Posted by: Aryansah Pradanaputra | February 8, 2010

I Want to Hold Your Hand..

Oh yeah, I´ll tell you something, I think you’ll understand. When I say that something
I wanna hold your hand..
Oh, please, say to me You’ll let me be your man, and please, say to me You’ll let me hold your hand..
Now let me hold your hand, I wanna hold your hand
And when I touch you i feel happy, inside. It’s such a feeling that my love I can’t hide..
Yeah you, got that something, I think you’ll understand. When I say that something
I wanna hold your hand..
And when I touch you i feel happy, inside. It’s such a feeling that my love I can’t hide..
Yeah you, got that something, I think you’ll understand. When I say that something
I wanna hold your hand..

=======================================================

=======================================================

Saya ingin memegang tanganmu.., dan biarkanlah saya memegangnya.. =)

Posted by: Aryansah Pradanaputra | February 3, 2010

kosong…

aku mencintai hujan suasana melankolisnya
kamu pun tercipta dari hujan
seolah mentari kalah dalam peperangan
bukan berarti aku berhenti berjalan..

menunggunya adalah sebuah pelajaran, sebuah perjalanan..
kesabaran itu mengundang kebaikan
tertawa dengannya ada sebuah kenikmatan
dan berdansa dengannya adalah sebuah pencapaian

matanya mengagumkan, senyumnya menawan..
hahahaha, jatuh cinta rupanya diriku..

merajut huruf menjadi kata-kata itu mudah,
namun menenun kata-kata menjadi sebuah perbuatan terkadang tidak semudah asumsinya
ikatan,
itu yang coba aku bangun setiap harinya, setiap jengkal waktu yang berdetik..

Namun ternyata hanya waktu yang akan meluruhkan semuanya itu
apakah hanya itu..??
bukankah faktor kuadratik itu telah ditemukan dalam kalkulus..??
Yah, aku percaya akan nilai-nilai yang bisa melonjak naik karena eksponensial
sebuah loncatan, sebuah terobosan, sebuah perjalan akan menjawab itu semua nantinya..

hanya tinggal tunggu tanggal mainnya, semoga.. hehehehehe..

Posted by: Aryansah Pradanaputra | January 30, 2010

I’d rather Dance with You

Dari dulu semenjak keluar lagu ini di albumnya Riot On An Empty Street saya udah suka..

Bulan maret ini bakalan ada konsernya di Bandung, tapi apa daya kantong berkata lain, saya gak bisa nonton.. hahahaha.. biarlah, yang penting saya masih bisa mendengar lagu ini diputar.. hehehehe.. awesome song..

======================================================

I’d rather dance with you
than talk with you,
so why don’t we just move into the other room.
There’s space for us to shake,
and ‘hey, I like this tune’.

Even if I could hear what you said,
I doubt my reply would be interesting
for you to hear.
Because I haven’t read a single book all year,
and the only film I saw,
I didn’t like it at all.

I’d rather dance than talk with you.
I’d rather dance than talk with you.
I’d rather dance than talk with you.

The music’s too loud
and the noise from the crowd
increases the chance of misinterpretation.
So let your hips do the talking.
I’ll make you laugh by acting like the guy who sings,
and you’ll make me smile by really Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.

I’d rather dance than talk with you.
I’d rather dance than talk with you.
I’d rather dance than talk with you.
I’d rather dance than talk with you.

I’d rather dance than talk with you.
I’d rather dance than talk with you.

Posted by: Aryansah Pradanaputra | January 26, 2010

Film Indonesia = Sampah (Avatar versi Indonesia)

Inilah bukti betapa bodohnya orang2 Indonesia… Sori, bukan mengeneralisir, tapi masih ada orang yang mikir kek di filem ini.

Linknya gak bisa di Embed langsung, jadinya coba buka disini

http://www.youtube.com/watch?v=dxDAqhTgldk&feature=player_embedded

Itulah, alasan kenapa saya gak terlalu suka nonton felem Indonesia. Silakan berkomentar.. ternyata sebegitu bodohnya orang-orang perfilman di Indonesia… broadcaster dari filem diatas itu TPI, ya, bukan televisi pendidikan, tapi Televisi Pembodohan Indonesia. isinya..?? dangdut2 gak jelas dan filem2 macem beginian.. haduh2..

Posted by: Aryansah Pradanaputra | January 18, 2010

Kunang-kunang..

Jalan itu menurun dan licin, aku hampir terpeleset berkali-kali karenanya. Tadi malam hujan, tidak besar, namun cukup untuk membuat jalan tanah yang aku pijak ini semakin tidak bersahabat. Tangannya menggenggam erat tanganku, dia memang phobia terhadap ketinggian. Bahkan jalan menurun ini saja dia takut untuk menuruninya.

“Pelan-pelan dong..” katanya.

“Ih, kamu manja..” kataku.

Wajahnya berubah masam.

