Posted by: Aryansah Pradanaputra | November 20, 2009

Hanya Sebuah Renungan

Sadarkah manusia ketika kemarau membawa petaka dan hujan membawa bencana…??
Apakah manusia dapat melihat ketika bumi melepaskan kulitnya yang telah rapuh termakan rakusnya tangan-tangan mereka…??
Terbukakah pikiran manusia ketika terjadi ketidakwajaran di alam ini yang membuat kehidupan pun menjadi tidak seimbang..??.
Sensitifkah manusia akan perubahan atmosfer dunia yang semakin panas dan merubah cara pandang manusia…??

Lihatlah ketika tangan-tangan rakus manusia tak berdaya tertelan air, api, tanah, dan udara…
Apakah mereka tetap tidak mau jujur…??
Terlalu egois mungkin untuk sekedar mengatakan YA kepada kebenaran…
Terlalu apatis hanya untuk sekedar melihat keadaan sosial di lingkungannya…
Terlalu terlena oleh gemerlap bintang-bintang dunia yang sangat silau dan menyamarkan kehidupan masyarakat…

Adakah rasa peduli ketika tangan-tangan lapar itu menggapai maut hanya untuk sekedar mencari makan…??
Adakah tindakan yang kita ambil ketika burung-burung manyar itu telah mengincar mangsanya yang telah mendekati ajalnya…??
Masih adakah HATI di dalam dada setiap manusia…???
Masih adakah OTAK di dalam kepala manusia yang konon katanya tak ada bandingannya…???
Masih adakah JASAD yang kuat dalam diri manusia menahan badai kehidupan…???
Masih mampukah manusia bertahan dengan HATI, OTAK, dan JASAD…??
ketidakseimbangan ketiganya yang sedang terjadi…
kemanakah kau gunakan otak itu, apakah hati kau gunakan, dan apakah jasad bergerak atas kerjasama dari otak dan hati…??

Posted by: Aryansah Pradanaputra | November 18, 2009

Bermotor pagi-pagi melewati PolBan

Tadi pagi sekitar jam 9an berangkat ke kampus naik motor. Biasanya saya lewat Gerlong, tapi tadi pengen nyari suasana baru, akhirnya saya nyoba rute lain lewat Polban, tembus Sarijadi, Marnath, Pasteur, Kampus. Ada kejadian menarik dan mengundang maut sebenarnya yang saya alami di depan gerbang belakang Polban.

Saya bermotor dengan kecepatan sedang agak cepat, sekitar 30-40an km/jam. menjelang gerbang belakang Polban, dari  arah berlawanan ada angkot Polban-Gerlong. Nah, di belakang angkot itu ada motor yang mau nyusul itu angkot. Seperti biasa, dan bisa ditebak, si motor maksa nyusul angkot itu, padahal dari arah berlawanan ada motor saya. Saya kita si motor akan menunggu saya dan dia berpapasan dulu, baru nyusul angkot. Ternyata eh ternyata, si motor tetep maksa buat nyusul itu angkot, dan berhadapan langsung dengan motor saya yang sedang melaju dengan kecepatan sedang agak cepat, 40 km/jam.

Skema Kejadian

Yah, sudah bisa ditebak hasilnya, tabrakan… tapi gak sampe jatoh2an.. hanya tabrakan stang motor saja. tapi sebenernya kalo saya boleh bilang, goblok bener kejadian kayak beginian.. dan pasti pernah dialami oleh semua pengendara kendaraan bermotor di seluruh Indonesia khususnya. Kok bisa..?? padahal udah jelas dari arah berlawanan ada kendaraan lain yang sedang melaju, tapi tetep aja maksa nyusul. Kok tolol..?? dan lebih anehnya lagi, si pengendara motor itu adalah mahasiswa Teknik Sipil PolBan.. Bisa saya kenali dari jaket hijaunya (jaket himpunan Mahasiswa Teknik Sipil PolBan).

