Tentang Terorisme

Saya mencoba untuk menulis tulisan ini memang dilatarbelakangi oleh kejadian pemboman tanggal 14 Januari 2016 di jalan M. H. Thamrin, Jakarta, Indonesia. Saya tidak akan membahas mengenai aktor dibalik serangan itu siapa, motif nya apa, sasaran nya siapa. Namun, saya akan mencoba membahas mengenai terorisme itu apa secara umum.

Terorisme, secara etimologi berasal dari kata teror, yang artinya (dari Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Selain itu, masih banyak yang mendefinisikan apa itu teror atau terorisme. Misalnya Rex A. Hudson, dalam bukunya yang berjudul The Sociology And Psychology of Terorism : Who Becomes A Terrorist And Why? (1999), mendefinisikan terorisme sebagai kekerasan terencana, bermotivasi politik, ditujukan terhadap target-target yang tidak bersenjata oleh kelompok-kelompok atau agen-agen bawah tanah, biasanya bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat. Atau bisa kita lihat pengertian A. M. Hendropriyono dalam bukunya Terorisme : Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam (2009), menyebutkan bahwa terorisme merupakan penggunaan atau ancaman penggunaan kekerasan, yang bertujuan untuk mencapai terjadinya perubahan politik.  Masih banyak lagi definisi lain mengenai terorisme ini, namun pada pengertian nya selalu ada unsur kekerasan, tujuan, kelompok/golongan, dan banyak juga yang menyebutkan kata kunci politik.

blog_terror_wordcloud

Dalam sejarahnya, terorisme sudah ditemukan pada masa Yunani kuno (350 SM), revolusi Prancis (1789), Perang Saudara Amerika (1891), dan masih banyak lagi. Namun terorisme modern dimulai pasca perang dunia I. Pasca perang dunia I, terorisme digunakan sebagai alat untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh dalam pemerintahan. Hal ini terjadi hampir di seluruh bagian dunia pada masa itu.

Jadi memang jika dirunut dari sejarahnya, terorisme ini erat kaitan nya dengan dunia politik di satu negara atau kawasan. Terorisme ini biasanya diciptakan untuk membuat ketidak-stabilan politik, untuk apa..?? kebanyakan untuk kekuasaan. Jadi sebetulnya sasaran terorisme sendiri bukan masyarakatnya, tapi rezim politik yang sedang berkuasa di satu kawasan. Masyarakat hanya digunakan sebagai ekses untuk menciptakan kekacauan. Jika masyarakat nya sudah kacau/chaos, stabilitas negara akan sulit untuk dijaga. Akan terjadi kekacauan di berbagai bidang kehidupan, sehingga pada akhirnya diharapkan rezim politik yang menjadi sasaran akan tumbang, atau minimal teralihkan perhatian nya akibat efek domino ketidak-stabilan politik.

Selain erat kaitannya dengan tindak kekerasan dan politik, terorisme juga sangat erat kaitannya dengan media. Kenapa media..?? mari coba kita lihat peran media dalam terorisme ini. Hudson (1999) menyebutkan lagi dalam bukunya bahwa media ini sangat penting peran nya bagi kelompok teroris. Kenapa..?? karena sebetulnya yang menyebarkan teror itu sebetulnya adalah media. Teroris itu hanyalah aktor yang bermain di lapangan. Sisanya, media yang menyebarkan kejadian kekerasan itu kepada masyarakat, sehingga muncul ketakutan di masyarakat. Selain itu, media juga dalam pemberitaan nya bisa menjadi referensi bagi para calon teroris untuk belajar mengenai metode/cara, situasi, tujuan, dan lain sebagainya.

Tidak menyalahkan media, namun pada kenyataanya media dapat dijadikan alat untuk memuluskan tujuan terorisme. Mari kita lihat contoh kasus kemarin tanggal 14 Januari 2016 di Thamrin, jakarta. Kejadian pemboman dan penembakan sekitar pukul 10 WIB hanya terjadi di Thamrin. Tapi melalui media, internet, dan pesan singkat, ledakan juga terjadi di Palmerah, Kuningan, Cikini, Slipi, Alam Sutera, dan tempat lainnya. Dalam berita lainnya, disebutkan juga ada teroris yang kabur membawa motor trail, membawa senapa laras panjang berkeliaran menuju ke arah Semanggi, serta berbagai berita viral lainnya.

Nah, bisa dilihat kan sekarang..?? mana sebetulnya yang menyebarkan teror itu. Pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta pun bisa menjadi teror, dan membantu pihak teroris untuk memuluskan tujuan nya, menimbulkan ketakutan di masyarakat. Jika pesan berantai yang belum dikonfirmasi kebenaran nya kita sebarkan lewat media komunikasi pun, bisa menjadikan kita disebut teroris. Karena memang kita menebar ancaman/situasi yang membuat resah ke orang lain.

cyber-terror-l

Kembali kepada pembahasan teroris secara umum. Kenapa harus islam yang sering disudutkan..?? kenapa tidak agama lain..?? Sama seperti Media, Agama juga ternyata dijadikan alat jitu teroris untuk mencapai tujuan nya. Sudah lama sekali perbedaan keyakinan dengan membawa agama menjadi sumber konflik. Nah, kondisi inilah yang dimanfaatkan pihak teroris. Lalu kenapa islam..?? kebetulan sekali, dalam islam itu mengenal dan populer sekali konsepsi jihad.

Jadi orang islam tidak boleh jihad..?? jihad itu kan kewajiban.. Bukan, kita bukan tidak boleh jihad. Namun kata Jihad ini yang menjadi senjata utama para teroris untuk menarik para relawan nya. Teroris itu membutuhkan massa, membutuhkan sumber daya manusia. Dari sinilah mereka banyak mendapatkan pengikutnya. Yang salah itu bukan ajaran islam, bukan jihadnya, namun pengertian jihad yang diputar balikkan pemahaman nya oleh para aktor intelektual teroris untuk mendapatkan banyak pengikut.