“Ih, rese..!! udah, lepasin aja lah..!!” katanya, tapi masih erat menggenggam tanganku.

“Bener..?? lepasin nih..?!!” kataku dengan nada agak menggoda.

“Ih, beneran nih orang rese..!!” geramnya sambil menjitak kepalaku.

“Hihihihi, kamu kalah..” aku makin memanasinya.

“Biarin, Bweeeee..!!” serunya sambil menjulurkan lidahnya.

Kami adalah dua orang terakhir yang menuruni Jayagiri setelah rombongan di depan kami berjalan agak jauh dari kami. Gara-gara orang inilah akhirnya aku berada di belakang rombongan. Tapi biarlah, aku bisa membuli-bulinya. hahahaha..

Sudah cukup lama aku mengenal orang ini. Sejak aku masuk tingkat 3 di bangku kuliah, dan dia baru masuk di tingkat 2. Ya, kami berbeda 1 tingkat di bangku kuliah.

Dia bukan orang yang suka naik gunung, hiking, camping, dan kegiatan alam lainnya. Dia biasa jalan-jalan, tapi di kota, di mal, di toko buku, cafe, dan lain-lain. Tapi untuk kali ini aku culik dia camping bersama beberapa kawan kami di kampus, itupun setelah aku mengajukan permohonan dengan sangat kepada kedua orang tuanya. Maklum, anak cewe satu-satunya di keluarga, anak bungsu pula, jadinya agak manja dan ortunya agak protektif.

Aku yang senang dengan kegiatan di alam terbuka bertemu dengan orang yang senangnya duduk-duduk di café, baca buku, nonton bioskop, ke toko buku, dan jalan-jalan tapi di mal. Hahaha, gak nyambung kadang emang. Tapi biarlah, toh aku suka caranya berfikir, aku juga menerima dia dengan segala sikap dia. Dia pun sama, cuek dengan hal-hal bodoh dan aneh yang sering aku lakukan.

“Kok kamu mau sih aku jak camping..??” tanyaku heran dengan tingkah dia yang canggung dia selama camping.

“Biarin.. aku juga kan pengen nyoba, pengen ngerasain beginian.. hihi, ternyata seru juga..” jawabnya sambil nyengir.

“Istirahat dulu yuk..”ajakku, dan aku menuntunnya duduk di bawah sebuah pohon besar di samping jalan utama turun itu.

“Haaah, lebih pegel turun ternyata yah daripada naik kemaren..” katanya sambil duduk di bawah menyender pada batang pohon besar itu.

“Iya, soalnya kamu takut jatoh, kaki kamu lebih tegang, karena nahan badan kamu, pasti pegel-pegel. Nah, pegel benernya baru kerasa besok kok, nyantei.. hehehehe..” jawabku sekenanya.

Sore yang manis itu matahari memancarkan cahaya kuning hangatnya menembus sela-sela dedaunan diatas pohon sana. Matahari mulai condong ke barat, hampir maghrib.

Tiba-tiba dia berseru, “Eh.. ada kunang-kunang..!!”

Seekor kunang-kunang terbang melayang dihadapannya sambil menggodanya dengan kelap-kelip badannya. Sudah lama nampaknya dia tidak melihat kunang-kunang. Kunang-kunang itu terbang berputar-putar mengitari kepalanya, dan Dia hanya senyum-senyum sendiri menikmatinya.

“Hiii, dasar aneh..” kataku.

“Biarin.. bweee.. hehehehehe…” balasnya.

“Sini.. ikut aku yok..” kataku sambil meraih tangannya, menariknya dari posisinya duduk, kemudian menuntunnya keluar dari jalan utama, masuk ke jalan setapak dengan semak-semak tinggi dan pohon paku yang rapat. Kami menerobos semak-semak paku, aku di depan menuntunnya.

“Mau kemana sih..??” tanyanya penasaran.

“Udah, ikut aja..” kataku masih sambil berjalan menuntunnya.

Semak paku semakin rapat, dan tangan kiriku semakin sibuk menyibak semak itu. Ya, jalan yang benar berarti, semakin rapat semaknya, dan aku tersenyum sendiri. Sementara itu, bumi semakin diliputi kegelapan, matahari sudah setengah lingkaran tenggelam di ufuk barat sana, suara jangkrik pun sudah mulai terdengar sayup-sayup entah darimana asalnya. Aku terus menuntunnya menerobos semak paku itu untuk menemukan sebuah tempat yang aku tujukan untuknya.

Tiba-tiba berakhirlah semak paku itu, dan berujung pada sebuah lapangan rumput yang tidak terlalu besar, mungkin sebesar lapangan futsal, namun disitulah yang membuat Dia takjub mematung melihat apa yang ada di hadapannya sekarang. Aku tersenyum. Angin lembah menjelang malam yang dingin pun bertiup.

“Hehehe, keren kan..??” kataku padanya.

