Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi..
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri..

Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi..
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati..

Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi..
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari..

– Sapardi Djoko Damono –

What is Reality..??

In curved goldfish bowls. The measure’s sponsor explained the measure in part by saying that it is cruel to keep a fish in a bowl with curved sides because, gazing out, the fish would have a distorted view of reality. But how do we know we have the true, un-distorted picture of reality? Might not we ourselves also be inside some big goldfish bowl and have our vision distorted by an enormous lens? The goldfish’s picture of reality is different from ours, but can we be sure it is less real?

The goldfish view is not the same as our own, but goldfish could still formulate scientific laws governing the motion of the objects they observe outside their bowl. For example, due to the distortion, a freely moving object that we would observe to move in a straight line would be observed by the goldfish to move along a curved path. Nevertheless, the goldfish could formulate scientific laws from their distorted frame of reference that would always hold true and that would enable them to make predictions about the future motion of objects outside the bowl. Their laws would be more complicated than the laws in our frame, but simplicity is a matter of taste. If a goldfish formulated such a theory, we would have to admit the goldfish’s view as a valid picture of reality.

goldfish

According to model-dependent realism, it is pointless to ask whether a model is real, only whether it agrees with observation. If there are two models that both agree with observation, like the goldfish’s picture and ours, then one cannot say that one is more real than another. One can use whichever model is more convenient in the situation under consideration. For example, if one were inside the bowl, the goldfish’s picture would be useful, but for those outside, it would be very awkward to describe events from a distant galaxy in the frame of a bowl on earth, especially because the bowl would be moving as the earth orbits the sun and spins on its axis.

We make models in science, but we also make them in everyday life. Model-dependent realism applies not only to scientific models but also to the conscious and subconscious mental models we all create in order to interpret and understand the everyday world. There is no way to remove the observer—us—from our perception of the world, which is created through our sensory processing and through the way we think and reason. Our perception—and hence the observations upon which our theories are based—is not direct, but rather is shaped by a kind of lens, the interpretive structure of our human brains.

Model-dependent realism corresponds to the way we perceive objects. In vision, one’s brain receives a series of signals down the optic nerve. Those signals do not constitute the sort of image you would accept on your television. There is a blind spot where the optic nerve attaches to the retina, and the only part of your field of vision with good resolution is a narrow area of about 1 degree of visual angle around the retina’s center, an area the width of your thumb when held at arm’s length. And so the raw data sent to the brain are like a badly pixelated picture with a hole in it. Fortunately, the human brain processes that data, combining the input from both eyes, filling in gaps on the assumption that the visual properties of neighboring locations are similar and interpolating. Moreover, it reads a two-dimensional array of data from the retina and creates from it the impression of three-dimensional space. The brain, in other words, builds a mental picture or model.

The brain is so good at model building that if people are fitted with glasses that turn the images in their eyes upside down, their brains, after a time, change the model so that they again see things the right way up. If the glasses are then removed, they see the world upside down for a while, then again adapt. This shows that what one means when one says “I see a chair” is merely that one has used the light scattered by the chair to build a mental image or model of the chair. If the model is upside down, with luck one’s brain will correct it before one tries to sit on the chair.

Though realism may be a tempting viewpoint, as we’ll see later, what we know about modern physics makes it a difficult one to defend. For example, according to the principles of quantum physics, which is an accurate description of nature, a particle has neither a definite position nor a definite velocity unless and until those quantities are measured by an observer. It is therefore not correct to say that a measurement gives a certain result because the quantity being measured had that value at the time of the measurement. In fact, in some cases individual objects don’t even have an independent existence but rather exist only as part of an ensemble of many. And if a theory called the holographic principle proves correct, we and our four-dimensional world may be shadows on the boundary of a larger, five-dimensional space-time. In that case, our status in the universe is analogous to that of the goldfish.