Saya pernah mengikuti kuliah umum mengenai terorisme ini yang dibawakan oleh seseorang dari polda metro jaya. Beliau bercerita mengenai salah satu cara bagaimana kelompok teroris itu biasa mendapatkan pengikutnya. Dalam sebuah rumah tahanan, para napi itu berasal dari berbagai latar belakang dan berbagai motif kejahatan, salah satunya teroris. Dalam rumah tahanan itu ada waktunya semua napi dilepaskan dari sel mereka untuk bersosialisasi dengan tahanan lain, namun masih dalam lingkungan Rutan.

Pada kesempatan sosialisasi ini, para napi biasanya bertukar cerita bagaimana mereka dulu, hal apa saya yang mereka pernah lakukan, bagaimana rencana kedepan setelah habis masa hukuman, dan lain sebagai nya. Jika kebetulan para napi ini bertemu dengan aktor intelektual teroris di dalam rutan (biasanya berkedok sebagai orang yang pintar agama), napi ini bisa dicuci otaknya oleh aktor tersebut. Secara psikologis, orang yang bersalah dan sedang menerima hukuman kebanyakan akan memiliki niatan untuk bertobat. Jika kebetulan menemukan “guru spiritual” berupa aktor intelek teroris, dalam perjalanan nya bertobat di dalam rutan, maka niatan tobat para napi itu akan sia-sia.

Aktor intelek ini pada awalnya bisa menjadi guru bagi para napi dengan mengajarkan agama pada mereka. Namun pada perjalanan nya, banyak dari ajaran agama itu yang dibelokkan maknanya, terutama konsepsi mengenai jihad. Jihad dalam ajaran aktor ini adalah melakukan perang terhadap kaum kafir yang tidak sepaham dengan ajaran agamanya. Jika kita mati dalam perjalanan melakukan jihad, maka akan dijanjikan surga dan 72 bidadari dari Tuhan. Nah, kira-kira ajaran seperti itu yang akan diputar balikkan oleh si aktor ini.

Secara etimologi sendiri, jihad berasal dari kata kerja jahada yang artinya mengerahkan segala upaya dan kemampuan. Namun pada perkembangan kehidupan masyarakat islam, pengertian jihad itu mengalami perluasan menurut ruang dan waktu. Perang hanya salah satu definisi dari jihad. Definisi jihad secara syariat yang paling komperehensif diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Jihad adalah mengerahkan segala upaya demi mencapai kebenaran yang diinginkan. Mencapai kebenaran yang diinginkan ini adalah dengan cara menolak hal-hal yang berkaitan dengan kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Nah, yang menjadi bias adalah masalah bagaimana caranya jihad itu, ada bisa didefinisikan dengan perang, namun juga bisa didefinisikan dengan hal lain, misalnya dengan perkataan, perbuatan lain, dan hal lain nya. Pada dasarnya adalah menolak hal-hal negatif.

children-of-the-damned-the-children

Kembali pada topik terorisme. Jadi dari situlah salah satu cara terorisme ini mendapatkan banyak pengikut, dengan cara memutar balikkan ajaran agama, terutama islam. Orang-orang islam yang pemahaman islam nya masih belum terlalu bagus, rentan sekali dicuci otaknya. Pun, bisa kita lihat, orang-orang atau individu yang tergabung dalam kelompok teroris ini sebagian besar adalah dari kalangan pengangguran, individu yang terasing dari lingkungan sekitarnya, ataupun dikucilkan dari masyarakat sekitarnya.

Jadi, memang agama ini dijadikan alat untuk mencapai tujuan terorisme, yaitu menciptakan chaos. Jika diambil logisnya saja, meskipun pada beberapa kasus, ajaran agama itu ada yang tidak bisa diambil logisnya, tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan ketidaktentraman hidup. Semua agama pasti mengajarkan bagaimana caranya individu atau kelompok mencapai yang namanya kententraman, kesempurnaan, dan kedamaian. Jika agama yang mengajarkan ketidaktentraman, itu namanya bukan agama.

Terorisme abad 20 dewasa ini, dimulai dari kejadian WTC di Amerika, sudah lebih terorganisir secara internasional. Teroris sudah lebih berani untuk mengambil banyak korban dari kalangan rakyat sipil, ditambah adanya isu komersialisasi teroris. Apa itu komersialisasi teroris? Ada kecenderungan bahwa teroris dewasa ini bukan bekerja untuk kepentingan sendiri, namun bisa dibayar sesuai dengan kebutuhan suatu golongan, namun tetap untuk suatu agenda politik tertentu.

Sekarang sangat wajar jika orang berfikiran, bila ada sebuah aksi terorisme, dibelakangnya akan ada agenda politik yang dialihkan perhatian nya dari masyarakat. Seperti kejadian bom Thamrin 2016 dikaitkan dengan kontrak Freeport, kasus korupsi Jero Wacik, atau politisi PDIP yang tertangkap tangan. Saya tidak akan menjudge motif dibalik peristiwa Thamrin, namun akan ada opini seperti demikian di masyarakat.ICON-ORGANISASI

Jadi intinya, bahwa terorisme itu adalah sebuah kegiatan, acak atau terorganisir, untuk menciptakan rasa tidak nyaman dan aman pada kehidupan masyarakat. Bisa dibilang, terorisme itu adalah gerakan anti-society, apapun itu bentuknya. Bisa berupa penyerangan secara fisik, atau menyerang pola pikir masyarakat. Dilakukan untuk mencapai satu tujuan tertentu.

===================================================================================

*Dari berbagai sumber dan pemikiran sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s