Asumsi, Judgement..

“Eh Gar, kalo misalnya lo dikasi kesempatan kayak Alladin untuk meminta 3 permintaan apa aja, lo bakal milih apa aja…??” Tiba-tiba Rai mengalihkan pembicaraan.

“Wah, ada apa nih, tiba-tiba lo beralih pembicaraan…??” tanyaku spontan. “Ude, jawab aja…” katanya lagi, dan aku sedikit berfikir.

“Mmmmh, apa ya..?? tar, gw mikir dulu…” aku agak termenung memikirkan hal apa yang akan aku minta jika diberi kesempatan untuk meminta 3 permintaan apa saja.

“Mmmmh, pertama mungkin gw bakalan minta naik haji sekeluarga deh…”.
“trus..??” Rai melanjutkan.
“Kedua, gw minta bisa sekolah lagi S2, dan punya karir yang bagus…”.
“Wah, licik tuh, itu 2 permintaan dalam 1…, ya udahlah, anggep itu jadi permintaan kedua dan ketiga…” Rai menanggapi.

“Trus..??” kataku penasaran.
“Hmmm, terlalu baik dan polos lo jadi orang Gar…” katanya.
“Haah..?? apa maksudnya..??” aku bingung.
“Kenapa permintaan ketiganya lo gak minta 3 permintaan lagi…?? begitu seterusnya…” Jawab Rai.

“Yeeeeee… kalo gitu itu namanya orang Rakus…!!!” tiba-tiba Atit datang bergabung dengan kami.
“Lah.. aku kira kamu udah tidur..?!” Rai terkejut.
“Tadinya sih tidur, tapi denger ada orang ngobrol, jadinya bangun lagi.. kalo Intan sih udah tidur…” kata Atit sedikit melirikku.

Rai menyerahkan kursinya pada Atit, dan dia duduk berhadapan dengan kami di lantai kayu, bersandar pada tiang penyangga atap dari teras depan rumah itu.
“Eh, trus lagi… iya tuh, rakus, bener, kalo lo minta 3 permintaan lagi pada permintaan ketiga lo…” kataku ingin melanjutkan obrolan kami.

“Gak, bukan gitu. Maksud gw gini, kenapa kalo misalnya seseorang sudah di judge bisa melakukan sesuatu hal dengan nilai 10, dia hanya terpaku pada nilai 10 itu aja, padahal sebenernya jika dia mau menggali dirinya lebih dalam, dia memiliki kesempatan, dia punya peluang dan dia punya kemampuan. Dia bisa melakukan hal itu dengan nilai 15, bahkan mungkin dengan nilai 100” jelas Rai.

“Kalo kata aku itu orang terlalu terpaku sama judgement orang lain aja… yang perlu dibenahinya mungkin mindsetnya, mindset kalo sebenernya dia bisa melakukan hal yang lebih baik daripada yang dia pikirkan. Kadang-kadang hal seperti itu ada di alam bawah sadar kita, makanya kadang kita kurang peka dengan hal yang begituan, dan baru sadar kalo kita udah mengalaminya, ‘Eh, ternyata gw bisa melakukan lebih dari itu loh…’. mungkin out of box thinking yang perlu kali yah…??” pendapat Atit.

“Kalo itu, ada sangkut pautnya sama yang namanya rasa percaya diri kalo kata gw Rai… prasangka juga bisa berperan di dalamnya. Kadang kita udah punya prasangka buruk dan macem-macem aja terhadap suatu hal, padahal belum tentu hal yang kita maksud itu sesuai dengan prasangka kita. Kita terlalu terpaku dengan penilaian seseorang, dan itu dijadikan landasan untuk kita berfikir. Sebenernya kita itu lebih baik dari yang kita pikirkan, ada semacam belenggu yang melingkupi pikiran kita, sehingga pikiran kita tidak bebas untuk mengeluarkan siapa sebenarnya diri kita. Kita tidak berfikir sebagaimana diri kita berfikir, kita berfikir dari pandangan-pandangan dan asumsi yang dibentuk oleh lingkungan kita. Itu yang biasanya membelenggu pikiran kita yang sebenarnya”, jelasku panjang, hingga nafasku terengah-engah.

“Hehehehehe, si pak Dosen ini serius banget nanggepinnya..” Atit berkomentar.
“Tapi iya juga sih kalo dipikir, pikiran kita terkadang serasa terbelenggu sama hal-hal yang demikian, jadi kita gak bisa mengeluarkan dan menjadi diri kita sendiri. Kadang kita menjadi yang orang lain mau, bukan karena kita yang mau.” Atit melanjutkan.

“Hmmm, asumsi yah…?? Ah, kadang gw merasa bingung, karena dunia ini serasa semuanya asumsi. Semuanya kesepakatan bersama. Contoh, kita bisa bilang ini kayu…” kata Rai sambil memegang lantai teras yang memang terbuat dari kayu.

“Karena kita setuju bahwa ini adalah kayu, bisa aja orang atau makhluk luar angkasa menyebut ini besi. Ya, semuanya adalah asumsi yang kita sepakati setelah kita mendefinisikan sesuatu.” Rai berkata.

“Kok, gw jadi teringat sama kata-kata ‘aku berfikir, maka aku ada’ yah…?? Masalah definisi. Definisi itu lahir dari pemikiran orang kan…?? Apakah pikiran yang digunakan untuk mendefinisikan sesuatu itu pun adalah pikiran yang terbelenggu oleh asumsi-asumsi..??” tanyaku.

“Emmmh, kalo kataku sih itu enggak, soalnya pendefinisian itu bakal dilakukan kalau ada sesuatu yang baru, dan belum timbul asumsi-asumsi, masih aslinya. Dengan kata lain, definisi itu adalah sebuah judgement, kalo asumsi itu merupakan perkiraan yang kita buat, karena kita belum berani, atau belum bisa men-judge sesuatu. Asumsi itu digunakan kalo kita menghadapi sesuatu yang masih abstrak yang belum bisa kita sentuh secara utuh.” Atit menjawab.

“Eh, tapi balik lagi ke 3 permintaan tadi. Kadang kita merasa dibatasi dengan sebuah judgment, padahal kalo kita bisa lihat lebih luas, atau lihat dari sudut pandang yang berbeda, kita bisa melakukan hal yang lebih baik dari judgment yang telah diberikan orang pada kita, ya contohnya itu tadi, kita dibatasi 3 permintaan, tapi ternyata kalo kita cerdik, kita bisa menjadikannya 100 permintaan lainnya..” Rai berkata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s