The Third Place – Sebuah Masyarakat Urban Semu di Indonesia

Dua Tulisan di bawah ini saya copy paste dari tulisan 2 orang jago dari milist sebelah. Semoga bisa membuka wawasan tentang konsumerisme yang terjadi di negara dan bangsa kita saat ini. Kita ini negara pancasila atau negara kapitalis kah..?? apa sebetulnya yang dibutuhkan oleh masyarakat dan individu sebetulnya..?? hiburan kah..?? mall kah..?? ternyata bukan.. yang dibutuhkan itu adalah sedikit kehidupan sosial yang sederhana.

=========================================================================

Mall di Jakarta

Nampaknya Gubernur terpilih DKI Jakarta akan ‘menghadapi’ Gurita properti raksasa seperti Ciputra dan Grup Lippo. Dalam harian Kompas hari ini, halaman 19, terdapat berita berjudul “Ciputra buat Ikon, Lippo bangun 13 mall”.

Berita tersebut dimulai dengan paragraf “Bisnis properti semakin bergairah”.

Ciputra (melalui PT. Ciputra Property Tbk) membangun kawasan Jl.Prof.Dr.Satrio menjadi ikon pusat komersial DKI Jakarta, setara dengan ikon pusat perbelanjaan dan hiburan di kota besar dunia seperti Orchard Road Singapura, Champs Elysees Paris, dan Ginza Tokyo. Cita-citanya adalah: Jakarta memiliki ‘commercial shopping street’.

Sementara itu di tempat berbeda, CEO Lippo Mall Michael Riady akan mengembangkan 13 mall-mall baru di 5 kota besar Indonesia (Jakarta, Bali, Medan, Surabaya, dan Semarang). Menurut Michael “mall adalah yang diinginkan konsumen Indonesia sebagai tempat hiburan, sosial, kerja dan penyelenggaraan acara”.

Ngeri sekali kalau memang benar ‘observasi’ Michael Riady bahwa masyarakat Indonesia (perkotaan?) menginginkan mall sebagai tempat hiburan, sosial, kerja dan penyelenggaraan acara. Jika ‘hipotesis’ (atau jangan-jangan/mudah-mudahan ‘klaim’) ini dipotret dengan berbagai kacamata, saya kira mungkin akan bisa menjadi kajian menarik tentang ‘masyarakat perkotaan Indonesia’ yang mungkin menarik juga buat Pemerintahan Baru Jakarta di bawah Jokowi-Ahok (yang tentunya menarik juga buat para kapitalis).


Potret pertama: Dari kacamata sosiologi (umum) saya kira hipotesis (atau klaim) ini menyedihkan karena makna yang ditangkap adalah ‘masyarakat perkotaan di Indonesia’ memaknai hidup dengan mereduksinya sedemikian rupa dalam kegiatan-kegiatan yang konsumtif, bahkan ‘maaf’ intelektualitas ‘masyarakat perkotaan’ di’setir’ oleh nafsu-nafsu ‘konsumtif’ mereka yang dengan ‘cerdas’ ditangkap oleh ‘pebisnis’ yang senantiasa mengeluarkan ‘produk-produk baru’ yang sebetulnya tidak ‘terlalu dibutuhkan’ yang dipajang dalam ‘etalase-etalase’ indah di mall-mall di kota besar yang disusun sedemikian rupa sehingga nuansa-nuansa ‘palsu’ pun dihadirkan seperti mall dengan gaya ‘Eropa’ dsb (sekali lagi ‘dunia simulasi’ nya Jean Baudrillard). Betapa ‘penyakit sosial’ masyarakat yang berakar pada ‘konsumerisme’ begitu mengakar.

