Kurikulum Pengajaran di Indonesia

saya bertemu dengan dosen asal inggris , lalu dia berkata tentang kesalahan pemerintah mengenai pendidikan di indonesia , contohnya :
1.Mata pelajaran matematika di indonesia terlalu berat , bahkan telah melebihi dari sekolah2 di inggris
2.Terlalu banyak PR , sedangkan di negara inggris saja dalam 1 semester saja , siswa hanya diberi 3 buah PR
hahaha , yang salah pemerintah atau kita ya ??

==============================

tulisan diatas saya ambil dari status salah satu sepupu saya yang duduk di kelas 3 SMA.

Apa yang kita pikirkan kalo baca postingan itu..?? kalo saya emang setuju.. maksudnya setuju kalau, entah sistem pendidikan kita, entah kurikulum kita itu terlalu “memaksakan“. Memaksakan dalam artian materi yang seharusnya belum diberikan ke anak-anak, ternyata sudah diberikan lebih dahulu. Porsi materi pelajaran di negara-negara maju masih kalah jauh dengan di Indonesia.

Kalau di luar, anak2 kelas 1 SD masih main-main dan dibiarkan bebas, di Indonesia udah mulai harus bisa baca, berhitung, dan lain-lain. Entah bagaimana porsi “makanan” yang baik bagi anak-anak, tapi saya merasakan kalau materi pelajaran di sekolahan Indonesia itu berat sekali. Tidak bertahap, tapi sekaligus JLEG.

kalau di luar, lulus SD, mungkin baru bisa tambah kurang. tapi kalo di indonesia, si murid udah dituntut sama kurikulum harus bisa kali bagi, bahkan akar dan pangkat. hebat pisan emang Indonesia.

Mungkin kalau dipandang dari sisi kemajuan intelegensia memang bagus, tapi itu seperti terlalu dipaksakan. Sehingga membuat anak tertekan, hanya terbiasa menggunakan metode hapalan. Dia tidak bebas dalam menggunakan ilmu itu. Hanya penuh dengan hapalan kesimpulan, rumus, dan sebagainya. Namun tidak terlatih dalam tatanan filosofis dari rumus dan hitungan tersebut. Wajar kalau tingkatan stress pelajar di Indonesia teramat tinggi. Ilmu memang perlu dan sangat penting dimiliki, namun harusnya perlahan dan bertahap. Yah, namanya juga belajar.. pasti bertahap dan perlahan..

Berbeda kasus dengan murid-murid yang memang memiliki kelebihan untuk menyerap lebih cepat. Memang mereka pasti cepat dalam menangkap proses belajar tersebut. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa tidak semua anak sekolahan di Indonesia adalah seperti demikian. Entah dimana yang salah, namun rasanya ada yang ganjil.

Ditambah lagi, masalah Emotional Quotient anak sekolahan jaman sekarang. IQ udah gak usah ditanya nampaknya. Namun yang perlu ditanyakan adalah EQ anak. bagaimana lingkungan sosial dia, bagaimana cara dia berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, dan bagaimana cara dia menanggapi terhadap sesuatu hal. nampaknya makin banyak anak-anak yang labil dalam EQ di kita. haduh, entah mengapa. apakah IQ dan EQ berbanding terbalik..?? seharusnya sih tidak.. atau apakah selama ini, di sekolah, murid2 selalu dicecoki dengan hal untuk mengasah IQ mereka, namun tidak dibarengi dengan sesuatu untuk meng-up grade EQ mereka juga..?? entahlah..

Maaf, tulisan diatas tidak menggunakan data, hanya buah pikiran saya saja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s