EGO

Setiap orang memiliki keinginan, setiap orang memiliki nafsu untuk memiliki sesuatu, baik yang sifatnya lahir atau batin. Keinginan dari dalam diri sendiri ini yang biasa kita dengar dengan sebutan ego. Sudah banyak yang mendefinisikan arti kata ego, dan dari banyak definisi tadi, kita akan banyak menemui kata AKU. Ego itu adalah konsepsi mengenai diri sendiri.

Pada fitrahnya manusia dibekali yang namanya hawa nafsu oleh Tuhan, dan dari nafsu itulah ego pada setiap diri manusia berasal. Jadi, sudah menjadi fitrah manusia memiliki yang namanya ego.

Ego sendiri akan erat hubungan nya dengan kata “Aku ingin …”. Manusia itu butuh yang namanya peng-AKU-an, butuh yang namanya aktualisasi diri, dan itu sudah menjadi kebutuhan primer manusia secara batin. Ego akan terbawa kemanapun seseorang berada dan melangkah.

me-myself-and-i

Ego fokus pada kepentingan diri sendiri, jadi dengan ego lah manusia bisa memenuhi kebutuhan akan dirinya sendiri. Namun akan menjadi hal yang menarik jika ego pribadi ini bertemu dengan ego manusia lain di sekitar kita.

Sudah menjadi fitrah pula jika manusia juga menjadi makhluk sosial yang hidup dengan sesama manusia lain nya di dunia ini. Disinilah yang menjadi benturan dari ego pribadi. Setiap individu akan membawa ego nya masing-masing, dan ego nya itu akan beririsan atau berbenturan dengan ego individu lain.

Akan menjadi masalah jika setiap orang membawa ego nya masing-masing dan tidak peduli dengan ego orang lain. Orang yang terlalu kuat memegang ego pribadinya akan bersikap tidak peduli akan realita di sekitarnya, tidak bisa menerima kenyataan bahwa apa yang dia inginkan tidak akan selalu berjalan sesuai dengan keinginan nya. Dia hanya akan peduli dengan sudut pandang, persepsi, dan konsepsi dirinya sendiri.

Orang lain akan sulit berkomunikasi dengan orang semacam ini, karena orang dengan ego tinggi akan sulit menerima perbedaan. Keinginan nya adalah dia bertahan dengan persepsi dia, dan orang lain harus tunduk, patuh, dan mengikuti persepsi dia tersebut.

Teenagers-at-Starbucks-The-Anti-Social-Media

Disinilah pentinganya pengendalian ego pribadi, atau mungkin pernah kita dengar dengan sebutan pengendalian diri. Kita harus menyadari jika kita ini hidup dalam sebuah tatanan sosial masyarakat, tidak hidup sendiri. Hidup kita juga berkaitan, dan bergantung pada orang lain, tidak bisa kita hidup sebagai individu tunggal.

Dari situlah seharusnya muncul rasa toleransi terhadap orang lain. Kita harus bisa menerima, jika kita tidak bisa memiliki dan mewujudkan semua apa yang kita inginkan. Jika kita tetap teguh dengan ego kita, biasanya orang lain akan menilai kita sebagai orang egois, individualis, anti-sosial, tidak bisa hidup dalam realita, hidup dalam imajinasi dan keinginan nya.

humble-beginings

Ego itu bisa dikendalikan, bisa dilatih supaya tidak sepenuhnya menguasai diri kita. Karena jika ego sudah mengendalikan emosi, kita akan terbutakan dengan realita, hidup dalam angan-angan sendiri. Kemampuan mengendalikan ego ini biasanya kita dengar sebagai kecerdasan emosional (Emotional Quotient / EQ).

Salah satu bentuk pengendalian ego adalah dengan cara rendah hati. Bagaimanakah bentuknya..?? Kita jauhkan diri kita dari berbagai keinginan, karena biasanya ego berbentuk sebuah keinginan untuk memiliki. Bukan artinya kita tidak boleh memiliki segala apa yang kita inginkan, tapi kita harus tahu porsi dan tahu waktu. Kita harus pandai menilai situasi yang ada di sekitar kita, barulah dari situ kita bisa menentukan kita akan bersikap seperti apa nantinya.