Ayolah kawan.. masa kita mahasiswa yang mengaku menyandang kata “maha” di depan kata “siswa” masih berkelakuan ke begitu..?? apa artinya “maha” di depan kata “siswa”..?? jangan lah sampai jadi “Mehe-siswa” yang kelakuannya “mehe-mehe” dan “rehe“. Kapan kita mau jadi bangsa yang tertib berlalu-lintas…?? kapan kita mau berubah..?? kapan kita mau disiplin..??

Maaf, bukan maksud mendiskreditkan sebuah golongan atau komunitas, tapi hanya ingin menulis sebuah pemikiran untuk dievaluasi bersama, karena saya pun terkadang masih tidak disiplin kalo berlalu lintas.. untuk itulah, mari kita bareng2 jadi orang yang disiplin dimanapun kita berada, khusunya di jalan.

Posted by: Aryansah Pradanaputra | November 17, 2009

Absurd…

Kapan aku bisa berjalan dengan tenang kembali setelah kembali dari perjalanan yang tak pernah berakhir ini…??
Kapan aku bisa menikmati denyut jantung semesta yang membisikkan kedamaian..??
Angin yang bertiup sekarang terlalu beracun untuk dihirup, merusakkan jiwa dan raga, membuatnya kronis dan tak bisa memilih antara yang baik dan yang benar.
Ketika aku ingin terbang, aku bingung darimana aku harus memulai.
Ketika aku ingin berlari menerjang tirai kelabu itu, aku hanya bisa terpaku disini.

Lalu, aku teringat akan masa kecilku..
pernah aku menciptakan dunia impianku, duniaku dengan segala keidealannya, namun dia hilang seiring dengan kedewasaanku yang abusurd dan relatif..
Terlalu banyak asumsi dan pandangan di sekelilingku..
Kini aku tahu kebuntuan jalanku..

Aku memiliki otak dan logika, namun aku tidak menggunakan hatiku untuk berjalan, dan logikaku untuk bertindak..
hati yang selalu bisa memaknai kehidupan..
aku kehilangan dirinya, kehilangan hati yang selama ini bisa membuatku merasakan kedamaian dan memaknai kehidupan..
Ya, aku tidak memiliki hati sekarang..
Aku tidak bisa memaknai kehidupan, dan aku tidak bisa merasakan apa-apa, kebal dengan segala gelombang kehidupan..
Logika pun sudah sulit untuk diajak berkompromi, memikirkan sesuatu, merancang sesuatu..
semua itu dikaburkan oleh udara-udara beracun yang setiap hari aku hirup..

Kemana aku akan pergi setelah ini untuk mencari logika dan hatiku..??
Aku mencari-cari, namun tak kunjung datang hari itu..
Aku hanya bisa berdiri disini, sendiri.. ditengah kegelapan pikiranku..

Posted by: Aryansah Pradanaputra | November 16, 2009

Pengaruh Buruk Televisi pada Anak-anak

Anak-anak adalah korban yang pertama, bagi masyarakat kaya ataupun miskin. Banyak kaum ibu yang mempunyai anak, melalui pembantu, ”menitipkan” anak mereka di depan televisi. Anak-anak cenderung diam dan asyik memelototi televisi, sehingga bisa ditinggalkan sendirian.

Televisi sebagai babysitter tampaknya tidak masalah. Namun berbagai penelitian dan fakta menyebutkan, ”meletakkan” anak-anak, apalagi dalam usia dini sangat berbahaya dari segi fisik maupun psikologis. Aplagi, menonton televisi tidak cukup hanya satu-dua jam, bahkan hingga enam jam. Anak di bawah 2 tahun (dalam sebuah catatan penelitian sebuah akademi dokter anak di Amerika) yang dibiarkan orang tuanya menonton televisi akan menyerap pengaruh merugikan. Terutama pada perkembangan otak, emosional, sosial, dan kemampuan kognitif anak. Menonton TV terlalu dini bisa mengakibatkan proses wiring, proses penyambungan sel-sel safaf di otak menjadi tidak sempurna1.