The Grand Design – Stephen Hawking and Leonard Mlodinow

MANAJEMEN PROYEK

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan manajemen proyek, khususnya proyek itu sendiri..?? Menurut PMBOK,

“Proyek adalah sekumpulan atau sekelompok aktifitas yang dirancang untuk menghasilkan sebuah produk yang unik, layanan atau hasil.”

Manajemen proyek adalah penerapan pengetahuan, keterampilan, alat dan teknik untuk proyek kegiatan untuk memenuhi persyaratan proyek. Manajemen proyek dilakukan melalui aplikasi dan integrasi proses manajemen proyek dari inisiasi, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengendalian, dan penutup.”

Manajer proyek adalah orang yang bertanggung jawab untuk mencapai tujuan proyek.”

Aktivitas Utama Manajemen Proyek, dilakukan dengan :

  1. Identifikasi persyaratan proyek,kontrak dan spesifikasi proyek, regulasi pemerintah, persyaratan para pemangku kepentingan yang relevan.
  2. Menata dan memelihara komunikasi yang aktif efektif dan kolaboratif antar pemangku kepentingan.
  3. Mengelola tim proyek dan pemangku kepentingan lain untuk mencapai memenuhi persyaratan kualitas membuat deliverable proyek.
  4. Menyeimbangkan berbagai batasan proyek, terutama Kualitas (Quality), Jadwal (Schedule), Biaya (Cost)

Siklus hidup sistem (system life cycle – SLC) adalah proses evolusioner yang diikuti dalam menerapkan sistem atau subsistem informasi berbasis computer.

Secara singkat Manajemen proyek itu sendiri terbagi menjadi kedalam 5 fase, antara lain :

  1. Inisiasi (Initiating), Otorisasi dan penugasan kepada tim proyek
  2. Perencanaan (Planning), Menyatakan lingkup kerja proyek (scope of work), merinci tujuan proyek (quality objective) dan baseline proyek, menyusun rencana (project execution plan) dan prosedur proyek, melakukan sosialisasi rencana dan prosuder proyek.
  3. Eksekusi (Executing), Pelaksanaan rencana proyek dengan mengelola orang dan sumber daya lainnya, pengelolaan harapan pemangku kepentingan, pelaksanaan dan integrasi aktivitas.
  4. Pengendalian (Controlling), Pengukuran dan umpan balik untuk perbaikan kedepan.
  5. Penutupan (Closing), Penyelesaian serah terima dan penutupan administrasi proyek.

project

Auralluvia Maheswari Aryaputri

Aura = Cahaya

Lluvia = Hujan

Maheswari = Bidadari

Bidadari yang bercahaya saat hujan.. Hujan itu pemberi kehidupan, hujan itu memberikan kesejukan bagi sekitar nya, hujan itu memberikan rasa tentram, cahaya itu pemberi jalan saat gelap, cahaya itu menjadi sumber harapan, cahaya itu indah, cahaya itu menerangi dunia, bidadari itu suci, murni, bersih, indah.

Tentang Terorisme

Saya mencoba untuk menulis tulisan ini memang dilatarbelakangi oleh kejadian pemboman tanggal 14 Januari 2016 di jalan M. H. Thamrin, Jakarta, Indonesia. Saya tidak akan membahas mengenai aktor dibalik serangan itu siapa, motif nya apa, sasaran nya siapa. Namun, saya akan mencoba membahas mengenai terorisme itu apa secara umum.

Terorisme, secara etimologi berasal dari kata teror, yang artinya (dari Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Selain itu, masih banyak yang mendefinisikan apa itu teror atau terorisme. Misalnya Rex A. Hudson, dalam bukunya yang berjudul The Sociology And Psychology of Terorism : Who Becomes A Terrorist And Why? (1999), mendefinisikan terorisme sebagai kekerasan terencana, bermotivasi politik, ditujukan terhadap target-target yang tidak bersenjata oleh kelompok-kelompok atau agen-agen bawah tanah, biasanya bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat. Atau bisa kita lihat pengertian A. M. Hendropriyono dalam bukunya Terorisme : Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam (2009), menyebutkan bahwa terorisme merupakan penggunaan atau ancaman penggunaan kekerasan, yang bertujuan untuk mencapai terjadinya perubahan politik.  Masih banyak lagi definisi lain mengenai terorisme ini, namun pada pengertian nya selalu ada unsur kekerasan, tujuan, kelompok/golongan, dan banyak juga yang menyebutkan kata kunci politik.

