Hendra Aripin – Raksasa Berhati Lembut

Malam ini, baris demi baris doa terpanjat khusyuk dari majelis babaca di Desa Belangbelang, Halmahera Selatan. Seluruh warga desa berkumpul mengirimkan doa untuk Hendra Aripin, bapak guru mereka yang berpulang kemarin; Sabtu, 22 September 2012.

Pengajar Muda penerus Hendra, Ihsan Abdusyakur menuturkan, hampir setiap menit rumah papa piara Hendra, Pak Mus, kedatangan pelayat. Dia bercerita, masyarakat datang bolak-balik hanya untuk melihat foto Bapak Hendra, tak kuasa menahan tangis, lalu berdoa. “Jarang sekali babaca sampai seluruh kampung yang datang seperti saat ini,” katanya.

Kabar kepulangan ‘Bapak Hendra’, begitu warga memanggilnya, datang mendadak. Terakhir kali mereka bertatap muka saat Hendra pamit dari Belangbelang, November tahun lalu.  Saat itu sudah tunai tugasnya selama setahun penuh sebagai Pengajar Muda di pelosok Maluku Utara sana.

Walau hanya selama selusin purnama mereka bersama, namun siapa warga yang bisa lupa kepada Bapak Hendra. Dia satu-satunya sosok guru yang selalu aktif mengajar di SDN Inp Belangbelang. Dia selalu mengisi kekosongan kelas berapapun yang ditinggal guru. Dia buatkan jadwal belajar bergiliran agar semua murid mendapat hak belajar sama.

“Saya datang menawarkan diri bukan hanya untuk menjadi guru, melainkan saudara,” begitu kata-katanya yang masih membekas di benak warga.

Watak orang Timur yang konon keras pun lantas melunak, luluh oleh tawaran tulus dari Hendra. Sebut saja ketika Pak Mus sengaja membuatkan saluran air dari gunung ke rumah. “Kasihan toh, dia sudah ajar anak-anak kita sampai malam, masak pulang harus mandi ke gunung. Kalau begini kan enak,” begitu kata Pak Mus waktu itu.

Fotografer profesional, Edward Suhadi yang pernah mengunjungi Belangbelang pun ikut berkisah tentang figur Hendra.”Dia adalah sosok gentle giant. Kasar dan lantang di antara kita, tapi di kampungnya ke mana-mana dia dipanjati anak-anak didiknya,” tulisnya di Twitter. Posturnya yang tinggi besar membuatnya terlihat seperti raksasa, namun tidak ada yang akan menyangsikan kelembutan hatinya.

Beberapa bulan terakhir Hendra memang sedang bergulat dengan hidup, menaklukkan penyakit yang sudah lama dia derita. Di salah satu ruangan kantor Indonesia Mengajar terpasang foto Hendra dan anak-anak muridnya. Setiap kali ada orang yang masuk, hampir setiap kali itu pula mereka menanyakan kabar kesehatan Hendra kepada Rahmat Danu Andika, officer yang berkantor di ruangan itu.

Andika dan Hendra cukup banyak berbagi irisan jalan hidup. Mereka berinteraksi sejak kuliah di Institut Teknologi Bandung, delapan tahun lalu hingga sama-sama menjadi Pengajar Muda yang ditempatkan di Halmahera Selatan, tahun 2010-2011. “Saya kenal dia sebagai pribadi yang kritis, berani dan blak-blakan. Dia juga tangguh dan kaya ide-ide unik,” ucapnya.

Kekaguman akan sosok Hendra juga terlontar dari Rhamdani Kurniawan, sejawatnya sesama Pengajar Muda yang ditempatkan di SDN Indomut, Halmahera Selatan. Rhamdani tak kenal banyak keturunan etnis Tionghoa yang mau meninggalkan kenyamanan untuk ikut melunasi janji kemerdekaan seperti yang Hendra lakukan.

Kepergian Hendra merupakan kehilangan yang pertama sekaligus amat berarti bagi kami, Keluarga Besar Indonesia Mengajar. Tak hanya menjadi Pengajar Muda, sepulang dari Belangbelang Hendra dia tetap aktif bergiat menjadi relawan di Kelas Inspirasi dan Indonesia Menyala.

Pada sebuah pagi yang teduh Hendra meninggalkan kita semua di usianya yang baru menginjak 26 tahun. Kami sedih sekaligus bangga. Kami sedih karena ia kembali kepada-Nya dalam usia muda. Sedih pula karena kami masih amat membutuhkannya dalam perjuangan panjang ke depan.

Namun kami juga bangga. Bangga karena ia telah paripurna memenuhi semua kewajibannya sebagai manusia. Ia patuh pada Tuhannya. Ia penuh berbakti pada orang tuanya. Dan ia telah pula mengabdi pada bangsanya.

Maka dengan ikhlas kami melepas Hendra, atau juga kami akrab sapa Aheng, teman terbaik kami untuk kembali kepada-Nya. Semoga ia diterima dengan lapang di sisi-Nya, diampuni dosanya dan digandakan pahala atas segala amalnya.

Aheng, selamat jalan. Kehormatan bagi kami pernah berjuang bersisian denganmu.

sumber :

http://www.facebook.com/notes/indonesia-mengajar/obituari-mengenang-hendra-aripin-raksasa-berhati-lembut/506660552695806

=======================================================================

ada beberapa tulisan Aheng di dunia Maya, dulu saya sempat nge-save blog nya dia, tapi saya lupa, nampaknya kehapus :

https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hendra-aripin

Heng, orang seperti lo sangat langka di Dunia. Lo orang yang bersesuaian antara perkataan dan perbuatan. Banyak ide dan gagasan briliant yang selalu keluar dari kepala lo. Terima kasih atas semua pelajaran, sharing, pengalaman. Lo sudah membuktikan diri sebagai Manusia yang bisa bermanfaat bagi manusia lainnya. Hidup lo sudah menjadi inspirasi banyak orang. Lo sudah menjadi pahlawan yang mungkin melebihi super hero manapun di dunia bagi anak2 lo.

Semoga pengabdian lo menjadi saksi di hadapan-Nya kelak.

Selamat jalan Kawan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s