Hitam

Dia mendambakannya menggantung diatas langit, bukan tenggelam kedalam riak-riak air. Dia menginginkan angkasa terbentang menjulang. Seperti Alnitak, Alnilam, dan Mintaka. Seperti bulir-bulir embun yang dia jumpai setiap pagi. Tapi anomali ini yang setiap hari dia jumpai, merusak penglihatannya. Terjebak dalam dunia abu-abunya, terpenjara dibawah Alcatraz. Tak bisa keluar dari perbatasan dunia. Impiannya merobek cakrawala, tubuhnya terpendam didalam Khazad-Dum, menemukan kegelapan, dingin, merusak isi kepala. Dunia ini tidak seperti apa yang dia bayangkan, dunia ini jauh lebih buruk dari pikiran buruknya. Hanya sebotol cahaya yang dia miliki dalam saku kemejanya sekarang. Berharap malaikat melihatnya, membawanya terbang seperti yang dia dambakan. Berharap malaikat memberinya sayap untuk terbang, bukan pisau untuk mecabut nyawanya. Nafasnya tersenggal-senggal, terantuk. Dia sudah tidak percaya dengan harapan, dia tidak percaya dengan mukjizat. Dia terkhianati. Menatap jauh keatas dari tempatnya berpendam sekarang, di bawah bumi. Berharap diatas sana ada cahaya, bukan, tidak.. dia tidak percaya harapan. Dia hanya menatap kosong keatas. Dingin, gelap..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s