blog_terror_wordcloud

Dalam sejarahnya, terorisme sudah ditemukan pada masa Yunani kuno (350 SM), revolusi Prancis (1789), Perang Saudara Amerika (1891), dan masih banyak lagi. Namun terorisme modern dimulai pasca perang dunia I. Pasca perang dunia I, terorisme digunakan sebagai alat untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh dalam pemerintahan. Hal ini terjadi hampir di seluruh bagian dunia pada masa itu.

Jadi memang jika dirunut dari sejarahnya, terorisme ini erat kaitan nya dengan dunia politik di satu negara atau kawasan. Terorisme ini biasanya diciptakan untuk membuat ketidak-stabilan politik, untuk apa..?? kebanyakan untuk kekuasaan. Jadi sebetulnya sasaran terorisme sendiri bukan masyarakatnya, tapi rezim politik yang sedang berkuasa di satu kawasan. Masyarakat hanya digunakan sebagai ekses untuk menciptakan kekacauan. Jika masyarakat nya sudah kacau/chaos, stabilitas negara akan sulit untuk dijaga. Akan terjadi kekacauan di berbagai bidang kehidupan, sehingga pada akhirnya diharapkan rezim politik yang menjadi sasaran akan tumbang, atau minimal teralihkan perhatian nya akibat efek domino ketidak-stabilan politik.

Selain erat kaitannya dengan tindak kekerasan dan politik, terorisme juga sangat erat kaitannya dengan media. Kenapa media..?? mari coba kita lihat peran media dalam terorisme ini. Hudson (1999) menyebutkan lagi dalam bukunya bahwa media ini sangat penting peran nya bagi kelompok teroris. Kenapa..?? karena sebetulnya yang menyebarkan teror itu sebetulnya adalah media. Teroris itu hanyalah aktor yang bermain di lapangan. Sisanya, media yang menyebarkan kejadian kekerasan itu kepada masyarakat, sehingga muncul ketakutan di masyarakat. Selain itu, media juga dalam pemberitaan nya bisa menjadi referensi bagi para calon teroris untuk belajar mengenai metode/cara, situasi, tujuan, dan lain sebagainya.

Tidak menyalahkan media, namun pada kenyataanya media dapat dijadikan alat untuk memuluskan tujuan terorisme. Mari kita lihat contoh kasus kemarin tanggal 14 Januari 2016 di Thamrin, jakarta. Kejadian pemboman dan penembakan sekitar pukul 10 WIB hanya terjadi di Thamrin. Tapi melalui media, internet, dan pesan singkat, ledakan juga terjadi di Palmerah, Kuningan, Cikini, Slipi, Alam Sutera, dan tempat lainnya. Dalam berita lainnya, disebutkan juga ada teroris yang kabur membawa motor trail, membawa senapa laras panjang berkeliaran menuju ke arah Semanggi, serta berbagai berita viral lainnya.

Nah, bisa dilihat kan sekarang..?? mana sebetulnya yang menyebarkan teror itu. Pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta pun bisa menjadi teror, dan membantu pihak teroris untuk memuluskan tujuan nya, menimbulkan ketakutan di masyarakat. Jika pesan berantai yang belum dikonfirmasi kebenaran nya kita sebarkan lewat media komunikasi pun, bisa menjadikan kita disebut teroris. Karena memang kita menebar ancaman/situasi yang membuat resah ke orang lain.

cyber-terror-l

Kembali kepada pembahasan teroris secara umum. Kenapa harus islam yang sering disudutkan..?? kenapa tidak agama lain..?? Sama seperti Media, Agama juga ternyata dijadikan alat jitu teroris untuk mencapai tujuan nya. Sudah lama sekali perbedaan keyakinan dengan membawa agama menjadi sumber konflik. Nah, kondisi inilah yang dimanfaatkan pihak teroris. Lalu kenapa islam..?? kebetulan sekali, dalam islam itu mengenal dan populer sekali konsepsi jihad.

