Bangsa (kasihan) yang (sangat) Konsumtif

Kasus ngantrinya BB si Pacific Place tempo hari lalu, membuat saya jadi kepengen nulis lagi. Pertanyaan yang paling besar dalam benak saya adalah KENAPA..??!!! maksudnya adalah, kenapa kok kasus seperti itu bisa terjadi..??

Kalo saya pikir, kita (Indonesia, khususnya orang JAKARTA) ini sedang mengalami yang namanya suatu fenomena aneh yang cukup massive. Apakah itu..?? entah apa namanya saya juga. Yang jelas fenomenanya adalah seperti ini. Orang sekarang itu (terutama kelas menengah) tidak bisa membedakan, atau mungkin sudah bias antara keinginan dan kebutuhan. Yah, entahlah itu apa namanya.

Kalau setahu saya, zaman dulu (menurut teori hidup sederhana yang diajarkan di PPKn), kita membeli barang adalah karena kita butuh. Sekarang teori itu nampaknya sudah tidak berlaku lagi. Orang zaman sekarang itu membeli barang adalah karena “ingin memiliki”. Nah, kata “ingin memiliki” ini bukan berarti karena butuh atau apa. Tapi karena memang betul-betul “ingin memiliki”.

Kenapa..?? bisa ada banyak alasan kalau untuk kenapa nya. Karena memang sekedar Passion, Gengsi, Up to date, atau masih banyak alasan lainnya. Yang jelas, nampaknya orang zaman sekarang itu beli barang sudah bukan karena butuh akan fungsional barang tersebut, tapi butuh karena untuk fungsi lain dari barang tersebut. emang ada fungsi lain..?? ada.. semisal BB. contoh kasusnya adalah BB yang di Pacific Place (PP). Kalau saya dapet BB yang di PP itu, pride saya akan terangkat di pergaulan saya. Kenapa..?? orang-orang akan banyak membicarakan saya dengan gadget saya yang baru itu, murah pula.. Pride naik, punya gadget baru, murah, batin merasa terpuaskan. lengkap sudah kebutuhan batin. Padahal, saya tidak menggunakan fitur BB baru itu 100%nya. paling hanya browser, BBM, sms, nelpon pun kadang pake HP lain yang CDMA yang lebih murah. Saya tidak peduli dengan semua itu, yang penting saya punya gadget baru itu

Orang-orang sekarang itu butuh “pride” nya, bukan karena fungsionalnya. Ya, secara sekilas, kita memang sangat konsumtif. Bandingkan produk yang kita produksi dan yang kita konsumsi, pasti jauh lebih besar produk yang kita konsumsi. kita ini memang bangsa pemakai, bangsa konsumtif.

Wajar, kenapa BB berani meluncurkan produk pertamanya di Dunia ini di Jakarta, di Indonesia. Kenapa..?? ya karena Kita itu adalah bangsa dengan jumlah konsumen BB terbanyak di dunia. Dan orang2 marketing sudah tahu itu sejak lama. Mereka melihat pasar yang sangat besar di Indonesia karena orang Indonesia itu mudah sekali tergoda untuk “memiliki” barang. ya kan..??

balik lagi ke pertanyaan awalnya. Kenapa..??!! kenapa kok bisa kayak gini..??!!

Menurut ADB (Asian Development Bank), di laporannya mengungkapkan bahwa memang sedang terjadi ledakan besar jumlah middle-class di Asia, termasuk di Indonesia. dengan kata lain, Asia sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dibandingkan dengan kawasan lain.

Nah, berarti si middle-class di Indonesia (jakarta mungkin lebih tepatnya) memang sedang meningkat menjadi 40-an%. Artinya kebutuhan primer seperti sandang dan pangan sudah pasti terpenuhi. Nah, karena primernya sudah terpenuhi, akhirnya kita ini mencari kebutuhan sekunder. Biasanya berupa rekreasi. Rekreasi ini bisa berbagai macam jenisnya. dan Akhirnya belanja itu menjadi sebuah rekreasi tersendiri untuk sebagian golongan orang. karena mungkin lahan rekreasi terbatas. Manusia memang butuh rekreasi, untuk memuaskan kebutuhan batin nya.

Daya beli masyarakat pun otomatis meningkat dengan drastis dalam waktu yang sebentar. Momen inilah yang dimanfaatkan oleh para marketing perusahaan2 penjual barang, terutama gadget. Mungkin kasarnya si middle-class ini butuh “menghabiskan” uangnya karena kebutuhan primernya sudah terpenuhi. Jadilah masyarakat yang konsumtif dan rela mengantri panjang hanya demi sebuah pride tercipta di masyarakat kita.

Hal lain yang perlu dipelajari adalah, dengan terciptanya banyak middle-class ini, berarti banyak orang mampu baru. Yang asalnya miskin, kemudian tiba-tiba kaya. Secara psikologis sederhana sih, orang miskin pasti mendambakan kekayaan, dan saat dia tiba-tiba dikasi kekayaan, pasti nafsu dia pun akan semakin besar untuk memenuhi hasrat dan keinginannya menjadi seorang yang kaya. yang pasti dia butuh sebuah pengakuan kalau dia itu adalah termasuk orang yang “mampu”. hal ini juga mungkin yang menjadi faktor pendorong timbulnya masyarakat baru dengan kelakuan seperti itu.

Sebetulnya itu kembali ke pribadi masing-masing. Pintar-pintar dan bijak-bijaknya kitalah yang mempengaruhi itu semua. Memang tidak ada di undang-undang yang melarang hidup konsumtif. Tapi alangkah sangat bijaknya jika uang yang kita punya memang dikeluarkan dengan porsi dan maksud yang baik.

Yah, mungkin itu sedikit gambaran dari saya pribadi. Entah mungkin ada pendapat lain mengenai hal ini..??

3 thoughts on “Bangsa (kasihan) yang (sangat) Konsumtif

  1. memang saat ini bangsa kita sangat konsumtif. ini juga karena tanyangan tv mempengaruhi masyarakat untuk tampak “mampu”. bahkan kadang masyarakat ekonomi lemah yang ingin gaya gayaan dengan BB memaksakan diri untuk memilikinya dan kadang dengan cara yang tidak semestinya

  2. Mantaaap ya….middle class lah….
    Rasanya kita pernah diajari spt ini : ” Hemat pangkal kaya, rajin pangkal Pandai” … skr sdh pada kaya jadi bingung mau ngapain lagi setelah kaya… peribahasanya perlu di revisi ya : setelah kaya tetap harus hemat dan setelah pandai tetap harus rajin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s