Potret kedua: Dari kacamata geografi dan juga ilmu tentang ‘common’: mall merupakan sebuah ‘mass private property’ yang merupakan properti pribadi/ kelompok (bukan publik) yang dibangun sedemikian rupa dengan fitur-fiturnya yang kemudian membuatnya ‘terlihat’ seperti ruang publik. Pemilik memegang hak untuk mengeksklusi orang luar dari properti ini walau dalam prakteknya terlihat sebagai sebuah ruang publik pada umumnya yang bisa diakses oleh semua warga (Seharing and Wood, 2003). Segregasi ‘sosial’ dalam kota besar juga akan terjadi karena pada dasarnya yang ‘bekerja’ di mall-mall tersebut membutuhkan ‘support’ sosial-ekonomi sesuai dengan ‘gaji’ mereka (sebagai buruh pekerja) yang sejauh saya tahu tidak mencukupi untuk ‘beradaptasi’ dengan gaya hidup ‘mall’ dan tidak didukung oleh infrastruktur publik yang seyogyanya murah dan terjangkau (seperti transportasi), apa yang terjadi? Tidak heran di daerah-daerah ‘sekitar’ mall, tumbuh ruang-ruang ‘publik’ lain seperti ‘pangkalan ojek’, ‘warung-warung tegal’ dsb., walaupun ‘ghetto-ghetto’ tersebut tidak ‘dirancang’, tapi ‘logika sosial-ekonomi-politik’ yang neo-liberalistik menjadi ‘faktor pendorong’ tumbuhnya segregasi sosial tersebut. Tentunya dengan konsekuensi-konsekuensi sosial-ekonomi-politiknya akan mengikuti seperti ‘preman-preman penguasa wilayah’ dsb. Tatangan lain buat Jokowi dan Ahok , dan kita semua!

Potret ketiga: Dari kacamata analisis kelas: Klaim (hipotesis?) tersebut memperkuat segregasi ‘kelas’ antara ‘kelas’ pemodal dan kelas ‘proletar’ / buruh (yang tidak semua terlihat seperti ‘buruh’ yang mungkin selama ini kita bayangkan). Pekerja-pekerja di ‘etalase-etalase mewah mall’ tersebut adalah ‘buruh-buruh’ yang ‘menjual’ tenaga kerja mereka kepada ‘korporasi’, sementara ‘buruh-buruh’ kerah putih lain menjadi ‘konsumen’ setia dari korporasi-korporasi yang senantiasa ‘membius’ dan mendorong konsumerisme dan menarik masyarakat untuk datang ke mall alih-alih menikmati taman-taman kota (yang masih ada), alih-alih untuk membicarakan ‘kualitas hidup perkotaan’ dengan sesama warga lain dan mencoba berbuat (tidak berhenti pada bicara saja). Buruh kerah putih tersebut menjadi ‘kelas menengah’ yang cukup sadar akan apa yang terjadi, tetapi sayangnya berhenti dalam berwacana yang difasilitasi oleh ‘Facebook’ , ‘twitter’ dsb. Partisipasi publik diwakili oleh ‘tombol like’ di Facebook. Salah satu tantangan lagi buat Jokowi dan Ahok , dan kita semua.

Di sini menariknya mengkaji kapitalisme, karena di adanya ‘tension’ antara memeberikan ‘harapan penghidupan’ di satu sisi (dengan membuka lapangan kerja dan sebagainya) dan di sisi lain mendorong adanya ketimpangan sosial-ekonomi serta disparitas.

– Irendra Radjwali –

=========================================================================

The Third Place

Sudah mulai nampak muka sebenarnya dari mereka yang sangat berkepentingan untuk melanjutkan “status quo” dalam pilkada Jakarta yang baru lalu. Setelah terbukti menang 2 putaran pun masih saja, setiap ada kesempatan, Jokowi-Ahok diogrok-ogrok bahkan sebelum mereka memangku jabatannya yang baru. Orang-orang itulah yang punya kepentingan paling besar, kepentingan bisnis, kepentingan emporiumnya. Mereka ini sekarang ketakutan kalau rencana-rencana bisnisnya terhenti … karena Jokowi (begitu juga Ahok) sudah terlihat dari track-recordnya, lebih mementingkan rakyat banyak (konstituen) ketimbang kolusi segelintir pengusaha-penguasa yang tidak pernah terpuaskan (insatiable) dalam harta dan kuasa. [Coba baca lagi kasus bekas pabrik es Sari Petojo yang melibatkan gubernur Jateng Bibit Waluyo, yang mengatai-ngatai Jokowi sebagai “walikota bodoh” karena tidak menyetujui pembangunan mall mewah di lokasi bekas pabrik bersejarah tersebut.]

Nah sekarang, apa memang benar mainstream masyarakat kita itu begitu “konsumtif” nya ? Saya rasa tidak — kecuali beberapa gelintir yang mampu pergi ke mall-mall di Singapura untuk belanja kebutuhan sehari-hari (entah duitnya dari mana🙂 atau dikit-dikit mengeluh dan berobat ke kota singa itu … Memang konsumerisme itu juga bisa diciptakan dan ditingkatkan dengan membuat ilusi semu… seolah beginilah lifestyle yang ‘modern’ maju, dsb … via brainwashing yang terus menerus melalui media maupun policy dari kolusi pengusaha-penguasa.