Dia masih belum bisa berkata, dia hanya mematung menyaksikan ratusan kunang-kunang terbang berkelap-kelip melayang diatas lapangan terbuka tadi. Lapangan itu dikelilingi semak paku yang rapat, sehingga menjadikannya seperti arena tertutup, lautan kunang-kunang yang terbang berkelap-kelip diatas lapangan tadi. Aku membawanya ke tempat kunang-kunang berkumpul, dekat dengan sarangnya.

“Ya Tuhan..!!” Dia berseru sambil tertawa kegirangan.

“Kamu kok bisa sih..??” tanyanya.

“Bisa apa..??” tanyaku balik.

“Ah, udah lah, hehehe, makasi banyak yah..” katanya sambil jinjit dan mengusap-usap rambutku. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Aku duduk diatas gundukan rumput yang agak tebal sambil memeluk lutut memperhatikan ratusan kunang-kunang di lapangan itu. Dia ikut duduk di sampingku dan menepuk pundakku. Kami duduk dalam diam melihat keajaiban yang ada di depan kami. Aku kembali tersenyum. Angin lembah kembali bertiup, kali ini lebih dingin, Aku bergidik kedinginan.

“Kamu jangan ketawa yah…” katanya memecah sunyi.

“?? Ketawa kenapa..??” tanyaku heran.

“Pokonya jangan ketawa, titik” serunya sambil melepaskan carrier yang dipangkunya di punggung, lalu berdiri, diam sebentar memperhatikan sekelilingnya, dan melihat ke arahku.

Dia berlari menuju tengah lapangan dengan merentangkan kedua tangannya, berputar-putar di tengah lapangan yang diselimuti ratusan kunang-kunang itu. Matanya tertutup saat berlari, angin menerpa wajahnya yang tersenyum lebar. Dia memiringkan badannya, menirukan gerakan pesawat yang sedang berbelok.

Bukan tertawa, tapi aku mematung melihat tingkahnya, hahaha, dasar bocah..

Dia memperlambat gerakannya dan diakhiri dengan menjatuhkan dirinya diatas rumput di tengah lapangan. Dia berbaring terlentang dengan ratusan kunang-kunang melayang diatasnya, dia tersenyum.

Aku menghampirinya, dan menelentangkan tubuhku di sampingnya, kami melihat ke angkasa. Bintang-bintang sudah mulai muncul, langit pun sudah mulai hitam, namun agak berawan. Kami memperhatikan bintang-bintang itu diantara ratusan kunang-kunang yang melayang diatas kami. Rasanya kami terbang ke angkasa bersama ratusan kunang-kunang itu.

“Orion..” kataku menunjuk ke arah agak timur pada tiga bintang kembar yang berjajar membentuk garis lurus di angkasa. Alnitak, Alnilam, dan Mintaka. Bulan Januari memang sedang masuk musim penghujan, sehingga Orion muncul di timur setelah matahari tenggelam, dan mencapai puncak langit sekitar pukul 9 atau 10 malam.

“Makasih udah ajak aku kemari yah, udah ajak aku camping..” Dia berkata dengan tatapan matanya masih menembus angkasa. Aku memperhatikan wajahnya yang tersenyum cerah. Aku mengusap-usap kasar rambutnya.

“Sama-sama…” dan kami pun tersenyum ditemani sang Pemburu di langit.

Posted by: Aryansah Pradanaputra | January 17, 2010

Adakah kau dengar..??!!

Tuhan telah menegurmu..
Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan..
lewat perut anak-anak yang kelaparan
lewat semayup suara adzan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup soapn..
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung kencang
hujan dan banjir yang melintang pukang..
adakah kau dengar..??

Apip Mustopa

Posted by: Aryansah Pradanaputra | January 16, 2010

Negeri 5 Menara

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang menjadi rusak karena diam tertahan,
jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tidak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan..

Imam Syafi’i

==================================================

Ya, kutipan prolog sajak dari pujangga islam yang terkenal, Imam Syafi’i ini menjadi prolog novel Negeri 5 Menara ini. Menurut saya, novelnya sarat mengandung pesan moral. Menceritakan seorang pemuda bernama Alif Fikri yang baru lulus Tsanawiyah (sekolah agama islam setingkat SMP) di Maninjau, Sumatera Barat. Dia bercita-cita untuk melanjutkan sekolah ke SMA dan masuk ke perguruan tinggi, tidak mengikuti sekolah agama lagi. Namun, Amak, Ibunda Alif tidak sependapat dengan keinginan Alif ini. Terjadi perang batin pada diri Alif antara mengikuti keinginannya masuk SMA hingga perguruan tinggi dengan mengikuti keinginan Amaknya.