Ego itu biasanya mendefinisikan sesuatu sebagai MENANG dan KALAH. Kita harus jauhi pandangan seperti itu, mengapa..?? kita tidak bisa seterusnya menjadi pemenang, dan pada fitrahnya kita tidak mau berada dalam posisi kalah. Persepsi mengenai menang dan kalah inilah yang selalu menghantui kita. Pernah dengar kata-kata “Mengalah bukan berarti kalah“..?? Kita harus bisa menerima jika kehidupan ini berputar seperti roda, tidak selamanya kita bisa berada di atas dan selama nya di bawah. Tuhan menciptakan segala sesuatu berlawanan itu supaya kita bisa mengambil pelajaran dari kedua sesuatu yang berlawanan itu. Ada baik ada jahat, ada atas ada bawah, ada kiri ada kanan, ada depan ada belakang. Dan dari setiap sesuatu yang berlawanan ini, kita akan mengalaminya dalam yang namanya kehidupan.

Kita juga harus mengubah persepsi mengenai BENAR. Benar itu terkadang relatif terhadap sudut pandang orang, sehingga kita juga tidak bisa memposisikan kita sebagai individu yang selalu BENAR, dan individu lain salah, karena berbeda persepsi mengenai kebenaran. Kebenaran mutlak itu hanya datang dari Tuhan, dan kita hidup untuk mencari dan mengikuti kebenaran itu. Tapi sebagai manusia, kita tidak bisa men-judge orang lain itu benar atau salah, karena judgement itu sendiri datangnya dari persepsi pribadi kita. Setiap individu memiliki persepsinya masing-masing, sehingga definisi kebenaran itu menjadi relatif.

Setiap individu pasti hidup dengan sebuah prinsip, atau paham yang dia pegang untuk menjalani hidupnya. Prinsip hidup inilah yang biasanya menjadikan ego menjadi tinggi. Tidak salah menjadi orang yang berpegang teguh pada prinsip pribadinya, namun yang bermasalah saat prinsip hidup nya itu ternyata tidak sesuai atau tidak bisa beradaptasi dengan masyarakat. Kita tidak tahu apakah prinsip yang kita pegang selama ini benar atau salah. Kembali lagi ke konsepsi mengenai benar salah sebelumnya.

pasir-hitam-620x264

Coba kita ambil pasir dengan kita, satu di tangan kiri, satu di kanan. Kemudian genggam dengan erat pasir yang ada di tangan kanan kita, dan biarkan pasir yang ada di tangan kiri kita. apa yang terjadi..??

Pasir di tangan kanan sebagian akan jatuh tercecer, memadat, mengeras, dan jumlah yang ada di genggaman kita semakin sedikit. Tangan kita menggenggam, sehingga sulit untuk jika kita ingin menambahkan pasir di tangan kita.

Lalu bagaimana pasir yang ada di tangan kiri kita..?? jumlahnya lebih banyak dari yang ada di tangan kanan, dan masih bisa bergulir bebas, tidak memadat. Karena telapak tangan tetap terbuka, kita masih bisa menampung beberapa jumlah pasir lagi ke atas telapak tangan kita hingga penuh dengan sendirinya.

Sama dengan prinsip, semakin kita memegang erat prinsip dan tidak mengindahkan realita di sekitar kita, pandangan hidup akan semakin sedikit, sempit, keras, tidak bisa bergerak dengan bebas. Namun jika kita membiarkan prinsip itu begerak bebas, pikiran kita akan lebih terbuka dan lebih bisa menerima realita dan perbedaan yang ada disekitar kita.

ego einstein

Lalu, bagaimana dengan passion terhadap hidup jika kita tidak egois..?? Passion timbul dari motivasi, bukan ego. Motivasi berbeda dengan ego. Jika ego memuat nafsu untuk memiliki atau mencapai sesuatu, motivasi lebih didorong oleh adanya alasan untuk memiliki atau mencapai sesuatu. Ego itu tidak berasalan hanya berdasarkan nafsu dari dalam diri, sedangkan motivasi bisa berasal dari luar diri kita, dari lingkungan sekitar kita.

Jangan biarkan ego menguasai pola pikir dan kepribadian kita, niscaya kita akan menjadi individu yang tidak bisa menerima kenyataan dengan pemikiran sempit yang hanya mementingkan diri sendiri. Jika hal itu sudah terjadi, siapkan diri kita menjadi individu yang anti-sosial. Memang tidak mudah untuk berdamai dengan ego kita sendiri, namun apa yang ada di dalam diri kita hanya kita dan Tuhan yang paling tahu. Kita adalah pilot bagi diri kita sendiri, kita yang menentukan kita ini akan menjadi seperti apa, bukan ego yang menentukan.

– Dari pemikiran pribadi, berbagai sumber pengalaman, dan literatur –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s