Coba pikir, apakah dengan tingkat pendapatan masyarakat yang sekarang, bahkan 15 tahun lagi [forget about those 2030 prediction craps … 2030 kita akan melampaui Jerman … my foot!], apakah sebagian besar penduduk jakarta/Indonesia akan bisa atau mampu menjadi konsumtif seperti yang digambarkan atau diharapkan para tycoon tersebut? Jadi sebetulnya pembangunan mall-mall atau kompleks gemerlap di Jl. Satrio itu sebetulnya untuk siapa … untuk rakyat banyak? no way; untuk elite kita .. hmmm, mereka lebu suka ke S’pore yang tidak macet, dan aman. Lalu untuk apa sesungguhnya? ya demi harta, kuasa ditambah ego pribadi semata. Anggaran dan kepentingan negara/rakyat terlalu berharga untuk pet project dan idea yang selfish semacam itu.

Jadi apakah sebenarnya yang dibutuhkan rakyat?

Terus terang saya sendiri juga nggak pasti apa itu … tadinya. Tetapi setelah melihat dan menganalisa rencana Jokowi-Ahok yang mereka namai ‘superblok’ … rumah susun 7-8 tingkat yang disewakan dengan harga murah (subsidized) kepada mereka yang membutuhkan, yang dibawahnya ada puskesmas, ruang serbaguna, dan pasar dibawahnya. Rusun “tanpa mobil” yang tidak menambah kemacetan di jalan raya; lokasi yang berada disekitar kawasan perkantoran/pekerjaan yang berarti memperpendek travel, yang memungkin Jakarta memiliki 30% ruang hijau (paru-paru kota) … saya baru sadar betapa sederhananya rencana itu, tetapi begitu brilyan — yang bisa bikin orang yang menggeluti urban sociology selama ini jadi getok kepala sendiri “why I’ve never thought about this before.”

Apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh manusia?

Ray Oldenburg, seorang urban sociologist dari Florida, menyebutnya sebagai The Third Place,

… where people can gather, put aside the concerns of work and home, and hang out simply for the pleasures of good company and lively conversation – are the heart of a community’s social vitality and the grassroots of democracy.

sebagai kebutuhan esensial manusia dalam sebuah komunitas. Oldenburg melontarkan istilah ini pertama kali dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, “The Great Good Place” (Paragon House, 1991); yang sepuluh tahun kemudian ditilik kembali dalam “Celebrating the Third Place: Inspiring Stories about the “Great Good Places” at the Heart of Our Communities” (Marlowe & Co, 2000). Ditengah kegalauan “modernisasi” yang membuat self-isolation (lu-elu gue-gue; pagar rapat yang mengelilingi setiap rumah), sosialisi manusia terbatas pada rumah/keluarga (The First Place) dan pekerjaan/kantor (The Second Place). Menurut Oldenburg …

“Most needed are those third places which lend a public balance to the increased privatization of home life. Third places are nothing more than informal public gathering places. The phrase ‘third places’ derives from considering our homes to be the first places in our lives, and our work places the second.”

Third place ini bisa berupa local cafe, barber shop (di Brazil sangat populer), bowling alley, atau spesifik di kota saya dulu (Madison, WI), downtown State Street atau The Terrace — halaman UW Student Union yang terletak dipinggir danau Mendota yang praktis menjadi “living room” dari penduduk kota. dll. dimana oragn pada ngumpul, kenal satu sama lain, dan tidak kenal tingkat sosial-ekonomi maupun hierarki ditempat kerja. Shopping mall tidak termasuk dalam golongan “Third Place” ini … tidak pernah ada sense of community di shopping mall. Ujar Oldenburg …

“Totally unlike Main Street, the shopping mall is populated by strangers. As people circulate about in the constant, monotonous flow of mall pedestrian traffic, their eyes do not cast about for familiar faces, for the chance of seeing one is small. That is not part of what one expects there. The reason is simple. The mall is centrally located to serve the multitudes from a number of outlying developments within its region. There is little acquaintance between these developments and not much more within them. Most of them lack focal points or core settings and, as a result, people are not widely known to one another, even in their own neighborhoods, and their neighborhood is only a minority portion of the mall’s clientele.”

– Moko –

=========================================================================

Jadi, gw harus bilang WOW kenceng2 gitu..??!! fcuk with all those capitalism doctrine and mindsets..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s