Ketika lahir, seorang bayi memiliki 10 milyar sel otak. Namun sel-sel itu belum tersambung dan masih berdiri sendiri-sendiri. Agar berfungsi, sel-sel otak tersebut harus saling terkait (wiring). Maksimalisasi proses tersebut diepengaruhi oleh pengalaman simulasi seperti gerakan, nyanyian, obrolan, serta gizi yang baik. Sementara bayi atau anak-anak yang berada di depan televisi tidak akan memiliki pengalaman-pengalaman empirik yang cukup untuk membantu proses wiring. Apalagi televisi memberikan stimulan virtual dengan bersamaan dan cepat.

Gambar-gambar dalam TV – terdiri dari potongan-potongan gambar yang bergerak dan berubah cepat, zoom in dan zoom out yang intensif, dan kilas lampu yang sangat cepat, ditambah sistem kemunculan gambar yang tidak kontinu dan linear – menjadikan pola kerja otak anak-anak akan dieksploitasi sedemikian rupa. Dunia televisi, dengan loncatan waktunya, akan mengganggu daya konsentrasi anak.

Pada anak-anak yang lebih besar, pengaruh terlalu banyak menonton televisi akan berakibat pada kelambanan berbicara. Ini terjadi karena menonton TV tidak menggugah anak untuk berfikir. Apa yang disajikan TV sudah lengkap dengan gambar dan suara. Menyerahkan anak pada televisi bukanlah tindakkan yang bijaksana. Apalagi jika tindakkan itu hanyalah bentuk pengalihan agar orang dewasa terhindar dan terbebas dari beban menemani anak.

Sudah banyak penelitian menyebutkan semakin seorang anak mengkonsumsi televisi, semakin sama nilai yang dianutnya dengan tayangan-tayangan televisi tadi. Anak yang sering menonton kekerasan akan bersifat lebih agresif dan emosional. Anak yang sering menonton tayangan yang hanya memiliki esensi untuk mengikuti mode tanpa mengindahkan nilai-nilai di masyarakat akan berifat lebih egois dan tak mau tahu.

Televisi memang menawarkan serangkaian informasi dan hiburan, namun tidak semuanya bermanfaat. Karena itu, batasi menonton televisi untuk anak-anak. Bagi anak dan remaja, semestinya ada pendampingan saat menonton televisi dan jangan memfungsikan televisi sebagai babysitter.

Pustaka : ”Matikan TV-Mu! – Teror media televisi di Indonesia

matikan-tvmu

Posted by: Aryansah Pradanaputra | November 6, 2009

Indonesia Memang Hebat

Satu lagu bagus lagi kalo menurut sayah.. gak seberapa sih, tapi lucu aja ngeliat liriknya.. saya dapet videonya dari Youtube.. nikmatin aja.. ada bonusnya pula.. bintang video clipnya Dian Sastro, hehehehe.. si Neng Geulis..

 

 

Indonesia Memang hebat

by Kadri Jimmo The Prinzes of Rhythm

Bila kau pergi menjauh berpaling dariku
Dan niscaya hidupmu akan merugi
Karna aku ini baik dan selalu beruntung
Coba saja lihat garis tanganku

Katanya kau siap setia
Katanya kau mau berkorban
Dan katanya aku calon pemimpin
Setepat di sini
Karna aku terbaik untukmu

Hapuslah air matamu
Karna itu palsu
Namun maaf telah ku berikan
Bila kau mau bersabar
Yakinlah padaku
Masa depan ada di tanganku

Katanya bangsa kita hebat
Katanya negri kita kaya
Dan katanya presiden kita bijak
Cobalah hargai pemimpinmu
Cintai aku
Karna aku pun calon presiden
Calon presiden..