Akhirnya Alif terpaksa mengikuti keinginan Amaknya untuk melanjutkan sekolah agama lagi, namun kali ini bukan di Sumatera Barat, melainkan di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur, Pondok Madani – PM, namanya (berasosiasi pada pondok pesantren Gontor). Pada awal mengikuti kegiatan dan sistem pengajaran di Pondok Madani, Alif merasa setengah hati. Namun seiring berjalannya waktu, rasa itu mulai pudar, dia mulai mengikuti sistem pengajaran yang sarat akan ilmu, aturan, dan pandangan mengenai kehidupan.

Pertama masuk, murid baru dikumpulkan di sebuah Aula, dan seorang Ustad bernama Ustad Salman berteriak lantang di depan “Man Jadda Wajada” – Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Mungkin semboyan ini juga yang menjadi inti dari novel ini. Sebuah novel yang menginspirasi akan sebuah pencapaian cita-cita.

Alif menemukan 5 sahabat dari berbagai wilayah di Indonesia, sebut saja Atang dari Bandung, Said dari Surabaya, Baso dari Gowa ; Sulawesi, Raja dari Medan, dan Dulmajid dari Madura. Dari latar belakang yang berbeda ini akhirnya ke enam orang ini menjadi sahabat baik, sangat baik bahkan. Keenam sahabat ini setiap sorenya, antara istirahat sore dan adzan maghrib sering menghabiskan waktu memandang matahari tenggelam di bawah menara masjid besar yang dimiliki Pondok Madani. Untuk itulah mereka dijuluki sebagai Sahibul Menara – Pemilik Menara.

Dibawah bayang-bayang menara, mereka berenam sering berbicara mengenai impian mereka masing-masing. Sebut saja Alif yang memiliki impian untuk menjejakkan kaki di negeri Colombus, Amerika yang penuh dengan hal-hal hebat. Raja yang terobsesi dengan daratan Eropa, terutama negeri Inggris. Atang dan Baso yang berangan-angan dengan Timur Tengah dan Afrika, terutama Mesir, negeri nabi Musa a.s. Sedangkan Said dan Dulmajid yang bercita-cita memajukan bangsanya sendiri dengan berkarya di dalam negeri sendiri.

Novel ini, selain berisikan tentang pencapaian sebuah impian, juga berisikan sangat banyak pesan moral dan pandangan tentang kehidupan dari kacamata islam, namun bukan islam yang skeptis, namun islam yang berlandaskan pada Al-Quran. Pesan-pesan moral yang dikandung dalam novel ini kebanyakan dikemas dalam aktivitas sehari-hari yang dialami Alif hingga dia lulus dari Pondok Madani.

Novel ini juga bercerita tentang bagaimana sebuah hal kecil dapat membuat sesuatu yang besar, kedisiplinan. Tidak ada yang pandang bulu mengenai peraturan. Peraturan itu ada, dilaksanakan dan yang melanggar harus ditindak, tidak pandang bulu. Pada awalnya saya berfikir kok sampe segininya sih peraturan, ketat banget, namun setelah dipikir kembali, peraturan itu ada  memang untuk diikuti dan supaya segala sesuatunya teratur.

“Akhi, sekarang semakin banyak orang yang menjadi tak acuh terhadap kebobrokan yang terjadi di sekitar mereka. Metode Jasus (pengegak hukum di PM) adalah membangkitkan semangat untuk aware dengan ketidakberesan di masyarakat. Penyimpangan harus diluruskan itulah inti dari kullil haqqa walau kaana murran – katakanlah kebenaran walau itu pahit. Ini self correction untuk membuat efek jera. Dan yang paling penting adalah memastikan semua warga PM sadar bahwa jangan pernah meremehkan aturan yang sudah dibuat. Sekecil apapun aturan, itulah aturan, dan harus ditaati.”

“Awal dari kekacauan hukum adalah ketika orang meremehkan aturan dan tidak adanya penegakan hukum”

Demikian potongan dialog yang saya ambil dari novel ini mengenai kedisiplinan dan peraturan. Masih banyak pesan moral yang dikandung dalam novel ini yang bisa menjadi bahan pemikiran kita dalam hidup. Masih ada bagian yang membahas mengenai keikhlasan, kerja-keras, setia kawan, dan masih banyak lagi. Ternyata kehidupan di pondok pesantren tidak sebegitu kaku, mengerikan, dan ketinggalan zaman seperti pandangan orang kebanyakan. Ternyata sistem pengajaran di pesantren menuntut para santrinya untuk selalu aware dan displin. Lihat saja Pondok Madani ini yang tidak membolehkan bahasa Indonesia menjadi bahasa sehari-harinya. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Inggris dan bahasa Arab. What a..

Akhir tulisan, saya menyarankan kamu, kamu, dan kamu untuk membaca novel ini =)

oyah, novel ini adalah novel pertama dari trilogi yang akan dibuat oleh penulisnya. Have a read..