Jadi orang islam tidak boleh jihad..?? jihad itu kan kewajiban.. Bukan, kita bukan tidak boleh jihad. Namun kata Jihad ini yang menjadi senjata utama para teroris untuk menarik para relawan nya. Teroris itu membutuhkan massa, membutuhkan sumber daya manusia. Dari sinilah mereka banyak mendapatkan pengikutnya. Yang salah itu bukan ajaran islam, bukan jihadnya, namun pengertian jihad yang diputar balikkan pemahaman nya oleh para aktor intelektual teroris untuk mendapatkan banyak pengikut.

Saya pernah mengikuti kuliah umum mengenai terorisme ini yang dibawakan oleh seseorang dari polda metro jaya. Beliau bercerita mengenai salah satu cara bagaimana kelompok teroris itu biasa mendapatkan pengikutnya. Dalam sebuah rumah tahanan, para napi itu berasal dari berbagai latar belakang dan berbagai motif kejahatan, salah satunya teroris. Dalam rumah tahanan itu ada waktunya semua napi dilepaskan dari sel mereka untuk bersosialisasi dengan tahanan lain, namun masih dalam lingkungan Rutan.

Pada kesempatan sosialisasi ini, para napi biasanya bertukar cerita bagaimana mereka dulu, hal apa saya yang mereka pernah lakukan, bagaimana rencana kedepan setelah habis masa hukuman, dan lain sebagai nya. Jika kebetulan para napi ini bertemu dengan aktor intelektual teroris di dalam rutan (biasanya berkedok sebagai orang yang pintar agama), napi ini bisa dicuci otaknya oleh aktor tersebut. Secara psikologis, orang yang bersalah dan sedang menerima hukuman kebanyakan akan memiliki niatan untuk bertobat. Jika kebetulan menemukan “guru spiritual” berupa aktor intelek teroris, dalam perjalanan nya bertobat di dalam rutan, maka niatan tobat para napi itu akan sia-sia.

Aktor intelek ini pada awalnya bisa menjadi guru bagi para napi dengan mengajarkan agama pada mereka. Namun pada perjalanan nya, banyak dari ajaran agama itu yang dibelokkan maknanya, terutama konsepsi mengenai jihad. Jihad dalam ajaran aktor ini adalah melakukan perang terhadap kaum kafir yang tidak sepaham dengan ajaran agamanya. Jika kita mati dalam perjalanan melakukan jihad, maka akan dijanjikan surga dan 72 bidadari dari Tuhan. Nah, kira-kira ajaran seperti itu yang akan diputar balikkan oleh si aktor ini.

Secara etimologi sendiri, jihad berasal dari kata kerja jahada yang artinya mengerahkan segala upaya dan kemampuan. Namun pada perkembangan kehidupan masyarakat islam, pengertian jihad itu mengalami perluasan menurut ruang dan waktu. Perang hanya salah satu definisi dari jihad. Definisi jihad secara syariat yang paling komperehensif diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Jihad adalah mengerahkan segala upaya demi mencapai kebenaran yang diinginkan. Mencapai kebenaran yang diinginkan ini adalah dengan cara menolak hal-hal yang berkaitan dengan kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Nah, yang menjadi bias adalah masalah bagaimana caranya jihad itu, ada bisa didefinisikan dengan perang, namun juga bisa didefinisikan dengan hal lain, misalnya dengan perkataan, perbuatan lain, dan hal lain nya. Pada dasarnya adalah menolak hal-hal negatif.