Katanya bangsa kita hebat (Indonesia memang hebat)
Katanya negri kita kaya (Indonesia memang kaya)
Katanya bangsa kita hebat
Katanya negri kita kaya
Dan katanya presiden kita bijak
Cobalah hargai pemimpinmu
Cintailah aku
Karna aku pun calon presiden…
Calon presiden…

Posted by: Aryansah Pradanaputra | October 22, 2009

Bendungan – Sebuah Sub-Bab Tugas Akhir

Oleh : Aryansah Pradanaputra – 15005010

2.4    BENDUNGAN

Bendungan adalah kosntruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga digunakan untuk mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (Wikipedia). Pada umumnya, bendungan dibangun berupa timbunan/urugan (embankment dam). Hal ini disebabkan karena bendungan tipe urugan/timbunan ini relative mudah dan murah untuk dikerjakan. Material timbunan mudah di dapat di sekitar lokasi pembangunan bendungan.

sowers11

Gambar 2. Bagian-bagian dari Earth dam (Sowers)

Untuk memenuhi kriteria keamanan desain bendungan, maka proses desain, konstruksi, dan modifikasi dari timbunan harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut :

1. Badan bendungan, fondasi, dan abutmen bendungan harus stabil terhadap berbagai konfigurasi beban statis maupun dinamis
2. Gaya seepage yang terjadi di bawah pondasi, abutmen, dan timbunan harus dikontrol untuk memastikan keamanan saat operasi bendungan. Tujuan dari pengontrolan ini adalah untuk mencegah uplift force yang berlebih, piping, dan erosi terhadap inti bendungan.
3. Freeboard yang tersedia harus mampu mencegah overtopping air melewati bendungan termasuk settlement dari pondasi dan timbunan.
4. Spillway dan kapasitas outlet harus mampu mencegah overtopping air yang mungkin terjadi melewati timbunan bendungan.

SF bendungan

Gambar 2. Safety factor untuk bendungan

2.4.1    Tipe Bendungan Urugan (Embankment Dams)

Terdapat 2 jenis tipe bendungan urugan yang umum digunakan, yaitu timbunan tanah (earth-fill dam) dan timbunan batu (rock-fill dam), tergantung dari material dominan yang menyusun bendungan tersebut.

2.4.1.1 Earth Dams

Bendungan urugan tanah dibangun dari timbunan tanah yang memenuhi persyaratan bendungan yang diambil dari borrow area sekitar lokasi bendungan. Tanah untuk urugan bendungan ini dipadatkan per lapisan hingga memenuhi kepadatan yang diizinkan (biasanya 92% – 97%).

tipe bendungan

Gambar 2. Tipe Earth-Dams

2.4.1.2 Rock-Fill Dams

Rock-fill dams merupakan bendungan yang tersusun dari bongkahan-bongkahan batu yang saling mengunci dengan inti yang kedap air. Inti dari bendungan ini dapat berupa tanah kedap air yang memiliki koefisien rembesan (k) yang kecil. Ada 3 bagian utama dari rock-fill dams ini, yaitu : urugan batu utama, inti kedap air, dan bagian pendukung lainnya seperti instrumentasi bendungan. Inti kedap air berfungsi untuk menahan laju rembesan yang terjadi pada tubuh bendungan. Material isian untuk inti ini biasa terdiri dari jenis tanah clay/silty clay/clayey silt yang memiliki koefisien rembesan (k) yang relative kecil.

Terdapat beberapa ketentuan material yang harus dipenuhi dalam pembangunan sebuah bendungan, diantaranya yaitu kepadatan inti (core) dari bendungan harus ≥ 90% (γdry ≥ 90%). Kriteria teknis lainnya yang harus dipenuhi untuk sebuah bendungan tipe urugan adalah Safety Factor (SF). Penurunan / settlement pun dibatasi sebesar 1-2% dari tinggi bendungan.

rockfill

Gambar 2. Tipe Rock-Fill Dams

Sebuah bendungan urugan (earth-fill dan rock-fill) mempunyai beberapa kemungkinan kegagalan diantaranya adalah overtopping, slope failure, sliding, erosi internal, dan erosi permukaan.

2.4.2    Kemiringan Timbunan

Desain kemiringan timbunan bendungan tergantung dari karakter material timbunan yang tersedia, kondisi tanah dasar, dan ketinggian rencana dari timbunan bendungan. Untuk stabilitas terhadap gaya seepage, biasanya ditambahkan selimut kedap air di bagian hulu (upstream) atau penambahan drainase horizontal di bagian hilir (downstream).