Posted by: Aryansah Pradanaputra | January 14, 2010

Atlantis (Indonesia..??) – The Lost Continent Finally Found

Kemaren iseng jalan2 autis ke BEC buat nyari mouse saya yang rusak, karena satu dan lain hal, saya terdampar di Gramedia merdeka. di lantai 3, di bagian buku baru, saya nemu buku yang eyecatching, judulnya Atlantis, The Lost Continent Finally Found..

Wew, sebelumnya pernah juga sih baca tulisan yang mengatakan kalau sebenarnya Atlantis yang digambarkan oleh Plato, sang filsuf Yunani itu adalah Indonesia. Ada juga novel Indonesia yang berspekulasi mengenai Atlantis itu sebenarnya adalah Indonesia, judul novelnya adalah “Negara Kelima” kalo mau pada baca =). Emang sebenernya, apa sih yang menarik dari atlantis ini..??

Pertama kali mendengar kata Atlantis adalah saat saya SD, saya baca kata Atlantis itu di ensiklopedi hadiah ulang tahun saya dan majalah Bobo yang terbit tiap hari kamis (sampe sekarang masih ya..?? hehehehe). Ya, yang pertama kali menulis mengenai Atlantis adalah seorang filsuf Yunani, Plato. Dalam bukunya yang berjudul Timaeus and Critias, Plato menggambarkan dan memaparkan Atlantis itu adalah sebuah pulau yang dikelilingi lautan dan memiliki kekayaan alam yang luar biasa, memiliki teknologi tinggi, kebudayaan agung, dan masyarakat yang madani dalam tatanan kehidupannya.

Negeri Atlantis ini pun disebutkan menjadi nenek moyang kebudayaan dunia. Kebudayaan suku Maya, Inca, Mesir dengan piramidnya, dan masih banyak lagi, itu hanya anak-anak kebudayaan dari kebudayaan Atlantis ini.

“Tanah Atlantis adalah tanah yang terbaik di dunia dan karenanya mampu menampung pasukan dalam jumlah besar.” (Critias)

“Tanah itu juga mendapatkan keuntungan dari curah hujan tahunan, memiliki persediaan yang melimpah di semua tempat.” (Critias)

“Orichalcum bisa digali di banyak wilayah di pulau itu. Pada masa itu Orichalcum lebih berharga dibanding benda berharga apapun, kecuali emas. Di pulau itu juga banyak terdapat kayu untuk pekerjaan para tukang kayu dan cukup banyak persediaan untuk hewan-hewan ternak ataupun hewan liar, yang hidup di sungai ataupun darat, yang hidup di gunung ataupun dataran. Bahkan di pulau itu juga terdapat banyak gajah” (Critias)

“Pada masa itu, wilayah Atlantis didiami oleh berbagai kelas masyarakat. Ada tukang batu, tukang kayu, ada suami-suami dan para prajurit. Bagi para prajurit, mereka mendapat wilayah sendiri dan semua keperluan untuk kehidupan dan pendidikan disediakan dengan berlimpah. Mereka tidak pernah menganggap bahwa kepunyaan mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka menganggapnya sebagai kepunyaan bersama. Mereka juga tidak pernah menuntut makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan.” (Critias)

“Mereka tidak memuja emas dan perak karena bagi mereka, semua itu tidak ada gunanya. mereka juga membangun rumah sederhana dimana anak-anak mereka dapat bertumbuh.” (Critias)

‘Inilah cara mereka hidup, mereka menjadi penjaga kaum mereka sendiri dan menjadi pemimpin bagi seluruh kaum Helenis yang dengan sukarela menjadi pengikut mereka. Lalu mereka juga menjaga jumlah perempuan dan laki-laki dalam jumlah yang sama untuk berjaga-jaga bila terjadi perang. Dengan cara inilah mereka mengelola wilayah mereka dan seluruh wilayah Hellas dengan adil. Atlantis menjadi sangat termashyur di seluruh Eropa dan Asia karena ketampanan dan kebaikan hati para penduduknya.” (Critias)

“Mereka membangun kuil, istana dan pelabuhan-pelabuhan. Mereka juga mengatur seluruh wilayah dengan susunan sebagai berikut : pertama mereka membangun jembatan untuk menghubungkan wilayah air dengan daratan yang mengelilingi kota kuno. Lalu membuat jalan dari dan ke arah istana. Mereka membangun istana di tempat kediaman dewa-dewa dan nenek moyang mereka yang terus dipelihara oleh generasi berikutnya. Setiap raja menurunkan kemampuannya yang luar biasa kepada raja berikutnya hingga mereka mampu membangun bangunan yang luar biasa besar dan indah.” (Critias)

“9.000 tahun adalah jumlah tahun yang telah berlangsung sejak perang yang terjadi antara mereka yang berdiam di luar pilar-pilar Herkules dengan mereka yang berdiam di dalamnya. Perang inilah yang akan aku deskripsikan.” (Critias)

