Diam..

Aku : “Apa sih..!!”
Kamu : “Aku hanya mencoba untuk meminta maaf padamu..”
Aku terdiam…
Kamu : “Aku memang salah.. dan aku tidak tahu cara lain untuk menghapus kesalahanku selain meminta maaf..”
Aku diam beberapa saat..
Kamu : “Hei.. bicaralah..”
diam kembali
Kamu : “Entah sampai kapan hal ini akan terjadi jika kamu hanya diam.. entah sampai kapan kamu menerima maafku.. tapi yang aku pernah dapatkan darimu adalah bahwa diam bergeming tidak memecahkan masalah.. seperti saat angin berhenti bertiup, dunia mati..”
diam.. matamu mulai berkaca..
perlahan, butir itu jatuh di pipimu..
Aku bergegas menghampirimu, memelukmu..

Aku : “Maaf.. harusnya aku yang minta maaf.. aku tidak bisa memaafkan diriku dengan keegoisanku, dengan keras kepalanya diriku.. dan keduanya itu telah menjadi alasanmu untuk menangis..”
Isak tangis tertahan,  aku memelukmu erat..
Aku : “Maaf.. aku sudah menelan ludahku sendiri..”
Diam lagi..
Aku : “Aku pikir, dengan diam, kamu pun diam, kita bisa introspeksi masing-masing.. ternyata tidak.. angin akan tetap berhembus.. kata pun harusnya tetap terjalin.. tidak seperti saat angin berhenti berhembus.. tidak seperti saat dunia berhenti berputar..”
Diam..
Aku : “Maaf.. aku pun salah..”
Kamu melepaskan pelukan, lalu memandang mataku..
Kamu : “Jadi.. kamu menerima maafku..??”
Aku tersenyum.. mengusap lembut kepalamu.. lalu aku menjawab..
Aku : “Jikalau kamu menerima maafku juga..”
Kamu : “Aku butuh waktu..”

…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s