Kemiringan lereng di bagian hulu (upstream) dapat bervariasi dari 2:1 sampai 4:1, tapi pada umumnya untuk menjamin stabilitas, digunakan kemiringan 2,5:1 atau 3:1. Kemiringan yang relative rata di bagian hulu, biasanya dimaksudkan untuk pengganti cara perlindungan lereng dengan menggunakan impervious material. Sedangkan untuk kemiringan timbunan di bagian hilir (downstream), pada umumnya menggunakan kemiringan 2:1 jika terdapat impervious zone di downstream, dan 2,5:1 jika keseluruhan timbunan adalah impervious.

kemiringan

Gambar 2. Kemiringan Timbunan

BERSAMBUNG…

Posted by: Aryansah Pradanaputra | October 22, 2009

Transformers di Indonesia

Berawal dari obrolan bodoh mengenai mobil-mobil yang bisa berubah jadi robot a.k.a Transformers, sebut saja pelaku utamanya Saya, Ferdi, Via, Ail, dan Aang. Saya nanya, “Eh, kenapa Transformers gak mendarat di Indonesia yah..??”

Alasan yang paling masuk akal adalah si robot2 Transformers ini ternyata tipe robot yang “pemilih”. Mereka mendarat di Indonesia karena mereka pun pilih-pilih kendaraan yang pengen mereka jadikan. Bayangin aja kalo mereka mendarat di Indonesia, Bumblebee berubah jadi sedan Accord tahun 80′an, si Ironhead berubah jadi Mobil Carry tukang ngangkut sayur ke pasar impres, Rachet berubah jadi mobil ambulans pengangkut jenazah, lalu si Optimus Prime berubah jadi Truk pengangkut batu atau semen dengan tulisan di belakangnya “Rindu Bunda”, atau “Bekas Tapi Nikmat”, “Kangen Kamu”, “Perawan Janda”, dan masih banyak lagi.

Obrolan sore yang aneh bin ajaib..

Posted by: Aryansah Pradanaputra | October 17, 2009

Jangan Menyerah..

Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya
bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa..

=============================================

Lagi seneng dengerin lagu ini..

Inspiring Song bagi yang sedang kehilangan asa.. =)

Hahahahaha, sama aja kalo saya ngaku lagi kehilangan asa inimah silogismenya.. hahahaha.. biarlah..

Posted by: Aryansah Pradanaputra | October 16, 2009

Ilmu dan Kehidupan

Teringatkan kembali oleh seorang Khatib shalat jumat di masjid dekat rumah saya barusan. “Dampak gempa bisa diminimalisir dengan pembangunan rumah tahan gempa yang baik..” kurang lebih begitu. Intinya bahwa sudah tidak bisa dihindari kalau Indonesia itu negara dengan potensi gempa yang tinggi sekali. Masalahnya adalah orang2 di Indonesia ini masih belum pandai untuk mengambil hikmah/pelajaran dari kejadian-kejadian yang sudah terjadi.

Khatib tadi mengambil contoh negara Jepang yang bisa mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian alam yang biasa dialami. Jepang membangun rumah tahan gempa, mencerdaskan masyarakatnya untuk aware terhadap gempa, dan lain-lain. Kenapa bisa..?? karena penerapan ilmu pengetahuan jawabannya.

Ya, Jepang sudah mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuannya untuk kehidupannya. Sebuah pelajaran lagi yang orang Indonesia harus ambil. penerapan ilmu pengetauan dan rekayasa. Ya, dampak dari gempa itu bisa di rekayasa dengan ilmu-ilmu yang ada. Contohnya itu tadi, membuat bangunan sederhana tahan gempa.

Sebenarnya, code-code, aturan-aturan untuk membangun bangunan itu sudah ada diperaturan konstruksi Indonesia, untuk rumah sederhana, hingga gedung bertingkat. Hanya yang menjadi masalah itu adalah penerapan aturan, rules-rules, pada saat pembangunan berlangsung.

Orang Indonesia itu sangat tidak DISIPLIN. Aturan udah ada, udah disediakan, tapi tetap saja dilanggar. Karena terkadang suka muncul anekdot “Peraturan ada untuk dilanggar..”. Sebenernya agak-agak goblok orang yang berfikiran seperti itu. Itulah, disiplinnya orang Indonesia itu gak ada.