“Pasukan yang satu dipimpin oleh kota-kota Athena. Di pihak lain, pasukannya dipimpin langsung oleh raja-raja dari Atlantis, yaitu seperti yang telah aku jelaskan, sebuah pulau yang lebih besar dibanding gabungan Libya dan Asia, yang kemudian dihancurkan oleh sebuah gempa bumi dan menjadi tumpukan lumpur yang menjadi penghalang bagi para penjelajah yang berlayar ke bagian samudera yang lain.” (Critias)

“Banyak air bah yang telah terjadi selama 9.000 tahun, yaitu jumlah tahun yang telah terjadi ketika aku berbicara. Dan selama waktu itu juga telah terjadi banyak perubahan. Tidak pernah terjadi dalam sejarah begitu banyak akumulasi tanah yang jatuh dari pegunungan di satu wilayah. Namun tanah telah berjatuhan dan menimbun wilayah Atlantis dan menutupinya dari pandangan mata.” (Critias)

“Karena hanya dalam semalam, hujan yang luar biasa lebat menyapu bumi dan pada saat yang bersamaan terjadi gempa bumi. Lalu muncul air bah yang menggenang seluruh wilayah.” (Critias)

“Namun sesudah itu, muncul gempa bumi dan banjir yang dashyat. Dan dalam satu hari satu malam, semua penduduknya tenggelam ke dalam perut bumi dan pulau Atlantis lenyap ke dalam samudera luas. Dan karena alasan inilah, bagian samudera disana menjadi tidak dapat dilewati dan dijelajahi karena ada tumpukan lumpur yang diakibatkan oleh kehancuran pulau tesebut.” (Timaeus)

Dalam kutipan diatas, Atlantis digambarkan memiliki tanah subur dan curah hujan yang cukup tinggi, sehingga menguntungkan alamnya menjadi alam yang subur dan kaya akan vegetasi, ditambah lagi, di Atlantis pun terdapat Gajah. Kalo baca sekilas sih, si Atlantis ini terletak di sekitar khatulistiwa, yang notabene Atlantis adalah negara tropis.

Para ahli – atau mungkin bisa disebut spekulan (karena sampai saat ini belum ada yang tahu, bahwa sebenarnya atlantis itu benar ada atau tidak, belum ada yang bisa membuktikan), banyak yang menebak bahwa letak Atlantis ini ada di daerah Andalusia, Kreta, Santorini, Pulau Siprus, Timur Tengah, Malta, Troya, Kepulauan Azores, Tepi Karibia, Bolivia, Laut Hitam, Irlandia, Kepulauan Canary, Isla Verde, Isla de la Juventud dekat Kuba, dan Meksiko. Kenapa..?? mungkin karena dekat dengan samudera Atlantik kali yah..?? Wah, pokonya banyak juga yang berspekulasi tentang teknologi Atlantis pun diturunkan dari peradaban planet lain yang diturunkan pada manusia di bumi, sehingga teknologi atlantis menjadi sangat maju dan hi-tech.

Tapi yang menarik adalah kenapa peradaban dan kebudayaan yang sebegitu maju dan (yang digambarkan) sempurna itu lenyap dalam (katanya) satu malam saja..?? Yah, ternyata di balik kesuburan dan kemajuannya, Atlantis pun memiliki potensi bencana yang tinggi. Disebutkan Atlantis memiliki sebuah gunung berapi besar (mungkin ini juga salah satu faktor mengapa tanah di Atlantis ini subur). Konon katanya, Atlantis yang merupakan negara kepulauan mengalami bencana luar biasa besar yang menyebabkan peradabannya itu runtuh hanya dalam satu malam saja. Bencana yang disebutkan Plato adalah banjir besar Atlantis, gunung meletus, dan gempa bumi.

Nah, dari sinilah banyak teori-teori yang berkembang tentang Atlantis, tapi dalam bukunya ini, pengarangnya (Prof. Arysio Santos – Geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil) mengemukakan bahwa deskripsi mengenai tanah Atlantis lebih mirip dengan keadaan alam Indonesia. Ditambah lagi beliau mengemukakan teori kehancuran Atlantis karena banjir besar. Banjir besar ini akibat dari akumulasi bencana yang terjadi di Atlantis, trigernya berupa gempa bumi yang menyebabkan gunung berapi yang ada di Atlantis ini meledak dengan hebatnya, kemudian menimbulkan tsunami yang menghapus semua peradabannya dalam waktu satu malam saja.

Kalo dipikir lagi mah sih emang bener dan masuk akal juga. Indonesia ini memang teletak di daerah patahan lempeng-lempeng besar dunia yang menyebabkan Indonesia kaya akan potensi gempa bumi. Masalah gunung berapi..?? jangan ditanya, Indonesia itu gudangnya gunung berapi, dan mengenai tsunami..?? udah gak usah ditanya. Indonesia merupakan negara kepulauan dan banyak gunung berapinya, rentan akan gempa, otomatis, tsunami menjadi ancaman sewaktu-waktu.

