Malaikat di Mandalawangi..

Tegar, Rai, Rizal, Intan, Dewi

===================================================

…Jalan setapak itu lebih lebar daripada jalan sebelumnya, cukup untuk 3 orang jalan bersebelahan. Sebelah kiri dan kanannya menganga lembah yang dalam. Sepanjang jalan setapak tadi, kami disuguhkan pemandangan seluas mata memandang. Lapisan awan tipis masih menggantung di bawah sana, kami berada diatas awan. Siluet Puncak Pangrango yang masih berselimut awan tipis berdiri angkuh tak bergeming di timur laut sana. Langit sudah bercampur warna, merah, oranye, hitam, biru, bercampur dengan komposisi maha-Agung yang dilukis Tuhan pada kanvas dunia.

Tiba-tiba Rizal menurunkan carrier dari pangkuannya, mengubek-ubek isinya, dan kemudian dia mengeluarkan sesuatu, memangku kembali carriernya. Tanpa dikomandoi dia langsung berlari memimpin kami di depan, carriernya bergerak-gerak terguncang larinya. Dia melebarkan barang yang baru diambilnya dari dalam carriernya. Dia berlari melawan angin, membawa bendera merah putih yang berkibar di belakangnya. Seorang anak manusia meluapkan kegembiraan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, berlari menerpa angin melupakan semua kelelahan yang dia dapatkan sebelumnya, membawa panji sang Ibu Pertiwi bersamanya.

Meskipun saat itu bukan upacara bendera, kami yang ada di belakangnya terpaku melihat tingkah kawan kami satu itu. Siluet Rizal terus berlari menapaki jalan yang terbentang panjang di hadapannya. Kami mengikutinya dengan terburu-buru dengan perasaan agak khawatir melihat tingkah Rizal. Saat itu langit terlihat merah membara, dan matahari mulai muncul secuil dari ufuk timur sana. Rizal berhenti dari larinya kemudian dia tertunduk sambil berlutut. Kami menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Rizal menangis.

“Gw cinta tanah ini. Gar.. Rai.., makasih udah ngajak gw, Intan, dan Dewi naik ke sini…” Rizal sesegukan.

Intan memegang pundaknya, aku dan Rai hanya terdiam mematung menyaksikan Rizal. Aku hanya terpana, di dalam tenggorokanku serasa ada yang mengganjal, dadaku serasa ada yang menusuk, dan di mataku menggenang air mata yang kutahan keluar. Aku menepuk pundak Rai dan merangkulnya.

Semburat jingga makin jelas terlihat di langit sana, cahaya matahari itu berdifraksi ke segala arah melukiskan berbagai macam warna pada langit. Rizal menjadi pemeran utama sandiwara kehidupan yang dimainkan saat itu. Kami tak menyangka kalau Rizal akan melakukan hal yang seperti tadi. Dia berhasil menumpahkan segala rasa rindunya yang selama ini dia pendam pada Ibunya, Ibu Pertiwi. Sudah terlalu lama dia muak dengan segala ketidakadilan pada tanah tempatnya berpijak, pada tanah dimana dia dilahirkan dan dibesarkan, terlalu banyak kerusakan yang diciptakan oleh anak-anak lainnya pada Ibunya. Sudah terlalu lama Ibunya dilupakan, diacuhkan, disakiti, dan sekarang, Rizal menemukan lagi dimana Ibunya berada, dia memeluknya erat-erat seolah takkan melepaskannya.

Rizal kembali berdiri, mengusap air matanya yang menempel di pipinya. Intan masih memegang pundaknya, dia tersenyum pada Intan, mengucapkan terima kasih padanya. Rizal menurunkan kembali carriernya, kemudian mengikatkan ujung bendera itu pada carriernya, sehingga menutupi sebagian dari carriernya, dan kemudian dia memangku kembali carriernya itu. Angin menerpa kembali, dan bendera itu berkibar kembali di pangkuan Rizal. Tanpa dikomado, kami mulai berjalan kembali masih dipimpin Rai, dan diikuti formasi kami sebelumnya.