Aturan pemasangan tulangan dalam gedung itu sudah ada, tapi, yah, namanya orang Indonesia dengan ketidakdisiplinannya itu terkadang mengurangi jumlah tulangan, mengecilkan dimensi kolom, wah, banyaklah error-error yang terjadi di lapangan. Ada asap, pasti sebelumnya ada apinya. Ada akibat, pasti ada akibatnya. Kenapa banyak bangunan yang runtuh saat gempa..?? yah itulah, sebenarnya ilmu rekayasa itu sudah ada, hanya tidak diterapkan pada masyarakat.

Jika kita mau rendah hati dan bercermin pada negara Jepang yang negaranya sudah “Earthquake oriented”, maka bukan tidak mungkin gedung2, rumah2 yang rusak akibat gempa bisa diminimalisir, korban jiwa bisa dihindari. Kita masih belum bisa mengambil pelajaran dari kejadian2 yang sudah kita alami. Kita bisa kok kayak negara Jepang yang kalau diguncang gempa besar, korban jiwanya bisa = 0.

Ayolah, ilmu itu diciptakan untuk kehidupan manusia yang lebih baik bukan..?? janganlah ilmu dikalahkan dengan birokrasi, janganlah ilmu itu kalah dengan anekdot-anekdot dan anggapan2 tidak berdasar di masyarakat, janganlah sepelekan ilmu.

Allah juga menurunkan ayat Al-Quran dalam surat Al-Alaq pertama itu adalah “Iqra..!!!” – “Baca dengan nama Tuhanmu..!!” Allah pun menyuruh kita untuk selalu membaca, untuk selalu belajar, untuk selalu berilmu. Ilmu itu kedudukannya tinggi di hadapan Allah. Ilmu itu salah satu parameter derajat seseorang. Masalahnya, adalah penerapan ilmu itu.

Nampaknya Indonesia harus mulai mengambil hikmah dan pelajaran. Sudah bukan jamannya birokrasi dan koneksi, saatnya ilmu yang berbicara. Mari kita perbanyak ilmu dan ciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik. Aplikasikan ilmu kita yang udah kita dapet di bangku sekolah, bangku kuliah, dan dimanapun itu.

Kadang orang2 berilmu di kita ini masih belum terlalu dihargai, sehingga wajar banyak orang2 berilmu bekerja untuk bekerja di perusahaan asing,  orang2 berilmu masih dianggap sotoy oleh orang yang lebih senior dan tua darinya.

Kapan Indonesia bisa maju Boi..??!!!

Posted by: Aryansah Pradanaputra | October 12, 2009

Gempa Jawa Barat, September 2009 – Sebuah catatan survey bangunan

Setelah mengikuti beberapa forum mengenai kerusakan akibat gempa 2 September lalu (terutama di daerah Bandung Selatan, Pangalengan), saya baru tahu kerusakan bangunan yang besar di daerah-daerah ternyata kebanyakan akibat konstruksinya sendiri yang masih kurang memenuhi kaidah bangunan untuk pemukiman. Hal ini disebabkan karena minimnya pengetahuan dan informasi yang diperoleh oleh masyarakat mengenai cara  membangun rumah sederhana tahan gempa. Gempa itu memang tidak bisa dihindari, namun dampak kerusakan yang diakibatkan dari gempa bisa diminimalisir dengan perancangan struktur yang baik.

Sudah kita ketahui bersama kalo Indonesia ini merupakan negara subur dan kaya akan sumber daya alam. Namun, biasanya kompensasi yang diterima dari suburnya alam Indonesia ini diimbangi dengan bahaya bencana alam yang tinggi juga. Indonesia merupakan tempat pertemuan 4 lempeng besar dunia, Asia, Australia, Philipina, dan Pasifik. Hal ini yang menyebabkan Indonesia merupakan wilayah rawan gempa.

