Rasisme Mahasiswa ITB

Dimulai dari jalan2 siang untuk mencari makan siang di depan kampus. Saya dan kawan saya, Achmad Syaiful, memperhatikan banyak polisi yang berjaga-jaga di depan kampus. Setelah membeli 2 burger di mobile counter depan kampus, saya dan kawan saya bermaksud kembali ke dalam kampus. Namun penasaran gak bisa saya hilangkan, bertanya lah saya ke satpam di depan gerbang.

saya : “Banyak polisi pak.. mau ada apa emang..?? demo..??”

satpam : “Iya mas.. mau ada demo..”

saya : “Haaah..?? demo apa pak..?? masak..?? hehehe..”

satpam : “bukan, demo yang mahasiswa Papua itu..”

saya : “??? papua..??” (sebelumnya saya gak up date berita di kampus, karena udah lama gak maen ke kampus, hehehehe..)

Achmad : “oooh, yang status di fesbuk itu ya Pak..??”

Dari obrolan siang itu akhirnya saya baru tahu ada kejadian kek begini di kampus. Hanya bisa geleng2 kepala saya denger ceritanya. Gak berapa lama, rombongan pendemo tiba di depan kampus dan meneriakan orasi yang menolak rasisme. Saya juga sempat ngobrol dengan salah seorang pendemo yang akhirnya memberika saya selebaran yang isinya tulisan mengenai penolakan terhadap segala bentuk rasisme.

Rame bener memang berita tentang satu ini. Seorang oknum bobotoh Persib yang ternyata juga adalah mahasiswa yang terdaftar di (katanya) Institut Terbaik Bangsa memposting status di sebuah jejaring sosial di dunia maya yang bernada rasisme terhadap suku Papua setelah pertandingan sepak bola liga Indonesia antara Persib Bandung dengan Persipura Jayapura (2 Mei 2010).

Oknum DIB ini terdaftar di ITB angkatan 2007. Dia memposting status-nya tersebut lewat HPnya (update status lewat HaPe.. G4uL lah..), jadi dia gak tau kalau ternyata statusnya itu mengundang banyak cacian dan makian terhadap dirinya. barulah 1 hari setelahnya dia memposting status lagi untuk meminta maaf atas statusnya yang lalu, namun dianggap tidak serius oleh beberapa kalangan. Sampailah berita ini ke rekan-rekan kita di Papua sana.

Akhirnya seorang mahasiswa S3 ITB yang berasal dari Papua mencoba mencari informasi mengenai DIB dan mencoba menjadi mediator dalam kasus ini. Mediator mencoba bertemu dengan DIB dan membicarakan masalah ini, hingga akhirnya Mediator dan DIB bertemu dengan Lembaga Kemahasiswaan ITB untuk melakukan mediasi dengan masyarakat Papua. Namun masyarakat Papua menuntut agar DIB di-DO dari ITB atas kesalahan yang telah dia lakukan.

Barulah, tanggal 18 Mei 2010 DIB menjalani sidang Indisipliner mahasiswa di gedung Annex ITB, pada saat yang bersamaan, terjadi aksi oleh sekitar 100 orang yang berasala dari Masyarakat Papua Anti Rasialis di depang Gerbang Ganesha, ITB sekitar pukul 14.15. Sementara, dari hasil sidang indisipliner di gedung Annex, menghasilkan rekomendasi berupa skorsing 3 semester + kerja keprofesian + kerja sosial + bimbingan konseling terhadap DIB.

Beberapa pertimbangan rekomendasi diatas didasarkan pada :

> DIB adalah mahasiswa yang berprestasi secara akademik  (IPK > 3 dan  masuk program honors fast track S2  plus beasiswa)

> DIB adalah mahasiswa yang terhitung aktif dalam kegiatan organisasi, baik kemahasiswaan terpusat (INKM, DAT) maupun Himpunan Mahasiswa Jurusan.

> DIB adalah mahasiswa yang senang membantu teman-temannya dalam bidang akademis, sering menjadi tempat bertanya dan menjadi tutor akademis kepada teman-temannya.

> DIB memiliki mimpi dan harapan yang besar terkait kehidupan akademisnya di bidang keahliannya (ingin menjadi peraih Nobel)

> Pertimbangan Psikologis: DIB memiliki IQ diatas rata-rata, namun kecerdasan emosional (EQ) yang kurang baik. Hal tersebut tergambar dari cara DIB berkomunikasi secara verbal dan non-verbal yang kurang baik dan kurang mampu memperlihatkan beban psikologisnya kepada lingkungan sekeliling. Selain itu DIB juga nampak belum mampu berpikir dewasa secara utuh sehingga tidak memikirkan dampak dari perbuatannya di situs jejaring sosial.

> Pertimbangan  ekonomi : keadaan tingkat ekonomi menengah. DIB telah kehilangan Ayahnya setahun yang lalu dan ibunya seorang guru SMP, sehingga DIB telah dianggap sebagai kepala keluarga karena beliau anak pertama. Selain itu DIB memiliki 3 orang adik yang semuanya masih sekolah.

> Pengajaran dalam keluarga dalam bidang etika, nettiquette (etika dunia maya) dan penghargaan terhadap keragaman budaya nasional masih sangat kurang. Hal tersebut ditambah dengan komunitas pergaulan yang menyebabkan seorang DIB memiliki fanatisme berlebihan terhadap klub sepakbola.

=================================================

Nah, dari cerita diatas, hendaknya menjadi bahan pelajaran untuk semua pihak agar tidak gegabah dalam melakukan aktifitas sehari-hari, terutama di dunia maya yang memang sudah menjadi gaya hidup kebanyakan orang saat ini. Perlu diperhatikan juga etika dalam berinternet, jangan menampilkan informasi pribadi yang bisa menimbulkan kejahatan, jangan memberikan pendapat2 yang bisa memicu keributan di internet, jangan lebay dalam memposting status.

hahaha, satu hal yang menarik untuk saya, yaitu memperhatikan masalah EQ. kebanyakan orang-orang sekarang adalah labil dalam mengapdet status. haduuuuh.. hahahaha.. ckckckckckckc.. saya cuman bisa geleng2 dah.. hahaha, meskipun tidak memungkiri kadang2 saya juga suka labil kalo posting status atau posting tulisan.. hehehe..

Jangan juga kita menjudge DIB ini sebagai perusak almamater dan penganggu ketentraman berinternet. jangan lihat dari satu kacamata saja. Meskipun memang sudah terjadi. Coba kita juga pelajari mengapa dia bisa bersikap seperti itu. Toh, ternyata karena lingkungannya juga.

Makanya, hati2 juga dalam bergaul dengan lingkungan kita. karena disadari atau tidak, lingkungan adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter dan pola pikir seseorang. tambah lagi, jangan lah kita hanya baik di IQ saja, coba latih EQ, dan SQ kita.. =)

Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. MERDEKA..!!!

=================================================

sumber :

Pengalaman pribadi, Klarifikasi resmi KM ITB

Foto : dok pribadi

5 thoughts on “Rasisme Mahasiswa ITB

  1. saya sebenarnya bingung. ini masalah pribadi, tapi bisa jadi masalah institusi.. nama Gajah-nya dibawa2..
    yah, namanya juga nila setitik, rusak susu sebelanga..
    dan, sudahlah, tidak usah juga terlalu dibesar2kan lagi, toh yang bersangkutan sudah dihukum..
    jadikan saja pelajaran bersama.. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s