar otoriter ya, meskipun harusnya kaya gitu. Saya sih lebih memilih kata penegakan hukum.

    Mencerdaskan kehidupan bangsa klo opini sy sih berarti si pemerintah bukan sekedar membuat bangsanya pintar, tapi juga kepintaran itu bisa membawa kepada kesejahteraan. Penjabarannya dalam bentuk kebijakan pemerintah.

    Klo memang konsep BHMN/BHP ky gt bukannya malah bagus y? Berarti mahasiswa membayar kuliah sesuai dengan kemampuan ekonominya. Yang salah klo misalnya sistem itu diimplementasikan jadi sitem dagang sapi. Yang bayar lebih gede yg masuk. Asal memang yg lolos ujian itu yg benar2 qualified, g masalah.

    Normatif gmn Ry? What would you expect for politics?

    Yah Ry, klo masih di daerah administratif yg sama sih tinggal pinter2an kitanya aja cari yg murah. Tp kn kita membandingkan dengan daerah yg punya kepemimpinan berbeda.

  4. Undang Undang Dasar (UUD) sudah banyak dilanggar, mau tau kenapa? karena UUD tidak menguntungkan pihak yang berkepentingan, menurut mereka yang berkepentingan, pilihan yang mereka ambil adalah (UUD*) Ujung Ujungnya Duit baru itu yang mereka mau…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s