Titik potong

Aku ingin mendambakan seseorang seperti dulu..
Aku ingin merindukan seseorang seperti dulu..
Aku ingin mencintai seseorang seperti dulu..

sekarang..
rasanya tidak sehebat saat mendambakan apa yang diimpikan..
Ternyata tidak ada tempat untuk menampung rasa-rasa itu kini.
Ingin terbang pun sulit, tidak sebebas dahulu.
Namun saat rasa ini butuh tertumpah, tidak ada tempat untuk menampungnya.
Rasa ini tidak mengalir, stagnan.
Membusuk di dalam dada, menghancurkan tulang rusuk, merusak apa yang ada di dalamnya.

Saat amarah memuncak, bukan semilir angin yang berhembus, hanya teriknya matahari yang aku hadapi.
Saat dunia ini menjadi dingin dan gelap, matahari enggan bersinar. Hanya Pekatnya hitam yang mewarnainya.
Keseimbangan itu nampaknya tidak terjaga. Ketidakberaturan, Tidak berwarna.
Teriakan itu selalu mengganggu isi kepalaku. Saat sesuatu keluar dari kepala ini, tidak ada pengakuan sepertinya, hanya sanggahan dan pembenaran.

Saat aku melempar, kemudian aku terlempar
titik keseimbangan itu ternyata bukan di tengah. Garis ini selalu sejajar, tidak ada yang mau menempatkan diri pada keseimbangan. garis sejajar tidak akan membentuk sebuah bangun, namun monoton tidak terbatas.
tidak ada titik perpotongan antara rasa ini dan rasa itu.

Lalu, aku hanya bisa diam. tidak bergeming menunggu dunia ini berubah menjadi stagnan tanpa warna tanpa rasa.. mengambang dalam ruang hampa dengan berbagai argumen.
tenggelam tanpa keseimbangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s