Yah, deskripsi Prof. Arysio ini memang mengarahkan pada Atlantis itu adalah Indonesia, atau Indonesia adalah sisa-sisa peradaban Atlantis yang hilang. Gunung berapi yang menyebabkan kehancuran Atlantis adalah gunung Krakatau, yang tahun 1800an pun pernah meletus dengan dahsyatnya.

Dengan kata lain, Atlantis ini, setelah memiliki teknologi yang maju, kebudayaan yang luhur, namun tiba-tiba terjadi suksesi, terjadi pemusnahan. Kenapa..?? hanya Tuhan yang tahu. Mungkin Tuhan (semacam) mengazab kaum Atlantis ini karena sudah melewati batas dengan teknologi dan kebudayaan masyarakat yang dimilikinya. Wah, jangan sampe lah Indonesia kek gini.. udah mulai muncul juga kan gempa bumi, tsunami, dll..?? (hanya sekedar spoiler dari saya, hehehe..)

“Selama banyak generasi, karakter yang mulia hidup di dalam diri mereka, mereka patuh kepada hukum dan memiliki ketertarikan yang kuat kepada dewa. Mereka memiliki jalan hidup yang baik, menggabungkan kelemahlembutan dengan kebijaksanaan di dalam berbagai aspek kehidupan dan dalam hubungannya dengan sesama.” (Critias)

“Mereka tidak mau mengangkat senjata melawan sesamanya, dan mereka akan segera bergegas menolong rajanya ketika ada usaha untuk menggulingkannya. Mereka menolak segala kejahatan dan hanya melakukan kebaikan. Mereka hanya menaruh sedikit perhatian untuk kehidupan mereka sendiri. Mereka menganggap remeh harta benda emas dan perak yang sepertinya hanya menjadi beban bagi mereka.” (Critias)

“Bahkan ketika mereka berkelimpahan di dalam kemewahan, mata hati mereka tidak dibutakan olehnya. Mereka sadar bahwa kekayaan mereka akan bertambah oleh perbuatan baik dan persahabatan antara satu dengan yang lain yang juga disertai dengan penghormatan antara sesama. Karakter-karakter semacam itu terus bertumbuh di antara mereka.” (Critias)

“Namun, karakter-karakter mulia tersebut mulai memudar dan menjadi terlalu sering dikompromikan. Mereka bercampur dengan sifat-sifat duniawi, dan sifat itu kemudian menjadi pengendali. Karena itu mereka tidak mampu lagi menanggung kekayaan yang mereka miliki. Mereka mulai berperilaku tidak sepantasnya dan mata mereka menjadi rabun karena mereka telah kehilangan harta mereka yang paling berharga.” (Critias)

“Zeus, raja para dewa yang memerintah berdasarkan hukum dan mampu melihat perbuatan-perbuatan jahat yang mereka lakukan mulai mencanangkan hukuman bagi ras yang terhormat itu supaya mereka dapat disadarkan dan dimurnikan. Lalu ia mulai mengumpulkan para dewa dari tempat kediaman masing-masing. Setelah mereka semua berkumpul, Zeus berkata : …..” (Critias)

Dan sampai disitulah cerita Plato mengenai Atlantis berakhir..

Yah, karena para ahli saling berdebat mengenai Atlantis ini, mungkin ada juga yang kesal dan akhirnya mengatakan bahwa cerita Plato itu hanya sebuah cerita saja mengenai sebuah tatanan masyarakat madani dan maju untuk menjadi referensi kehidupan pada masanya saja. Bukan merupakan hal yang nyata, namun hanya sebuah cerita legenda.

Terlepas dari itu semua, saya percaya akan adanya Atlantis loh, gak tau kenapa.. hehehehehe.. khayalan masa kecil kali yah dulunya.. hakhakhak.. Yah, namanya juga konspirasi, hehehehe.. =p

Yah, tapi teteplah, sebuah sejarah itu jangan dilupakan, kalaupun Atlantis ini benar adanya apa kata Plato, jadikanlah itu sebagai sebuah pelajaran berharga, dan jangan pernah melupakan sejarah. Jangan sampai kita melewati batas dan dihancurleburkan hanya dalam waktu singkat. Jangan sampai Indonesia ini dimusnahkan oleh gunung berapi, tsunami, dan gempa bumi, hanya karena manusia yang ada di Indonesia sudah menjadi masyarakat yang melewati batas.

Akankah di Indonesia kembali terjadi suksesi ini..?? bukan karena kesmbongan dan kemajuan bangsa ini, namun karena kebobrokan dan kemunduran dari Bangsa Indonesia saat ini..?? akankah..?? hanya Tuhan yang tahu.

=) sebuah pelajaran menarik dan berharga menurut saya..

