Efek Halusinasi pada Layar Televisi dan Komputer

Film animasi anak-anak pastinya sudah banyak kita kenal. Sebagai sarana dan media hiburan, maupun edukasi (kalopun ada nilai-nilai yang ingin disampaikan). Namun, bagi sebagian orang, film animasi untuk anak-anak adalah bentuk lain dari pengendalian diri secara tidak langsung untuk mempengaruhi pikiran orang lain. Oleh karenanya, tidak mengejutkan ketika benar-benar ada keterkaitan antara animasi dan pengendalian pikiran.

Sebuah insiden yang agak aneh sempat terjadi di Jepang tahun 1997, tepatnya 16 Desember 1997, dimana dilaporkan kurang lebih 685 anak mengalami mual-mual dan gejala epilepsi. Kejadian ini memicu perhatian public secara luas untuk mempertanyakan tentang dampak fisik yang mungkin disebabkan oleh televisi dan motif di balik munculnya reaksi-reaksi fisik tersebut.

Kejang-kejang tersebut nampaknya disebabkan oleh sebuah film seri animasi yang saat itu sangat popular di kalangan anak muda Jepang. Backgorund warna-warni di balik salah satu karakter populernya yang menggunakan cahaya kedap-kedip tampaknya telah merangsang sel-sel syaraf, sehingga menyebabkan serangan jantung mendadak, kesulitan bernafas, kerusakan penglihatan, dan mual-mual bagi para penontonnya.

Beritanya dapat dilihat disini :

1. Japanese Cartoon triggers Seizures in hundreds of Children

2. Cartoon-based Illness Mystifies Japan

3. Denno Senshi Porygon – Wikipedia

Dikatakan bahwa cahaya kedap-kedip tersebut dapat memproduksi sebuah efek halusinasi, mirip hipnotis. Hal ini bukan laporan pertama kali bahwa pecandu televisi menderita serangan mirip epilepsi. Rangsangan elektronis nampaknya dapat memicu munculnya serangan elektrik pada seseorang, yang dapat menyebabkan kejang-kejang.

So, ternyata memandang layar televisi, komputer, sambil browsing terlalu berlebihan dapat menyebabkan efek halusinasi pada otak kita. Seringkali kita pusing, bahkan mual setelah lama memandang layar komputer atau televisi. Bijaklah dalam menggunakan teknologi. Teknologi diciptakan untuk kemudahan manusia, bukan untuk menjadi bahaya laten bagi umat manusia.

Bukan berarti tidak boleh menonton televisi, namun bijaklah dalam memanfaatkannya. Selain itu, sudah banyak pendapat, dan pengalaman yang membuktikan, bahwa orang yang kecanduan televisi, internet, komputer, game, dan sejenisnya lebih cenderung bersifat anti-sosial. Mereka hebat di dunia “maya”, namun mereka tidak memiliki kehidupan sosial yang baik. Jangan sampe lah autis gara-gara teknologi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s