Aku mengeluarkan kamera Rai dari tas pahaku yang dititipkannya padaku. Aku mengabadikan momen saat itu, 4 siluet orang yang berjalan memangku carrier mereka masing-masing, Rizal, Rai, Intan, Dewi, ditambah satu objek yang memasangkan bendera yang berkibar tertiup angin di carriernya diatas puncak gunung dengan latar belakang langit yang bersemburat jingga. What a perfect moment

Di depan, Rai kembali melebarkan tangannya, seolah dia menjadi elang yang bebas terbang di atas puncak gunung. Aku kembali berjalan masih menggenggam kamera saku Rai. Ku abadikan juga semburat jingga langit saat itu. Meskipun memang hasil foto tidak akan seindah dan sebagus momen aslinya. Terkadang memang ada momen yang tak bisa diceritakan dengan kata-kata karena mengandung banyak kejadian dan momen yang hanya dapat diterima oleh perasaan kita.

Para pendaki yang lain terlihat berkumpul di depan sana, ada yang mengambil gambar, mengabadikan momen-momen indah bersama sahabat, keluarga setelah susah payah mencapai puncak ini, seolah kami telah memenangkan perang kemerdekaan. Rasa puas dan bangga akan ada pada setiap orang yang berhasil mencapai puncak gunung. Entahlah, memang seperti itu rasanya berdiri di Puncak Gede saat itu. Ada kepuasan tersendiri yang datang, ada kenikmatan bersama saat berhasil menaklukan gunung.

Kami berpapasan dengan pendaki yang lainnya yang telah lebih dulu beristirahat dan meletakkan carriernya di dekatnya. Senyuman kepuasan ada pada kami semuanya, saling berbagi dan membalas senyum. Saat itulah, kami semua, para pendaki, memiliki rasa yang sama, memiliki misi yang telah dituntaskan bersama. Akhirnya Rai berhenti pada sebuah batu besar yang ujungya sedikit menggantung ke arah lembah, berhadapan dengan ufuk timur. Dia menurunkan carriernya dan menghadap arah timur, berhadapan dengan tempat dimana sang surya akan terbangun. Kulihat siluet dirinya kembali merentangkan tangannya. Hobi banget si Rai satu ini sama yang namanya merentangkan tangan. Mungkin seolah lepas dan bebas.

Aku masih berdiri menyaksikan momen sunrise itu. Jauh dibawah sana, kumpulan awan bagaikan rajutan kapas masih menggantung. Dari baliknya muncullah matahari pagi yang kami nanti-nanti. Kami berdiri diatas awan. Terdengar berbagai pembicaraan, tawa dari sekeliling kami. Ada yang berfoto dengan bendera yang nampaknya bendera pecinta alam, semuanya berpose dan tersenyum. Ada yang hanya duduk menghadap timur menikmati momen itu dengan menghisap asap rokoknya dalam-dalam. Beberapa pasangan saling merangkul dan berfoto berlatarkan matahari yang akan terbit.

Saat itu pukul 05.37. Rai duduk diatas batu itu, Rizal meneguk air mineralnya, Intan dan Dewi saling rangkul. Aku mendekati Rai yang sedang menyalakan rokoknya. Aku tersenyum padanya, dia membalas senyumku sambil menahan batang rokok yang ada pada mulutnya, menghisapnya dalam-dalam, dan menghembuskannya lepas. Aku merangkulnya, dan dia balas merangkulku seraya menepuk pundakku.

Aku berdiri diatas batu besar yang diduduki Rai, lembah di bawah sana menganga seluas mata memandang. Aku menatap matahari yang akan terbit, lembaran-lembaran awan di sekitarnya menggantung bagaikan kapas, garis-garis cahaya mentari itu melintasi cakrawala. Aku merentangkan tangan, mengikuti tingkah yang selalu dilakukan Rai. Angin menerpa wajahku, saat itu aku bersyukur.

Sang Surya menjadi saksi kisah persahabatan kami berlima di atas puncak Gede, Lembah Mandalawangi.

Tiba-tiba Intan menghampiriku, menatap pada matahari juga, angin menerpa wajah kami berdua. “Indah Gar…” katanya dengan tatapannya masih pada pemandangan yang dia lihat di depannya. Aku melihat wajahnya yang putih itu tertimpa sinar matahari yang kemerahan. Rambut di atas keningnya tertiup angin, dia memejamkan mata indahnya, lalu bibir tipisnya tersenyum. Tangan itu direntangkannya lebar-lebar, dia menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya lepas. Bayangan tubuh kami yang tertimpa cahaya matahari tercetak di atas batu besar itu yang menggantung ke arah lembah. Langit telah berubah warna, merah bergradasi pada birunya langit.

Aku melihat malaikat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s