Cerita Tentang Kebenaran

seorang guru memberikan penjelasan kepada murid-muridnya.

“Anak-anak , di tangan kanan ibu ada sebuah kapur dan di tangan kiri ibu ada sebuah penghapus”. Ucapnya.

“Iya bu …” jawab anak-anak sekelas.

Lalu guru tersebut mulai memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya.

“kalau ibu angkat tangan kanan, kalian katakan kapur ya, Nak? dan bila ibu angkat tangan kiri, maka katakan penghapus?” tanyanya.

Murid-muridnya pun serempak menjawab “iya”.

Permainan pun di mulai, murid-muridnya begitu antusias mengikuti apa yg diperintahkan gurunya.

“Bagaimana mudah kan, Nak ?” sang guru bertanya.

“iya Bu, mudah …” jawab murid-muridnya.

Lalu guru tersebut memberikan pertanyaan kedua.

“Anak-anak, sekarang nama bendanya dibalikan ya? Yang kapur menjadi penghapus dan penghapus menjadi kapur, Mengerti anak-anak….?”.

Murid-muridnya pun dengan semangat menunggu perintah yang akan diucapkan oleh gurunya. Kemudian sang guru pun melanjutkan permainannya.

“ini apa anak-anak?” (mengangkat tangan kiri yg menampilakn penghapus).

Lalu murid-muridnya pun menjawab, hanya sedikit yang benar dan banyak yang salah. Sang guru pun melakukannya beberapa kali hingga murid-muridnya terbiasa dan bisa menjawab dengan benar. Permainan pun selesai dan sang guru memberikan penjelasan kepada murid-muridnya.

“bagaimana anak-anak permainannya?”. Tanyanya.

Murid-muridnya pun menjawab dengan berbagai jawaban. Hanya untuk pertanyaan kedua banyak yang mengeluhkan.

“Bu, yang namanya dibalik awalnya agak susah, tapi lama kelamaan terbiasa dan bisa bu (tanya seorang murid dengan senyum bangga)?”.

Sang guru pun memberikan kesimpulan.

“Anak-anak, seperti itulah umat Islam jaman sekarang, ketika awal-awal masih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, akan tetapi ketika kebenaran itu dibalik menjadi kesalahan dan kesalahan dibalik menjadi kebenaran awalnya tidak terbiasa, akan tetapi karena terus di ulang maka mereka tidak bisa membedakan. Yang salah jadi benar dan yang benar jadi salah”.

“Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya.

“Paham Bu Guru”

benar salah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s