Sabtu Sore

Sabtu itu angin berhembus dengan lembut, membisikkan pada kalbu apa itu rindu. Melarutkan rasa yang selama ini ada, membuat gemintang benderang pada konstelasinya. Garis manis itu terlukis sempurna pada komposisi ruang muka yang merona. Dirinya menyanggah semua rumus ilmiah tentang gravitasi. Karena pusat semesta perlahan bergeser pada satu titik dimana Dia berdiri tersipu.

Jika gaya adalah perkalian antara massa dengan percepatan, maka saat itu variabel waktu terhenti untuk sesaat. Yang ada adalah variabel rasa yang tidak terdefinisi oleh kalkulasi apapun.

Mata itu berbicara tentang kejujuran, keteguhan, dan keindahan. Simpul senyum yang sanggup merajut rasa pada degup jantung. Merdunya gemercik hujan musim kemarau meleburkan kata-kata manis. Siang itu, gemintang memberikan senyuman pada semesta mengenai keindahan proporsi garis-garis yang terlukis padanya.

Adalah relativitas berbicara tentang varibel jarak dan waktu, maka rasa adalah hal yang mutlak. Menembus cahaya, menyingkap debu-debu angkasa. Hati, semerah ledakan supernova, menggetarkan seluruh pembuluh darah, mengumpulkan nya pada reseptor di kepala dengan kejutan-kejutan listrik berjuta volt.

Keberanian untuk sebuah loncatan quantum itu ternyata muncul saat amigdala sudah tidak berfungsi. Hanya sistem parasimpatetik yang mengambil alih seluruh pandangan. Dopamin mengalir deras meninggalkan segala memori hitam di masa lalu.

Semesta ikut tersenyum melihat Kamu tersenyum di Sabtu sore itu.

wanita-muslim-ilustrasi-_120503210205-254

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s