children-of-the-damned-the-children

Kembali pada topik terorisme. Jadi dari situlah salah satu cara terorisme ini mendapatkan banyak pengikut, dengan cara memutar balikkan ajaran agama, terutama islam. Orang-orang islam yang pemahaman islam nya masih belum terlalu bagus, rentan sekali dicuci otaknya. Pun, bisa kita lihat, orang-orang atau individu yang tergabung dalam kelompok teroris ini sebagian besar adalah dari kalangan pengangguran, individu yang terasing dari lingkungan sekitarnya, ataupun dikucilkan dari masyarakat sekitarnya.

Jadi, memang agama ini dijadikan alat untuk mencapai tujuan terorisme, yaitu menciptakan chaos. Jika diambil logisnya saja, meskipun pada beberapa kasus, ajaran agama itu ada yang tidak bisa diambil logisnya, tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan ketidaktentraman hidup. Semua agama pasti mengajarkan bagaimana caranya individu atau kelompok mencapai yang namanya kententraman, kesempurnaan, dan kedamaian. Jika agama yang mengajarkan ketidaktentraman, itu namanya bukan agama.

Terorisme abad 20 dewasa ini, dimulai dari kejadian WTC di Amerika, sudah lebih terorganisir secara internasional. Teroris sudah lebih berani untuk mengambil banyak korban dari kalangan rakyat sipil, ditambah adanya isu komersialisasi teroris. Apa itu komersialisasi teroris? Ada kecenderungan bahwa teroris dewasa ini bukan bekerja untuk kepentingan sendiri, namun bisa dibayar sesuai dengan kebutuhan suatu golongan, namun tetap untuk suatu agenda politik tertentu.

Sekarang sangat wajar jika orang berfikiran, bila ada sebuah aksi terorisme, dibelakangnya akan ada agenda politik yang dialihkan perhatian nya dari masyarakat. Seperti kejadian bom Thamrin 2016 dikaitkan dengan kontrak Freeport, kasus korupsi Jero Wacik, atau politisi PDIP yang tertangkap tangan. Saya tidak akan menjudge motif dibalik peristiwa Thamrin, namun akan ada opini seperti demikian di masyarakat.ICON-ORGANISASI

Jadi intinya, bahwa terorisme itu adalah sebuah kegiatan, acak atau terorganisir, untuk menciptakan rasa tidak nyaman dan aman pada kehidupan masyarakat. Bisa dibilang, terorisme itu adalah gerakan anti-society, apapun itu bentuknya. Bisa berupa penyerangan secara fisik, atau menyerang pola pikir masyarakat. Dilakukan untuk mencapai satu tujuan tertentu.

===================================================================================

*Dari berbagai sumber dan pemikiran sendiri

EGO

Setiap orang memiliki keinginan, setiap orang memiliki nafsu untuk memiliki sesuatu, baik yang sifatnya lahir atau batin. Keinginan dari dalam diri sendiri ini yang biasa kita dengar dengan sebutan ego. Sudah banyak yang mendefinisikan arti kata ego, dan dari banyak definisi tadi, kita akan banyak menemui kata AKU. Ego itu adalah konsepsi mengenai diri sendiri.

Pada fitrahnya manusia dibekali yang namanya hawa nafsu oleh Tuhan, dan dari nafsu itulah ego pada setiap diri manusia berasal. Jadi, sudah menjadi fitrah manusia memiliki yang namanya ego.

Ego sendiri akan erat hubungan nya dengan kata “Aku ingin …”. Manusia itu butuh yang namanya peng-AKU-an, butuh yang namanya aktualisasi diri, dan itu sudah menjadi kebutuhan primer manusia secara batin. Ego akan terbawa kemanapun seseorang berada dan melangkah.

me-myself-and-i

Ego fokus pada kepentingan diri sendiri, jadi dengan ego lah manusia bisa memenuhi kebutuhan akan dirinya sendiri. Namun akan menjadi hal yang menarik jika ego pribadi ini bertemu dengan ego manusia lain di sekitar kita.