Posted by: Aryansah Pradanaputra | January 13, 2010

Fireflies – Owl City

Saya suka lagu ini karena ada kata-kata Fireflies-nya.. hakhak, gak juga deng.. tapi musiknya lumayan enak kok..

untuk beberapa ekor kunang-kunang yang kadang2 mampir di kamar saat saya lelah menjalani hari-hari dan menemani gelap malam saya untuk tertidur di kamar atau saat saya mengerjakan tugas di tengah malam buta, atau hanya sekedar merenung pada tengah malam, dengan kerlap-kerlipnya yang cantik. =)

======================================================

Fireflies – Owlcity

You would not believe your eyes
If ten million fireflies
Lit up the world as I fell asleep

‘Cause they’d fill the open air
And leave teardrops everywhere
You’d think me rude
But I would just stand and stare

I’d like to make myself believe
That planet Earth turns slowly
It’s hard to say that I’d rather stay
Awake when I’m asleep
‘Cause everything is never as it seems

‘Cause I’d get a thousand hugs
From ten thousand lightning bugs
As they tried to teach me how to dance

A foxtrot above my head
A sock hop beneath my bed
A disco ball is just hanging by a thread

I’d like to make myself believe
That planet Earth turns slowly
It’s hard to say that I’d rather stay
Awake when I’m asleep
‘Cause everything is never as it seems
When I fall asleep

Leave my door open just a crack
(Please take me away from here)
‘Cause I feel like such an insomniac
(Please take me away from here)
Why do I tire of counting sheep
(Please take me away from here)
When I’m far too tired to fall asleep

To ten million fireflies
I’m weird ’cause I hate goodbyes
I got misty eyes as they said farewell

But I’ll know where several are
If my dreams get real bizarre
‘Cause I saved a few and I keep them in a jar

I’d like to make myself believe
That planet Earth turns slowly
It’s hard to say that I’d rather stay
Awake when I’m asleep
‘Cause everything is never as it seems
When I fall asleep

Posted by: Aryansah Pradanaputra | January 13, 2010

Saya Rindu dengan jejak-jejak itu..

Ya, saya rindu dan kangen dengan jejak-jejak itu.. bukan kangen akan seorang wanita.. saya rindu dengan jejak-jejak kaki di pegunungan.. tempat berpijak saat asa mulai terputus, saat semangat sudah memudar, dan saat dunia mulai terasa memuakkan dan membuat pikiran menjadi penat..

Gunung itu memiliki bahasanya sendiri, pepohonan pun mengajarkan berbagai hal dalam setiap langkah yang kita ayunkan.. rerumputan melambai-lambai, seolah kita pemimpin yang memimpin kaki kita sendiri untuk mencapai sebuah tujuan. Segenap alam seolah mendengar harapan dan impian kita. Dimana segala sesuatunya seolah dapat kita capai dengan langkah-langkah yang kita ciptakan. perlahan namun pasti.

Alam itu berbicara dengan angin yang berhembus, air yang mengalir, pepohonan yang melambai.. adakah kamu mendengar suaranya..?? bulir-bulir embun itu menunjukkan kesegaran, menunjukkan kejernihan dan kejujuran. Tumbuhan itu mengajarkan untuk selalu memberi dan rendah diri. Air itu berbicara mengenai kepastian, dan gunung itu berbicara ketegasan. Terlalu banyak yang bisa dijadikan guru dalam setiap langkahnya.

Saya rindu dengan belaian halus kabut-kabut yang tertiup menerpa wajah.. Saya rindu dengan suara daun yang tertiup angin, suara air yang mengalir, suara semak-semak, suara pegunungan..

saya muak dengan suara-suara kotor perkotaan yang penuh dengan kontaminasi pikiran busuk. Saya rindu dengan keramahan alam, saya rindu dimanjakan pegunungan..

Soekarno pun pernah berkata :

“Tidak akan pernah habis stok pemimpin sebuah negeri, jika masih ada anak bangsanya yang mencintai dan mendaki gunung…”

Kenapa..?? karena gunung itu simbol sebuah harapan, dan harapan/cita-cita memerlukan sebuah proses, sebuah langkah, sebuah progres, sehingga kita bisa mencapai puncaknya. Namun yang terpenting dari itu semua adalah jejak-jejak yang kita susun, yang kita atur, dan yang kita jalani.

Saya cinta gunung, karena saya benci dengan hal-hal busuk yang berbau bangkai yang banyak ditemui di perkotaan, segala yang dihirup di sekelilingnya adalah racun. yang ada hanya batang-batang beton dan hembusan angin busuk. perkataan pun keluar dari lidah-lidah yang bercabang.

Saya cinta gunung, karena saya menemukan kesederhanaan, kesejukan, dan kedamaian disana. Saya menemukan sebuah kepolosan dan kejujuran hidup. tidak ada yang ditutup-tutupi, dan udara yang kita hirup pun bukan udah busuk, tapi udara segar dan kaya dengan kehidupan.

Yah, saya jatuh cinta pada gunung, dan saya rindu teramat sangat pada setiap langkahnya..

Older Posts »

Categories