Konsep rumah tahan gempa sudah pernah di tulisan saya sebelumnya di Rumah Sederhana Tahan Gempa. Kebetulan, saya ditugaskan untuk memverifikasi data dari Pemda Jawa Barat. Saya dan beberapa teman saya melakukan survey di kab. Bandung. Beberapa Kecamatan yang kami periksa, kebanyakan di daerah Soreang, Pangalengan dan Ciwidey.

Fakta di lapangan yang saya temukan bahwa kerusakan bangunan rumah tinggal adalah banyak rumah yang hanya berupa rumah tembok. Dalam artian, rumah tanpa adanya kolom/rangka/tiang. Inilah kesalahan vital yang banyak terjadi di Indonesia dalam membangun rumah sederhana, terutama di daerah-daerah. Tanpa adanya kolom ini, bangunan rumah bagaikan susunan tumpukan bata yang ditempel oleh mortar. Digoyang dikit, hancur leburlah itu rumah. Saya menemukan banyak rumah yang masih berdiri, tapi jika kita pegang atau kita dorong dindingnya, maka goyanglah itu rumah.

Sebenarnya banyak rumah yang tidak layak huni untuk beban gempa di Indonesia. inilah, mungkin di daerah2 masih kurang penyuluhan, kurang informasi mengenai cara membangun rumah tinggal yang baik.

Ada satu hal yang menarik yang saya alami di lapangan. Rumah Panggung kayu lebih kuat dibandingkan rumah tembok. Sebagian besar, bahkan hampir semua rumah yang kami catat mengalami kerusakan akibat gempa adalah rumah tembok. Sedangkan rumah panggung kayu masih berdiri dengan kokoh (kecuali mungkin di daerah Pangalengan. Ada cerita tersendiri dari Pangalengan).

Kenapa bisa demikian..??

Pertama, rumah kayu relatif lebih ringan dibandingkan dengan rumah tembok. Sedangkan gaya gempa adalah fungsi dari massa bangunan (F=m.a). Rumah bata akan menerima beban relatif lebih besar daripada rumah kayu.

Kedua, Rumah kayu biasanya memiliki sambungan yang baik antar elemen strukturnya. Sedangkan rumah biasa (bata) biasanya memiliki sambungan antar balok dan kolom kurang baik, bahkan seperti yang saya bilang, rumah tanpa kolom, tanpa perkuatan struktur, hanya pasangan bata saja.

Ketiga, Sifat kayu relatif lebih elastis dibandingkan dengan bata dan campuran mortar. Bata dan campuran mortar lebih getas, sehingga begitu dapat beban, responnya langsung pecah, tidak seperti kayu yang masih bisa goyang2 dulu.

Wah, sebenernya budaya Indonesia juga sudah mengajarkan kita bangunan tahan gempa yah..??

Ada hal lain lagi yang saya temukan di lapangan. masalah kali ini adalah masalah data. Ternyata data awal (dari pemda) yang saya peroleh dengan data aktual yang saya dapat di lapangan adalah berbeda. Kebanyakan data yang ada di pemda itu jumlah bangunan yang rusak lebih banyak. Saya tidak bilang bahwa data tersebut di mark up atau apalah itu namanya. Tapi mungkin saja saat survey awal dengan verifikasi yang saya lakukan keadaannya sudah berbeda. Alasan pertama, mungkin banyak bangunan yang sudah diperbaiki sehingga jumlahnya berkurang saat saya verifikasi. Kedua, mungkin kriteria kerusakan (rusak berat, sedang, dan ringan) antara yang saya gunakan dengan surveyor sebelum saya adalah berbeda.

Hal lain yang saya dapatkan adalah ternyata masyarakat di beberapa desa sudah jenuh. Jenuh dengan yang namanya orang asing yang datang ke desa mereka. Karena ada anggapan di masyarakat kalo ada orang luar survey diasosiasikan dengan pemberi bantuan, sementara bantuan belum turun2 ke tangan mereka. Aduh, jadi serba salah juga sebenarnya saya survey kemaren ke desa2, karena asosiasi masyarakat pada kita yang survey pun adalah pemberi bantuan.

Older Posts »

Categories