Sebuah Pandangan : Mohammad Hatta

Sebuah minibiografi Mohammad Hatta.

Jika masih hidup, dan diminta melukiskan situasi sekarang, Mohammad Hatta hanya akan perlu mencetak tulisannya ulang yang pernah terbit tahun 1962 :

“Dimana-mana orang merasa tidak puas, pembangunan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot.

Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokkan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban, sehingga memicu pergolakkan daerah. Tentara merasa tidak puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai”

Tidak ada yang baru di kolong langit, kata orang. Sejarah adalalah repetisi pengalaman-pengalaman. Tapi, jika Indonesia terperosok ke dalam lubang hitam yang sama secara telak, mungkin karena bangsa ini tidak pernah benar-benar belajar dari sejarah yang benar.

Seperti sekarang, Indonesia setengah abad lalu menawarkan optimisme yang diwarnai euphoria politik dan kebebasan. Namun, proklamasi 1945, mirip dengan reformasi 1998, ternyata juga menjadi pembuka Kotak Pandora seperti yang dikisahkan dalam mitos yunani kuno. Kolonialisme Belanda, otoritarianisme Soeharto, menyimpan terlalu lama dalam kotak berbagai penyakit social ekonomi. Dan, ketika dibuka bertebaranlah aneka ragam masalah yang selama ini terpendam.

Mohammad Hatta bukanlah seseorang yang anti-partai, bagi dia, partai adalah wujud dari kedaulatan rakyat. Tetapi, dia mengecam para politisi yang menjadikan Partai sebagai tujuan, dan Negara sebagai alat untuk mencapainya.

Menurut Hatta, demokrasi dapat berjalan baik, jika ada rasa tanggung jawab dan tolerasi di kalangan pemimpin politik. Sebaliknya, kata dia, “Perkembangan politik yang berakhir dengan kekacauan, demokrasi yang berakhir dengan anarki, akan membuka jalan untuk lawannya : diktatorisme”

Sama seperti demokrasi terpimpin yang pernah terjadi pada masa Soekarno dan lebih-lebih pada masa orde baru Soeharto. Hatta mengecam semangat ultrademokrasi dari Soekarno atas dekrit Presidennya untuk membubarkan parlemen dan kembali kepada UUD 1945. “Diktator yang bergantung pada kewibawaan orang-seorang tidak akan lama umurnya. Dan akan roboh dengan sendirinya seperti rumah dari kartu.”

Beberapa tahun sebelum jatuhnya Bung Karno, Hatta telah meramalkan : “sistem yang dilahirkan Soekarno itu tidak lebih panjang umurnya dari Soekarno sendiri.” Dan andai saja Soeharto, yang menggantikan Soekarno setelah 1965, juga menyimak Hatta dengan lebih baik.

Hatta bukan ahli nujum, ramalannya yang tajam bersumber dari kajian luasnya terhadap sejarah dunia. Salah satu tulisan Hatta yang berjudul Demokrasi Kita adalah salah satu dari tulisan Hatta yang mengingatkan pembacanya akan sebuah keniscayaan “hukum besi daripada sejarah dunia”.

“Belajarlah dari sejarah..” Soekarno mengatakan hal itu. Soeharto juga berbicara sama. Masalahnya adalah sejarah yang mana. Sejarah, apa boleh buat, telah lama menjadi ladang perebutan ideologi dan kepentingan. Dan Hatta adalah seorang pecundang, yang kalah, dalam perebutan itu…

====================================================================

Sejarah nampaknya sedang berulang.. Indonesia kembali masuk ke dalam lubang hitam yang sama seperti setelah kemerdekaan lalu. Apakah benar bangsa ini tidak pernah benar-benar belajar dari sejarah..?? saya pernah membaca sebuah kutipan di sebuah museum di Yogyakarta. Kutipan ini berasal dari kata-kata Panglima Besar jendral Soedirman.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawannya terdahulu…”

Apakah bangsa Indonesia memang benar-benar tidak pernah belajar dari sejarah..?? entahlah..

====================================================================

Tulisan dikutip dari buku :

Hatta, Jejak yang Melampaui Batas terbitan TEMPO.

3 thoughts on “Sebuah Pandangan : Mohammad Hatta

  1. Soekarno-Hatta emang duet maut ya, kaya Shinta-Jojo..
    Ehehehe..

    Sayangny bung Karno kebablasan, Hatta ada buat penyeimbangnya.. Kebayang klo duet maut ini g cerai dulunya..

  2. kalo Soekarno cenderung besar hati, Hatta lebih cenderung rendah hati..
    Kalo Soekarno pandai berorasi dalam kata-kata, Hatta pintar berorasi dalam tulisan..

    tapi yang kasus demokrasi terpimpin itu, Hatta sudah tidak bisa mengimbangi secara langsung, dia hanya mengimbangi dengan kata-kata berupa kritik pada Soekarno..

  3. ada yang punya jawaban tentang ” devenisi sejarah menurut moh.hatta” klw ad yng px tlong krimx ……
    🙂 minal aisin walfaisin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s