Sudah menjadi fitrah pula jika manusia juga menjadi makhluk sosial yang hidup dengan sesama manusia lain nya di dunia ini. Disinilah yang menjadi benturan dari ego pribadi. Setiap individu akan membawa ego nya masing-masing, dan ego nya itu akan beririsan atau berbenturan dengan ego individu lain.

Akan menjadi masalah jika setiap orang membawa ego nya masing-masing dan tidak peduli dengan ego orang lain. Orang yang terlalu kuat memegang ego pribadinya akan bersikap tidak peduli akan realita di sekitarnya, tidak bisa menerima kenyataan bahwa apa yang dia inginkan tidak akan selalu berjalan sesuai dengan keinginan nya. Dia hanya akan peduli dengan sudut pandang, persepsi, dan konsepsi dirinya sendiri.

Orang lain akan sulit berkomunikasi dengan orang semacam ini, karena orang dengan ego tinggi akan sulit menerima perbedaan. Keinginan nya adalah dia bertahan dengan persepsi dia, dan orang lain harus tunduk, patuh, dan mengikuti persepsi dia tersebut.

Teenagers-at-Starbucks-The-Anti-Social-Media

Disinilah pentinganya pengendalian ego pribadi, atau mungkin pernah kita dengar dengan sebutan pengendalian diri. Kita harus menyadari jika kita ini hidup dalam sebuah tatanan sosial masyarakat, tidak hidup sendiri. Hidup kita juga berkaitan, dan bergantung pada orang lain, tidak bisa kita hidup sebagai individu tunggal.

Dari situlah seharusnya muncul rasa toleransi terhadap orang lain. Kita harus bisa menerima, jika kita tidak bisa memiliki dan mewujudkan semua apa yang kita inginkan. Jika kita tetap teguh dengan ego kita, biasanya orang lain akan menilai kita sebagai orang egois, individualis, anti-sosial, tidak bisa hidup dalam realita, hidup dalam imajinasi dan keinginan nya.

humble-beginings

Ego itu bisa dikendalikan, bisa dilatih supaya tidak sepenuhnya menguasai diri kita. Karena jika ego sudah mengendalikan emosi, kita akan terbutakan dengan realita, hidup dalam angan-angan sendiri. Kemampuan mengendalikan ego ini biasanya kita dengar sebagai kecerdasan emosional (Emotional Quotient / EQ).

Salah satu bentuk pengendalian ego adalah dengan cara rendah hati. Bagaimanakah bentuknya..?? Kita jauhkan diri kita dari berbagai keinginan, karena biasanya ego berbentuk sebuah keinginan untuk memiliki. Bukan artinya kita tidak boleh memiliki segala apa yang kita inginkan, tapi kita harus tahu porsi dan tahu waktu. Kita harus pandai menilai situasi yang ada di sekitar kita, barulah dari situ kita bisa menentukan kita akan bersikap seperti apa nantinya.

Ego itu biasanya mendefinisikan sesuatu sebagai MENANG dan KALAH. Kita harus jauhi pandangan seperti itu, mengapa..?? kita tidak bisa seterusnya menjadi pemenang, dan pada fitrahnya kita tidak mau berada dalam posisi kalah. Persepsi mengenai menang dan kalah inilah yang selalu menghantui kita. Pernah dengar kata-kata “Mengalah bukan berarti kalah“..?? Kita harus bisa menerima jika kehidupan ini berputar seperti roda, tidak selamanya kita bisa berada di atas dan selama nya di bawah. Tuhan menciptakan segala sesuatu berlawanan itu supaya kita bisa mengambil pelajaran dari kedua sesuatu yang berlawanan itu. Ada baik ada jahat, ada atas ada bawah, ada kiri ada kanan, ada depan ada belakang. Dan dari setiap sesuatu yang berlawanan ini, kita akan mengalaminya dalam yang namanya kehidupan.

