Gotong Royong

Berbicara masalah gotong royong dan masyarakat Indonesia, saya jadi teringat hal ini gara-gara kejadian sore hari, saat perjalanan pulang ke rumah saya.
Bandung, 5 april 2010, setelah mengantar teman saya les, saya pulang lewat ke arah Geger Kalong. Hujan sangat besar saat itu, besar banget. Sepanjang jalan aspal yang saya lalui udah kayak sungai aja..
bahkan ada beberapa spot yang airnya setinggi tumit orang dewasa. saya terobos aja banjir itu (sekalian udah lama gak off road pake motor, hehehe, jadi berasa off road masuk sungai saat itu).
Hingga sampai di daerah desa Sariwangi, dekat PolBan. Disana terlihat kerumunan orang memblokir jalan. Rupanya jalan tertutup longsor yang cukup besar. (jalannya melalui tebing curam dan jurang yang lumayan dalam)
Saya mematikan motor dan turun, bergabung dengan kerumunan itu. kebetulan disitu sudah ada 2 orang anggota polisi yang sedang jaga di pos jaga polisi daerah PolBan.

Saya (S) : “Ada apa Pak..??”
Polisi (P) : “Longsor..”
S : “ooo..”

sambil celingak-celinguk, saya jalan ke tempat longsor itu. waktu itu masih belum diapa-apain sama sekali longsornya, menutupi semua badan jalan, dan hanya jadi tontonan.
Sambil pura-pura moto, celingak-celinguk, akhirnya beberapa orang ikut turun ke jalan yang longsor, disusul si bapak polisi yang lagi nelepon minta bantuan.

AKhirnya terjadi obrolan lagi.

S : “Wah, bahaya ini ya Pak.. tebing yang lain disana masih bisa longsor..”
S : (bertanya ke pak polisi) “Pak, kalo bisa, minta datengin dozer aja..”
P : “Iya, iya..”

Tiba-tiba dari kerumunan orang diatas terdengar histeria seorang Ibu. Kenapa..?? karena anaknya tidak bisa ditemukan. dan saat itu tersebar berita bahwa anak si ibu ini tertimbun longsor.
Makin rame lah kerumunan itu. longsor dilupakan.

S : “Pak.. urang (kita) angkutin aja dulu batu-batunya yuk.. kalo ada cangkul lebih baik..”
Bapak (B)1 : “boleh, boleh..”

akhirnya saya dan si bapak mengangkut batu-batu sebesar bantal tidur, menyingkirkannya ke pinggir jalan. Dari situ beberapa orang mulai turun membantu, dan makin lama makin banyak yang bantuin, bahkan ada yang bawa cangkul.
Disini, saya benar-benar merasakan bagaimana yang namanya menyatu dengan masyarakat, gotong royong.
akhirnya, karena dozer gak dateng-dateng, kami mengangkut batu-batu, dahan pohon, dan tanah akibat longsor tersebut menggunakan tangan dan peralatan seadanya. Sedangkan bongkahan batu yang sebesar lemari masih belum bisa dipindahkan.
Satu lagi, ternyata masyarakat itu harus ditriger dari mulai hal terkecil kalo ingin bergerak bersama-sama. Dan analogi ini menurut saya berlaku untuk orang (mengaku) ingin mengubah bangsanya (jika ada yang mau dirubah), menjadikannya lebih baik.

=================================

Tidak ada kaitannnya dengan kejadian longsor diatas, tapi saya terinspirasi nulis ini karena pas perjalanan balik kemaren hujan besar, dan banjir dimana-mana, kebanyakan setinggi betis orang dewasa..
Saya memberikan standing applause untuk Bapak Dada Rosada lah.. Berkat kepemimpinan Beliau, kini Bandung makin banyak FO; tapi duit pajaknya entah kemana, makin banyak bangunan komersil, dago dan punclut dibangun, banjir dimana-mana, jalanan rusak…
wah, pokonya hebat lah pak Dada Rosada ini.. jigana si Bapak jarang jalan-jalan di Bandung yah Pak..?? sampe gak tau kalo banyak jalanan bolong, banjir dimana-mana kalo hujan.. terus, bapak dimana..??
saya bukan menghina.. jangan tangkap saya seperti ibu Prita.. saya hanya menyalurkan aspirasi saya, mungkin aspirasi orang banyak yang tidak juga didengar oleh Bapak.. =)
Best Regards..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s