Kita juga harus mengubah persepsi mengenai BENAR. Benar itu terkadang relatif terhadap sudut pandang orang, sehingga kita juga tidak bisa memposisikan kita sebagai individu yang selalu BENAR, dan individu lain salah, karena berbeda persepsi mengenai kebenaran. Kebenaran mutlak itu hanya datang dari Tuhan, dan kita hidup untuk mencari dan mengikuti kebenaran itu. Tapi sebagai manusia, kita tidak bisa men-judge orang lain itu benar atau salah, karena judgement itu sendiri datangnya dari persepsi pribadi kita. Setiap individu memiliki persepsinya masing-masing, sehingga definisi kebenaran itu menjadi relatif.

Setiap individu pasti hidup dengan sebuah prinsip, atau paham yang dia pegang untuk menjalani hidupnya. Prinsip hidup inilah yang biasanya menjadikan ego menjadi tinggi. Tidak salah menjadi orang yang berpegang teguh pada prinsip pribadinya, namun yang bermasalah saat prinsip hidup nya itu ternyata tidak sesuai atau tidak bisa beradaptasi dengan masyarakat. Kita tidak tahu apakah prinsip yang kita pegang selama ini benar atau salah. Kembali lagi ke konsepsi mengenai benar salah sebelumnya.

pasir-hitam-620x264

Coba kita ambil pasir dengan kita, satu di tangan kiri, satu di kanan. Kemudian genggam dengan erat pasir yang ada di tangan kanan kita, dan biarkan pasir yang ada di tangan kiri kita. apa yang terjadi..??

Pasir di tangan kanan sebagian akan jatuh tercecer, memadat, mengeras, dan jumlah yang ada di genggaman kita semakin sedikit. Tangan kita menggenggam, sehingga sulit untuk jika kita ingin menambahkan pasir di tangan kita.

Lalu bagaimana pasir yang ada di tangan kiri kita..?? jumlahnya lebih banyak dari yang ada di tangan kanan, dan masih bisa bergulir bebas, tidak memadat. Karena telapak tangan tetap terbuka, kita masih bisa menampung beberapa jumlah pasir lagi ke atas telapak tangan kita hingga penuh dengan sendirinya.

Sama dengan prinsip, semakin kita memegang erat prinsip dan tidak mengindahkan realita di sekitar kita, pandangan hidup akan semakin sedikit, sempit, keras, tidak bisa bergerak dengan bebas. Namun jika kita membiarkan prinsip itu begerak bebas, pikiran kita akan lebih terbuka dan lebih bisa menerima realita dan perbedaan yang ada disekitar kita.

ego einstein

Lalu, bagaimana dengan passion terhadap hidup jika kita tidak egois..?? Passion timbul dari motivasi, bukan ego. Motivasi berbeda dengan ego. Jika ego memuat nafsu untuk memiliki atau mencapai sesuatu, motivasi lebih didorong oleh adanya alasan untuk memiliki atau mencapai sesuatu. Ego itu tidak berasalan hanya berdasarkan nafsu dari dalam diri, sedangkan motivasi bisa berasal dari luar diri kita, dari lingkungan sekitar kita.

Jangan biarkan ego menguasai pola pikir dan kepribadian kita, niscaya kita akan menjadi individu yang tidak bisa menerima kenyataan dengan pemikiran sempit yang hanya mementingkan diri sendiri. Jika hal itu sudah terjadi, siapkan diri kita menjadi individu yang anti-sosial. Memang tidak mudah untuk berdamai dengan ego kita sendiri, namun apa yang ada di dalam diri kita hanya kita dan Tuhan yang paling tahu. Kita adalah pilot bagi diri kita sendiri, kita yang menentukan kita ini akan menjadi seperti apa, bukan ego yang menentukan.

– Dari pemikiran pribadi, berbagai sumber pengalaman, dan literatur –